A directory

Melepas Anak Berwisata Bareng Teman Sebaya

 


Sudah jamak bagi anak sekolah di akhir tahun menjelang kelulusan, berwisata bareng dengan dalih study banding atau semacamnya. Bagi anak homeschooling yang belajarnya bisa dimana saja, kegiatan playdate atau field trip bareng teman komunitas juga sudah biasa. Namun, bagi bungsuku si homeschooler yang tidak punya komunitas karena sering berpindah domisili, pergi bareng teman-temannya menjadi sesuatu yang luar biasa. 

Luar biasa menyenangkan dan membuatnya antusias, sekaligus luar biasa membuat bundanya cemas. Barangkali ini berlebihan, tapi tidak bisa disangkal, hati ini dag dik dug tak karuan. Apalagi beberapa hari sebelumnya membaca berita viral beberapa kecelakaan yang menimpa rombongan study tour. Baiklah, bunda harus menguatkan hati untuk melepasnya pergi. Tentunya dengan iringan doa dan nasehat tiada henti (dasar si bunda).

Saat anak berwisata bareng teman sebayanya


Anak homeschooling punya teman? Punya dong. Bungsu saya homeschooling mandiri tanpa komunitas, tapi urusan sosialisasi dan berteman ia punya banyak cerita. Selain berteman dengan anak-anak di lingkungan rumah atawa tetangga, ia juga mengikuti program tahfidz di sebuah masjid dekat rumah. Jadi program homeschooling kami ada 3 kegiatan utama, pagi ikut ngaji dan tahfidz, siangnya belajar di rumah dan sore bermain.

Kali ini, rumah tahfidz akan mengadakan wisata ke pantai Pemedas yang terletak di Samboja Kutai Kartanegara. Jaraknya tidak jauh sebenarnya, apalagi sudah ada jalan tol Samarinda-Balikpapan sehingga jarak tempuh dari rumah ke pantai tujuan hanya 1,5 jam perjalanan. Begitu keluar pintu tol di kilometer 30, lalu jalan ke arah pantai, sampai deh.

Tentu saja, ia antusias sekali, segala persiapan dilakukan sendiri. Tahu-tahu sudah pamitan saja. Terkesan mendadak, ia memang tidak tahu ada rencana akan jalan-jalan ke pantai karena beberapa hari sebelumnya bungsuku ini tidak mengikuti program tahfidz. Baru sehari kami kembali dari luar kota untuk mengurus persiapan ujiannya di pkbm kami di Balikpapan.

Manfaat wisata bareng teman


Ternyata, berwisata bareng teman sebaya tanpa didampingi orangtua ini, banyak banget manfaatnya lho. Apa saja? Yuk kita kulik satu persatu.

Menumbuhkan rasa percaya diri anak


Salah satu cara untuk memupuk rasa percaya diri pada anak adalah dengan memberi kepercayaan padanya. Orangtua harus percaya bahwa anak bisa melakukan sesuatu tanpa campur tangan kita. Anak akan mendapatkan banyak pengalaman yang membuatnya yakin pada kemampuannya. Rasa ini yang membuat kepercayaan dirinya terus tumbuh. Anak mempunyai banyak keinginan untuk mencoba, meski sebagai orangtua tak jarang muncul rasa tidak tega.

Sarana melatih kemandirian anak


Tentu saja, dengan bepergian tanpa didampingi orangtuanya akan menjadi sarana bagi anak melatih kemandirian. Anak bisa dilatih untuk menyiapkan keperluannya selama bepergian. Menjaga diri ketika di kendaraan maupun tempat tujuan. Memutuskan segala hal yang akan dipilihnya, termasuk menggunakan uang sakunya dengan baik.

Mengasah keterampilan sosialisasi


Ada kalimat bijak yang menyatakan, jika ingin mengetahui sifat seseorang maka ajak ia jalan bareng. Artinya, seseorang akan ketahuan sifat aslinya ketika kita melakukan perjalanan bersama. Nah, berwisata bareng teman sebayanya akan melatih anak mengembangkan keterampilan sosialisasinya. Pada kesempatan bersama selama seharian, Anak-anak akan banyak belajar sosialisasi, mengenal karakter satu sama lain, termasuk belajar berempati dan tolong menolong. Berwisata bareng teman juga bisa jadi sarana mengasah kekompakan dan solidaritas.

Pengalaman belajar yang seru


Bepergian ke tempat-tempat baru, memberi pengalaman berharga kepada anak. Anak bisa mendapatkan pengalaman belajar yang baru dan seru. Mengenali rute perjalanan, membuka wawasan geografinya, juga bisa mencoba hal-hal baru lainnya yang baru didapat setelah pergi tanpa orangtua.

Wah ternyata banyak juga ya manfaat anak-anak bepergian ke tempat wisata bareng teman sebayanya. Tinggal gimana memberi kepercayaan kepada mereka dan meminimalisir kecemasan sebagai orangtua.

Tips agar anak tetap aman dan nyaman jalan bareng temannya


Dampingi anak melakukan persiapan. Mendampingi bukan untuk merecoki adalah kunci. Orangtua dapat mendampingi anak ketika mereka packing persiapan bepergian, diskusi apa saja yang perlu anak-anak persiapkan. Misalnya ke pantai, kegiatannya apa saja, butuh baju berapa, pernak-pernik berenang, bagaimana dengan baju kotor atau basahnya dan banyak hal lagi. Ingat hanya mendampingi, biarkan mereka yang menyiapkan.

Pastikan anak-anak mengetahui mitigasi jika ada hal-hal diluar kendali. Misalnya ketika cuaca buruk, apa yang harus dilakukan. Ajak anak untuk mengenali medan, bagaimana karakter ombak di pantai tersebut, seberapa aman jika ingin berenang dan banyak hal lainnya.

Meminta anak memberikan kontak person, pendamping selama berwisata. Bisa guru, ustadz atau mentor mereka. Jangan lupa juga pastikan timeline atau durasi waktu yang dijadwalkan selama kegiatan tersebut. Tanyakan jika, sampai batas waktu yang ditentukan belum pulang, emergency contact nya siapa.

Refleksi pengalaman barunya


Usia bepergian bareng teman-temannya, perlu adanya refleksi agar orangtua dan anak bisa saling menguatkan. Anak dapat menceritakan hal-hal baru yang dialaminya. Bisa jadi banyak keseruan yang didapatkannya, atau pengalaman yang tidak enak. Orangtua bisa memvalidasi perasaan anak.

Sejauh ini sih, semua fine-fine saja. Bungsuku antusias bercerita pengalaman bermain bola dengan lawan main yang baru dikenalnya. Dilanjutkan dengan pengalaman baru naik motor drag kecil selama 20 menit dengan harga sewa 50 ribu yang ternyata setelah selesai baru tahu ada yang sewanya lebih murah. Menyesal katanya, tapi bisa jadi pengalaman berharga membelanjakan uang dan survey harga pasar.

Tentu saja pengalaman baru memegang ubur-ubur tanpa kena racunnya. Bulan Maret adalah bulan ubur-ubur muncul di permukaan air sehingga pantainya banyak ubur-ubur. Setelah seru-seruan bermain dan berendam di air, ia merasakan nikmatnya makan bareng teman-temannya.
Tami Asyifa
Seorang ibu dengan 7 anak, saat ini sedang menikmati menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya tapi tetap produktif. Pendidikan dan literasi adalah bidang yang menarik baginya.

Related Posts

Posting Komentar