A directory

Saatnya Memilih Lanjut Homeschooling atau Sekolah Formal

 

   


Jika di linimasa ramai khabar wisuda wisudi anak sekolah dari berbagai jenjang sekolah formal dan raut bahagia orangtua di tengah acara- acara pelepasan sekolah untuk melanjutkan ke jenjang berikutnya, kami pelaku homeschooling (HS) pun merasakan hal yang sama. Meski tanpa wisuda atau seremonial perpisahan sekolah, selepas homeschooling menjadi momen penting untuk langkah berikutnya, saatnya memilih lanjut homeschooling atau masuk sekolah formal?

Sebelum ke arah itu, setidaknya perasaan lega setelah bertahun menjalani proses homeschooling ini patut dinikmati. Lega karena satu per satu tahapan dilalui setelah proses panjang selama bertahun-tahun. Bungsu adalah satu-satunya anak kami yang sampai usia 13 tahun ini tidak merasakan duduk di bangku sekolah formal. Bukan berarti, kami menjalankan HS selama ini sebagai beban, tapi pelaku homeschooling pasti merasakan bagaimana jungkir baliknya menghandle proses belajar anaknya. Banyak sukanya sih, dukanya ada juga yaitu kamu sukanya bukan sama aku… cie.

Homeschooling jalan pinggir menuju tujuan pendidikan


Di dalam UU. No. 20 Tahun 2003 Tentang sistem pendidikan nasional pasal 3 disebutkan tentang tujuan pendidikan yakni mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta menjadi warga negara yang demokratis juga bertanggung jawab.

Umumnya, tujuan pendidikan ini dilaksanakan melalui jalan utama yaitu sekolah formal dengan berbagai jenjang. Namun, tak jarang para orangtua harus melalui jalan pinggir dengan berbagai alasan. Jika jalan utama sudah jelas peta yang harus dijalankan maka pelaku jalan pinggir ini harus meraba titik demi titik yang akan dilalui. Kadang harus berhenti, membuka peta dan belajar lagi bahkan kadang harus berbalik arah.

Tak usah khawatir, meski jalan homeschooling itu berliku, kadang cepat, kadang lambat, namun penuh kejutan. Tahu-tahu sampai di penghujung jalan, dan harus menentukan langkah selanjutnya. Jalan pinggir yang penuh dengan petualangan tak biasa. Seru!

Itulah yang kami rasanya hampir 13 tahun ini. Sejak usia pra sekolah, bungsu sudah menunjukkan tanda-tanda tidak mau sekolah. Maka TK pun kami skip dan memulai Homeschooling usia dini. Saat usia masuk SD dengan tegas ia mengatakan tidak mau sekolah formal. Maka kami mantap menjalankan HS ini.

Keputusan ini justru kami syukuri karena setelah satu tahun menjalankan HS, kami harus mutasi ke daerah, jadi nggak perlu ribet dengan urusan mutasi sekolah dong.

Sekilas homeschooling yang kami jalani


Setelah 3 tahun menjalankan homeschooling usia dini secara mandiri dan 6 tahun homeschooling dengan sistem sekolah payung, ya sebelum mutasi dari Balikpapan kami sudah membuat kesepakatan dengan semua sekolah formal sebagai sekolah payung. Selain ujian kesetaraan melalui lembaga nonformal, ada alternatif lain untuk mendapatkan ijazah homeschooling, yakni Sekolah Payung.

Sekolah payung adalah sekolah formal yang mau menerima anak homeschooling terdaftar di sekolah tersebut. Alternatif ini mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 129 Tahun 2014 Pasal 12:

"Peserta didik sekolah rumah dapat mengikuti UN/UNPK satuan pendidikan formal atau nonformal yang disetujui atau ditunjuk Dinas Pendidikan Kabupaten/kota setempat. "

Tentu saja, harus ada kesempatan antara sekolah payung dengan orangtua pelaku sekolah rumah. Termasuk konsekuensi harus menerima kurikulum yang berlaku serta ujian-ujian yang akan dilaksanakan kelak. Saat masih di Nunukan, kami memilih ujian secara online. Sementara tiga tahun ini karena jarak Samarinda - Balikpapan bisa ditempuh dengan mudah, maka ujian baik tengah semester maupun akhir semester dilakukan di sekolah payung termasuk ujian akhir sekolah bulan Mei kemarin.

Selepas homeschooling, akan ke mana?

Ujian akhir baru saja usai, setelah ini mau apa? Syukur, sebelum jenjang akhir ini usai, kami sudah intens diskusi akan ke mana setelah ini. Berhubung selama menjalani sekolah rumah, bungsu juga intens berkegiatan di rumah tahfidz maka selepas homeschooling kali ini ia akan melanjutkan kegiatan tahfidznya hingga selesai 30 juz. Maka sejak tahun lalu proses pencarian lembaga tahfidz pun dilakukan.

Syukur tak perlu waktu lama, ketemulah sebuah lembaga yang agendanya pas dan sesuai dengan harapan kami. Program utama menghafal Al Qur'an, tapi dengan value adab sebelum ilmu yang terlihat banget dalam aplikasinya menjadi daya tarik pada lembaga ini. Selain itu, mereka tetap melakukan pembelajaran umum dengan sistem mu'adalah atau persamaan. Jadi tetap selaras dengan homeschooling kami sebelumnya.

Penutup


Sejatinya apapun yang kita pilih dalam menjalankan pendidikan anak-anak akan selaras dengan tujuan pendidikan nasional. Ketika homeschooling sudah menjadi pilihan dengan berbagai latar belakang, maka jalankan dengan kesungguhan. Proses berliku adalah kenangan indah yang tak akan terlupakan.


Selepas homeschooling, masih banyak yang bisa kita jadikan pilihan melanjutkan jenjang pendidikan, bisa melanjutkan pendidikan nonformal. Kalau ingin ke jenjang formal pun tak ada masalah karena ijazah kesetaraan pun mendapatkan tempat yang sama.
Tami Asyifa
Seorang ibu dengan 7 anak, saat ini sedang menikmati menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya tapi tetap produktif. Pendidikan dan literasi adalah bidang yang menarik baginya.

Related Posts

Posting Komentar