A directory

Agar Uang THR Anak Tak Jadi Investasi Bodong

  



"Beli mobil remote buat si kecil, begitu dapat uang THR, maunya langsung beli mainan. Daripada dituduh uang THR anak jadi investasi bodong. " Begitu penjelasan seorang Bapak ketika kami berkunjung lebaran kemarin, sementara si Ibu tergopoh-gopoh keluar rumah membonceng anaknya.

Sudah jamak, lebaran adalah momen paling membahagiakan bagi anak-anak. Selain lepas dari puasa sebulan, lebaran adalah sebuah perayaan kemenangan. Namanya juga merayakan, pasti penuh suka cita. Ada baju baru, kue-kue lebaran dan tentu saja uang tunjangan hari raya (THR). Entah sejak kapan pembagian THR kepada anak-anak ini menjadi tradisi lebaran. Sepanjang ingatanku, sejak aku kecil, uang saku di hari lebaran ini sudah ada.

Bedanya pembagian THR di waktu aku kecil dulu tidak berlangsung di hari raya, tapi beberapa hari sebelum lebaran. Tepatnya 10 hari terakhir Ramadan ketika malam-malam ganjil. Semangat menghidupkan malam ganjil ini membuat para orangtua banyak bersedekah, salah satunya memberi uang saku pada anak kerabat atau tetangga.

Bahagia, tentu saja. Siapa sih yang nggak bersuka cita mempunyai uang sendiri? Punya uang sendiri dan bisa belanja memenuhi keinginan, setahun sekali ini. Wajar, atas nama punya uang sendiri itulah, anak teman kami langsung bersikeras untuk membeli mainan idamannya saat ini juga. Sebab kalau tidak, bisa jadi uang lebarannya masuk ke dompet emak atas nama investasi. Investasi bodong, demikian istilah yang viral beberapa tahun terakhir ini.

Menepis tuduhan investasi bodong


Cara termudah mendapat uang banyak adalah menjadi anak-anak di hari raya, hahahaha. Dan cara super mudah mendapatkan uang adalah menjadi emaknya anak-anak yang mendapat THR di hari raya. Banyak anak banyak rezeki pokoknya mah, pengalaman *emot ngakak nih. Di sini godaan untuk mengakuisisi perolehan uang saku lebaran dimulai. Antara sayang jika uang anak-anak habis begitu saja buat beli jajan, mainan, atau segala sesuatu yang menjadi keinginan mereka dengan keinginan agar menggunakan uang THR anak untuk sesuatu yang lebih bermanfaat.

Tak selalu dengan investasi bodong, bisa jadi karena kebutuhan keluarga itu memang mendesak sehingga terpaksa menggunakan uang anak-anak untuk menutupi kebutuhan mereka sehari-hari. Namun, menggunakan uang anak yang notabene adalah hak mereka, tanpa izin dan berdalih investasi tidak dibenarkan.

Apapun yang menjadi tujuannya, sebaiknya lakukan komunikasi yang baik dengan anak, agar ada kerelaan dari pihak yang mempunyai hak tersebut. Jika memang, ada kebutuhan keluarga yang mendesak, ajak anak diskusi untuk apa orang tua harus dan terpaksa menggunakan uang anak.

Tips agar uang THR anak tak jadi investasi bodong


Apa yang menjadi milik anak adalah hak bagi anak, meski ada kewajiban orangtua menyimpan atau mengelolanya ketika anak belum mampu dan siap mengelolanya sendiri termasuk uang THR anak. Justru dengan anaknya uang saku lebaran ini, jadi momen yang tepat untuk belajar dan mengenalkan banyak hal tentang keuangan pada anak.

Belajar literasi keuangan bareng anak.


Literasi keuangan bukan hanya mengenalkan anak pada nilai uang itu sendiri tapi segala manfaat dan akibatnya. Meski mendapat THR itu termasuk cara mudah mendapat uang, sejatinya tak selalu seperti itu dan hanya di momen tertentu saja. Di lain waktu, mendapat uang itu bukan perkara mudah, ada kerja keras yang harus dilakukan.

Anak-anak diharapkan terbuka pikirannya agar bisa menghargai uang yang mereka dapatkan. Tidak boros dengan menuruti segala keinginan, tapi mampu membedakan mana kebutuhan dan yang mana keinginan. Ajak anak untuk belajar mengelola keuangan, membuat daftar kebutuhan dan membuat prioritas.

Jadi mereka tidak langsung membelanjakan uang THRnya seketika itu juga. Beberapa hari setelah lebaran kami akan menghitung sama-sama uang yang didapat. Tiap anak mencatatnya dan membuat alokasi aliran dana, cieee. Misalnya kebutuhannya apa, keinginannya apa. Yang paling sering, beli buku bacaan. Lalu sisanya buat apa.

Ajarkan resiko penyimpanan uang


Suka gemes kalau ada anak-anak yang menyimpan uang sembarangan terus nanti kalau hilang jadi ribut kan. Nah saat menerima THR bisa dijadikan sarana untuk mengajar mereka mitigasi atau resiko menyimpan uang di rumah. Bisa jadi lupa, kececeran dan hilang, atau dicuri. Nah kenalkan pada anak bagaimana menyimpan uang yang aman, di dompet emaknya misalnya… hahaha tetap.

Jika mengajarkan investasi, jangan investasi bodong ya.


Cara aman menyimpan uang THR adalah dengan investasi. Investasi beneran lho ya, bukan bodong. Cara terbaiknya ya jadi role model anak. Ketika orangtua melakukan investasi dengan benar maka tak ada istilah investasi bodong lagi bagi anak-anak. Investasi apa dan bagaimana, setiap keluarga punya rule dan preferensi tersendiri pastinya.

Macam investasi pada keluarga kami


Biasanya setelah berhitung hasil THR anak-anak, wow lumayan juga nih… emak jadi mupeng, enak bener mereka dapat uang. Terus bundanya bagian catat mencatat dong, berapa yang dibutuhkan anak untuk dibelanjakan dan berapa yang akan diinvestasikan. Tentu saja, pencatatan ini atas pengetahuan anak-anak sehingga masing-masing anak tahu nominal uang yang jadi haknya.

Prinsip investasi adalah berkembang, maka tabungan bukan pilihan investasi keluarga kami. Tabungan adalah cara menyimpan uang sementara, ketika sewaktu-waktu dibutuhkan. Investasi keluarga kami dalam bentuk saham. Jadi uang THR anak-anak akan dibelikan saham dan mereka tahu saham apa yang jadi miliki mereka serta nominalnya.

Selain saham, tanah kapling juga menjadi pilihan investasi kami. Wow anak-anak beli tanah kapling, nggak mustahil kok. Caranya, ya semua uang THR anak-anak digabungkan ditambah uang orangtuanya lalu didapatkan satu kapling tanah. Prosentase masing-masing peserta beli tanah bareng kami catat sehingga jika kelak dijual dan mendapatkan keuntungan, maka akan dibagi sesuai dengan prosentase modal yang digunakan. Simple kan. Masih nuduh investasi bodong? Kalau semua transparan, dan ada bukti-bukti tertulis, jangan khawatir kita telah mengajarkan investasi yang sebenarnya pada anak.



Tami Asyifa
Seorang ibu dengan 7 anak, saat ini sedang menikmati menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya tapi tetap produktif. Pendidikan dan literasi adalah bidang yang menarik baginya.

Related Posts

Posting Komentar