A directory

Ibu Tantrum, Kenali Agar Tak Merugi



Ibu Tantrum, adakah? Tantrum layaknya terjadi pada anak-anak terutama ketika batita, atau tahap awal perkembangan sosial, emosi, dan bahasa dan berangsur-angsur berkurang ketika masuk usia 4 sampai 5 tahun. Tantrum pada anak disebabkan mereka belum mampu mengkomunikasikan kebutuhan dan perasaannya dengan baik, sehingga berujung pada rasa frustasi.

Ekspresi frustasi ini bisa berwujud marah, berteriak, dan menangis dalam waktu yang lama. Treatment apapun jadi serba salah. Kadang bak sutradara yang memerintahkan untuk mengulang-ulang adegan tapi tetap saja salah. Mengesalkan banget menghadapi anak tantrum, meski hal yang wajar terjadi pada anak-anak. Lalu bagaimana kalau ibu yang tantrum? Apakah anak-anak harus sabar sebagaimana ibu bersabar menghadapi anak tantrum?

Emosi yang tak tuntas itu membuat ibu tantrum


Menulis tema ini saya jadi teringat peristiwa sepanjang masa pandemi dua tahun lalu. Mutasi tiba-tiba tanpa prediksi di tahun pertama pandemi saat lonjakan kasus sedang tinggi-tingginya menghadirkan rasa cemas yang tersimpan. Lalu masalah demi masalah dengan anak-anak yang tidak terkelola dengan baik bahkan tak pernah terselesaikan, menjadi gundukan emosi yang tertahan.

Hingga akhirnya meledak, setidaknya ada tiga kali ledakan besar dalam satu tahun itu. Malam itu, di kontrakan sebelum rumah tinggal kami jadi, hanya dipicu masalah kecil saja, saya meledak. Menangis, sampai berteriak saat suami mendekat. Beberapa jam kemudian setelah agak tenang, baru suami datang lagi dan minta maaf meski saat itu ia nggak tahu apa salahnya. Gitu kan, laki-laki selalu nggak peka. Salahnya, karena saya dibentaknya… hahaha hanya itu sih.

Ledakan kedua, saya sampai mogok nggak mau berangkat mengantar anak ke luar kota untuk suatu keperluan hanya karena batal naik travel di jam yang sudah ditentukan dan harus naik bus. Hal sepele sebenarnya, begitu juga dengan ledakan ketiga. Namun, hal-hal yang seolah menjadi pemicu, bukan penyebab utama seorang ibu tantrum. Pemicu hanyalah puncak gunung es, sementara akar masalahnya banyak dan kadang terabaikan. Apa saja penyebab tantrum pada ibu?

Emosi yang terakumulasi


Memendam emosi tak selalu baik, sebaliknya justru berbahaya karena ketika tiba saatnya akan menjadi ledakan besar. Seperti yang pernah saya alami, berada di masa pandemi, harus mutasi ke kota yang tidak saya harapkan karena ada alasan yang tidak bisa saya ungkapkan. Sementara, suami juga sibuk beradaptasi dengan kantor baru, pekerjaan baru, ditambah anak-anak dengan berbagai masalahnya.

Akumulasi emosi ini akhirnya menjadi ledakan yang bukan sekedar marah biasa, tapi ngamuk sampai ngereog, sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya sepanjang pernikahan dan mengasuh anak-anak.

Inner child yang belum tuntas


Luka pengasuhan yang belum terselesaikan dengan baik juga bisa menjadi penyebab tantrumnya seorang ibu. Seorang teman pernah bercerita bahwa ia mengalami masa kecil yang pahit dengan perceraian kedua orangtuanya. Sebelum perceraian itu terjadi, ia kerap mendengar pertengkaran demi pertengkaran yang trauma itu ia bawa sampai dewasa. Ia bisa meledak dan tantrum ketika ingat peristiwa itu. Pemicunya kadang sepele saja, mendengar tetangganya ribut.

Gangguan mental


Menurut beberapa sumber, tantrum pada orang dewasa juga bisa disebabkan oleh gangguan mental seperti autis, bipolar, borderline personality disorder, ADHD (gangguan pemusatan perhatian / hiperaktif), PTSD (gangguan stress pasca trauma), juga penyalahgunaan obat-obatan terlarang.

Ibu tantrum, wajarkah?


Tantrum pada seorang ibu terjadi ketika berada dalam bahasa kondisi tidak dapat mengendalikan emosi negatif yang menyerangnya akibat akumulasi beberapa sebab. Jika tantrum pada masa batita adalah sesuatu yang wajar, maka tantrum pada seorang ibu harus diwaspadai. Setidaknya penyebab di atas bisa menjadi tanda bahaya bahwa seorang ibu butuh treatment agar kejadian tantrumnya tak membuatnya merugi.

Tantrumnya seorang ibu jelas bisa mengarah pada hal yang negatif, apabila anak-anak yang menjadi sasaran amukan. Bisa menyebabkan tidak terputusnya mata rantai inner child dan trauma pada anak-anaknya kelak. Apalagi jika sampai terjadi kekerasan fisik, karena daya amuk orang dewasa jelas berenergi.

Tantrum juga menjadi red flag ketika tanda-tanda gangguan mental seperti bipolar dan lainnya sudah terlihat. Ini tidak bisa dibiarkan. Harus segera menghubungi tenaga ahli untuk mendapatkan pertolongan.


Tami Asyifa
Seorang ibu dengan 7 anak, saat ini sedang menikmati menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya tapi tetap produktif. Pendidikan dan literasi adalah bidang yang menarik baginya.

Related Posts

Posting Komentar