A directory

Backpackeran ke Kuala Lumpur, Ngapain aja?

1 komentar


     


Tak selalu, sesuatu yang tidak direncanakan berakhir dengan buruk dan sesuatu yang sudah direncanakan akan membuahkan keberhasilan. Begitulah, setelah keseruan 3 hari backpackeran di Tawau Malaysia Timur, kini saatnya melakukan backpackeran ke Kuala Lumpur.

Dulu aku pernah punya rencana, kami (aku dan bungsuku) akan melanjutkan backpacker ke Kinabalu dan Brunei setelah dari Tawau. Homeschooling ini, salah satu cara belajarnya ya jalan-jalan. Berdasarkan rekomendasi teman-teman di Nunukan, Keke sebutan singkat Kinabalu lebih banyak tempat-tempat yang bisa dikunjungi dibandingkan Tawau.

Sayangnya, di tahun rencana itu akan direalisasikan covid 19 datang menyerang. Status pandemi dan lockdown sampai batas waktu yang tak ditentukan. Apalagi Malaysia, ketat banget menerapkan aturan lockdown ini. Maka rencana itu hanya sebaris kalimat yang tertuang dalam buku jurnal sampai akhirnya kami pindah dari Nunukan ke Samarinda.

Tawaran Backpacker ke Kuala Lumpur yang Menggoda


Siang itu, selepas dhuhur aku leyeh-leyeh lah seperti biasa apalagi hari libur. Saat membuka whatsapp group blok N tempat kami tinggal, ada pesan dari tetangga, ajakan jalan ke Kuala Lumpur. 

Backpackeran ke Kuala Lumpur: Ada yang mau gabung trip ke negeri tetangga Kuala Lumpur tgl 28-31 Mei 2,5 jt (pesawat pp+hotel 3 malam) start Balikpapan yach
Wa.me/+628000000123 ( nomor disamarkan). "

"Ih murah nih, " seruku seraya menunjukkan tawaran ini ke pak suami.
"Iya, murah. Sana gih jalan, " dukungnya.

Sayang, pasporku habis masa berlakunya Desember kemarin. Padahal bulan lalu pak suami sudah nawarin memperpanjang paspor kolektif di kantornya dan aku tolak karena nggak ada rencana kemana-mana.

Gercep Paksu mendaftarkan pembuatan paspor di kantor. Berhubung belum ada kejelasan kapan ambil foto akhirnya kubatalkan saja. Aku urus mandiri Senin keesokan harinya di Kantor Imigrasi. Setelah menghubungi tetangga dan menyatakan kesediaan ikut, malam itu juga langsung daftar online. Meski beberapa jam berlalu tanpa hasil karena ada gangguan sistem di Imigrasi, hingga larut malam baru bisa verified. Paginya meluncur ke kanim untuk foto. Alhamdulillah proses gampang, cepat, dan lancar. Hari Kamis paspor sudah jadi. Sat set bayar sekaligus 2 pak karena bungsu akan ikut serta.

Dari Samarinda menuju Kuala Lumpur


Start dari Balikpapan yang memang sudah dibuka jalur penerbangan langsung ke Kuala Lumpur, jadi kami harus ke Balikpapan dulu. Pukul 07.30 dari Samarinda menuju Balikpapan berlima, dengan taksi carteran. Samarinda - Balikpapan tak sampai 2 jam sejak ada tol ini. Pukul 9 lebih sedikit sudah sampai bandara, meski di perjalanan disambut hujan deras sejak dari jembatan Manggar.

Setelah sarapan, masuk pengesahan Imigrasi dan cuss naik pesawat. Perjalanan Balikpapan - Kuala Lumpur dengan pesawat Air Asia membutuhkan waktu 2 jam 50 menit. Kali ini tiba di bandara Kuala Lumpur lebih cepat 30 menit. Setelahnya menghadapi pemeriksaan Imigrasi yang panjang, sama panjangnya dengan keimigrasian umroh, bedanya lebih cepat ini sih. Entah mengapa pemeriksaan Imigrasi ketika umroh itu lelet banget.

Dari Bandara ke KL Sentral


Mendarat dengan mulus Kuala Lumpur International Airports atau KLIA2, yang penuh dengan pesawat Air Asia. Iyalah, Air asia ngumpulnya di KLIA2. Bandara yang terletak kurang lebih 45 km dari pusat kota KL ini bisa ditempuh dengan beberapa alternatif moda transportasi ke KL Sentral.
  • Kereta Api atau KLIA ekspres dengan tarif sekitar 7 RM
  • Bus bandara dengan tarif 40 RM
  • Mobil pribadi
  • Taxi online dengan kisaran tarif 75-150 RM
Kalau backpacker ke Kuala Lumpur, sebenarnya naik kereta api lebih worth it, bus bandara juga lumayan berhubung masih cupu sebagai backpacker pemula keder juga melihat suasana bandara yang belum familiar ini. Apalagi harus angkat-angkat travel bag ke stasiun kereta atau pool bus. Akhirnya kami memutuskan naik taxi online saja. Alhamdulillah meski sempat diminta cancel pesanan pertama, karena driver keberatan akhirnya dapat juga taxi berikutnya dengan driver yang baik. Tarifnya pun lumayan, 75 RM. Nggak mahal juga kalau dibagi berlima.

Keseruan 7 Destinasi Pertama di Kuala Lumpur


Sebagai backpacker tanpa rencana tentu saja semua dilakukan on the spot. Sampai bandara, baru diputuskan naik moda apa ke pusat kota. Lumayan juga efforts mendapatkan taxi online ini, harus turun di area khusus taxi online dan menunggu beberapa lama sampai pesanan datang.

Begitu juga dengan spot - spot yang akan kami kunjungi nanti, tanpa rundown, semua diputuskan hari per hari. Sembari menuju hotel, kami diskusi akan kemana setelah sampai hotel nanti. Tentu saja, check in dulu, naruh tas, solat jamak dan go to raun-raun seputar hotel dulu.

Menikmati senja di Kampung Baru


Kami mendapat penginapan yang lumayan strategis di kawasan Chowkit. Selain mendapat pemandangan berlatar menara kembar, kawasan ini juga ramai dengan kedai makan yang berdampingan dengan Buwdle ( baca bandel) lapak yang menjual baju bekas atau thrifting.

Berhubung perut sudah keroncongan tanpa makan siang, syukurnya sarapan di Bandara Balikpapan yang agak telat tapi beneran dikenyangkan jadi masih bisa bertahan hingga sore ini. Maka usai sholat ashar kami jalan kaki menyusuri lorong Haji Hussein, lalu belok ke Jalan Raja Bot, belok lagi ke Jalan Raja Abdullah menuju food street Kampung Baru, destinasi pertama yang paling dekat dengan tempat menginap. Sore yang cerah, udara nyaman dan jalanan yang ramai namun tertib.

Deretan kedai makanan begitu menggoda, apalagi perut pas lapar sangat. Akhirnya restoran nasi lemak Wanjo jadi pilihan. Ramai sekali sore ini, kabarnya restoran ini memang selalu ramai. Sudah viral banget nasi lemak di resto ini. Menunya enak, harganya pun terjangkau. Ada banyak pilihan lauk pendamping nasi lemak nan gurih. Begitu juga dengan pilihan minumannya

Keluar dari Wanjo malam merambat menuju gelap saja. Azhan Maghrib pun berkumandang dari Masjid Jami' Kampung Baru. Mampir sejenak di rumah degil, salah satu rumah tradisional yang masih bertahan di tengah bangunan pencakar langit kota Kuala Lumpur. Barangkali itulah sebab dinamakan rumah degil, rumah yang kuat bertahan ditengah gempuran bangunan metropolitan.

Dalam perjalanan menuju penginapan, kami disuguhi nuansa malam yang eksotik. Lampu-lampu jalanan sepanjang lorong kampung baru, kedai-kedai makanan nan beraroma umami dan si kembar di kejauhan sedang bersinar menawan. Wow momen yang sayang untuk dilewatkan. Saatnya foto-foto bareng si kembar yang bertabur lampu malam.

Menikmati si kembar dari Malaysia Tourism Center (Matic)


Di hari kedua setelah menikmati sarapan di kedai makcik samping hotel nan ramah dan lezat menunya, kami menuju jalan menara kembar. Dengan menjajal monorel rute Chowkit - Bukit Nanas yang tarifnya sangat terjangkau. Turun di Bukit Nanas lalu menyusuri jalan Ampang, mampir di Malaysia Tourism Center (Matic) , bukan mampir sebenarnya karena kami cukup lama berada di tempat ini. Ada beberapa destinasi yang bisa dinikmati di sini. 

Harriston Boutique:
Toko coklat yang menjual coklat kualitas terbaik di Malaysia.
Karyaneka:
Malaysia handicraft and Souvenir shop dengan kain-kain batik Malaysia yang memikat mata, hampir saja memborong kalau nggak ingat masih ada waktu belajar di hari berikutnya. 

Bangunan Matic:
Bangunan yang khas, gaya kolonial sayang untuk tidak dinikmati. Gedung peninggalan pemerintahan Inggris ini dibangun pada tahun 1935, dan saat ini digunakan sebagai pusat pariwisata Malaysia. Pada waktu-waktu tertentu digunakan untuk acara seni,budaya, dan persembahan lainnya. Dari tempat ini, si kembar juga tampak cantik lho, jadi spot foto yang keren juga dengan latar menara kembarnya.

Menikmati Nasi Kandar dan ABC


Nasi kandar, terbayang nggak nasi apaan? Banyaknya kedai-kedai nasi kandar tentu saja membuat penasaran ingin mencicipinya. Pas banget sejalur dengan movit ada kedai nasi kandar pelita yang cukup ramai. Kata teman kami, kedai ini memang terkenal bahkan biasanya hanya setengah hari saja,karena cepat habis. Kalau ingin menikmati nasi kandar juga harus pilih-pilih kedainya, pastikan ada label halal dan muslim yang punya.

Lha emang apaan sih nasi Kandar itu. Ya Nasi dengan lauk kari gitu aja sih. Karena awal mulanya dijual dengan dipikul. Tapi penjualnya rata-rata orang keturunan India. Nah titik kritisnya, keturunan India ini ada yang muslim dan ada yang non muslim.

Siang yang terik setelah puas berpanas-panas berburu spot foto di depan Matic, haus pun melanda. Minum ABC enak juga ya… eit ABC itu buka sirup ABC lho tapi singkatan dari es batu campur. Apa lagi nih? Kalau di Indonesia ya es campur. Setelah. Memesan nasi kandar, roti canai tak lupa dia gelas ABC yang tingginya melewati gelas terhidang dan sluuup tandas semua.

Mengunjungi si Kembar, Petronas


"Bun ini bangunan yang gambarnya ada di kaosku kan? " tanya di bungsu.
Dulu sewaktu usia 5 tahun pernah dapat oleh-oleh baju bergambar menara Petronas dari seseorang. Lalu kesukaannya menonton Upin Ipin dan Bobo boy, pernah membuatnya bermimpi bisa berkunjung ke Malaysia.

Akhirnya kami bisa memasuki bangunan menara kembar ini. Selain pusat perdagangan x kantor di Kuala Lumpur Convention Center ( KLCC) ini juga ada destinasi wisata, naik puncak menara atau ke Aquaria. Aku sudah menawarkan kepada bungsuku salah satunya. Namun, mendengar harga tiket masuknya membuat bungsuku mengelengkan kepala.

"Nggak usah aja Bun, daripada buat masuk menara atau aquaria mending buat beli oleh-oleh aja. Aku pengen beli kaos bergambar menara kembar buat temanku. "

Good boy, rupanya dengan budget kami yang terbatas ia cukup bijaksana memilih. Dulu pernah mendapatkan oleh-oleh kaos bergambar menara kembar, sekarang ia ingin memberi yang sama kepada teman-temannya.

"Baiklah, tapi belinya nggak di sini Dek. Mahal. " Kami pun tertawa.

Setelah puas, meski tak mengelilingi seluruh bagian, kami akan menuju destinasi selajutnya.

Pameran buku Kuala Lumpur


Ternyata tempat ini lebih menarik daripada mall di Petronas. Tanant dan gerai buku memenuhi seluruh area mall yang berlantai 5 ini. Penulis dan penerbitan berkumpul jadi satu. Buku-buku Indonesia juga ada lho. Ada keseruan yang lain saat bertemu dengan para penulis dan penyair Malaysia. Nanti ada bagian khusus deh ini.

Batu Caves, senja di batas kota


Tak lengkap rasanya kalau ke Malaysia tak mengunjungi tempat ini. Meski orang Malaysia sendiri terutama yang muslim ogah diajak ke sini. Tapi demi menuntaskan rasa penasaran, akhirnya aku sepakat mengunjungi tempat ini. Batu Caves terletak 15 kilometer dari Kuala Lumpur, tepatnya di Gombak Selangor. Berada di antara kota Kuala Lumpur dan kota Genting. Batu Caves adalah perbukitan kapur dengan goa diantaranya. Yang ikonik dari tempat ini adalah patung setinggi 40 an meter. Tempat ini dikenal sebagai tempat peribadatan pemeluk Hindu di Malaysia.

So far, bagiku tak menarik, selain kotor juga banyak monyet. Bungsuku sih enjoy, menikmati tingkah para monyet bahkan sampai dia dikejar-kejar salah satu monyet. Aku lebih menikmati aneka jajanan di kedai yang menjual manisan. Aha ini lho manisan yang sering ada di film India itu. Tapi aku tak tertarik membelinya, bayangan kejorokan tempat itu membuatku tak tega memakan makanan apapun di sini. Selain manisan, tangan terampil para menyulam rangkaian bunga juga menarik. Kalau di film-film India ada bunga yang dikalungkan, di sini bisa melihat secara langsung gimana membuat rangkaian kalungan bunga.

Senja jatuh di batas kota ini. Setelah gagal naik KRL menuju Kuala Lumpur karena sudah ketinggalan dan baru ada lagi di malam hari. Kemudian menimbang harga grab lebih murah akhirnya kami memutuskan naik grab saja. Selagi jalan menuju tempat pemesanan grab, menikmati senja yang mulai turun di sepanjang jalan bertabur aneka bunga milik penjual bunga, romantis juga. Mawar, aneka warna krisan, melati, melepas kami kembali ke pusat kota.

Bukit Bintang, tersesat di malam hari


Saat kembali kami tersesat di Bukit Bintang. Rencana mau belajar di seputar Bukit Bintang, salah memilih tempat berhenti jadi malah nggak nemu toko yang kami tuju. Dan memang suasan Bukit Bintang ramai sekali di malam hari.
Tami Asyifa
Seorang ibu dengan 7 anak, saat ini sedang menikmati menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya tapi tetap produktif. Pendidikan dan literasi adalah bidang yang menarik baginya.

Related Posts

1 komentar

  1. Ya ampuuunn, pengen banget kek gini, traveling ga sama anak.

    Tapi keknya saya belum bisa, karena nggak ada tempat mendelegasikan anak-anak 😅

    BalasHapus

Posting Komentar