A directory

Ajarkan Anak Adab Terhadap Makanan agar Hidup Lebih Beradab

1 komentar

 

Sudah pernah dengar bahwa negeri kita termasuk penyumbang sampah makanan terbesar? Menurut berbagai lembaga pemerhati lingkungan nih, kebiasaan makan bersisa merupakan salah satu sumber sampah makanan. Padahal, sebagai umat beragama kita diajarkan adab terhadap makanan, tapi kebiasaan penyajian yang berlimpah akibat budaya berlebihan atau left over sepertinya sudah dihindari kecuali ditanamkan sejak dini.

Urgensi Mengajarkan Adab dan Pembiasaannya


Tak jarang kita menyaksikan atau menghadiri acara pesta dengan berbagai hidangan yang menggiurkan. Kadang dengan alasan mumpung, kita mengambil dan menyantap semua hidangan toh kita sudah memasukkan amplop berisi sumbangan sah saja kan…, pikiran nakal kita. Padahal setelah memakannya , perut kita punya kapasitas. Kekenyangan, sementara sisa makanan di piring masih banyak. Mubazir...!

Dilain waktu, saat kita datang agak siang atau diakhir waktu, sajian hidangan sudah menipis, sementara tamu masih banyak. Mirisnya, di piring -piring yang tergeletak setelah digunakan, banyak sekali makanan sisa. Bahkan kadang ada yang hanya dimakan sedikit lalu ditinggalkan begitu saja.

Yang terlihat sepele juga saat sedang bertamu dan membawa anak-anak. Meski dengan dalih, kan masih anak-anak, wajar ya. Yang sering saat lebaran atau acara tertentu, anak-anak mengacak - acak hidangan tuan rumah, membuat remahan atau menumpahkan makanan dan berebut makanan dengan kakak atau adiknya sehingga makanan tersebut berakhir menjadi sampah.

Ilustrasi diatas sekedar contoh, bahwa meski terlihat remeh, sesungguhnya kita tetap perlu mengajarkan adab terhadap makanan pada anak sejak dini. Bukanlah kita sering mendengar petuah jangan mubazir, bisa jadi temannya setan. Atau dalil lengkapnya ada pada Qur’an surah Al A’raaf ayat 31 yang artinya:

“Wahai anak cucu Adam! Pakailah pakaianmu yang bagus pada setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah , tetapi jangan berlebihan. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.”

Rasulullah bersabda “ Tidaklah seorang anak Adam mengisi sesuatu yang lebih buruk dari perutnya, cukuplah bagi anak Adam beberapa suap untuk menegakkan tulang punggungnya, dan jika dia harus mengerjakan maka hendaklah dia membagi sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumannya, dan sepertiga untuk nafasnya “ ( HR. Tirmizi, Ibnu Majah, dan Ahmad).

Jelas banget kan, agama kita mengatur hingga sedetail ini untuk urusan perut dan makanan. Lalu mengapa kita masih berlebihan dalam makanan hingga menjadi sebab kemubaziran dan berakhir menjadi sampah? Bagimana menumbuhkan kesadaran agar anak menghabiskan makanannya dan tidak menyisakan sampah?

Cara mengajarkan adab terhadap makanan pada anak


Adab merupakan segala bentuk prilaku, sikap dan tindakan kita yang sesuai dengan tata cara hidup yang berlaku menurut agama, norma serta kebiasaan baik yang berlaku pada masyarakat setempat. Menumbuhkan karakter baik tentu tidak mudah, bahkan Rasulullah SAW sangat perhatian dalam hal ini. Beliau selalu mengajarkan dan langsung memberi contoh akan pentingnya menjaga adab.

Teladan dan contoh langsung dari para dewasa

Umar bin Abi Salmah ra berkata, “Dulu aku menjadi pembantu di rumah Rasulullah saw. Ketika makan, biasanya aku mengulurkan tanganku ke berbagai penjuru.
Melihat itu Beliau berkata, ‘Hai anak, bacalah basmalah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yang ada di dekatmu.'”


Dari hadits diatas bisa kita ambil pelajaran
  1. Rasulullah saw senantiasa menyempatkan untuk makan bersama anak-anak.
  2. Cara ini akan mempererat hubungan pendidik dan anak didik, atau orang tua dengan anaknya.
  3. Beliau segera menegur kekeliruan Umar bin Abi Salmah sebelum menjadi sebuah kebiasaan.
  4. Tidak hanya meluruskan, Nabi saw juga memberikan nasihat tentang adab mulai dan duduk ketika makan
  5. Rasulullah saw menyatukan hati anak dengan Allah ketika mulai bersantap dengan menyuruhnya membaca basmalah.
Jadi makan bersama dengan anak-anak adalah sarana bagi kita mengajarkan adab dalam makan dan terhadap makanan. Karena sebaik - baik pelajaran adalah dengan teladan. Memberi teladan dan meluruskan yang keliru adalah aktivitas yang terus berulang sehingga menjadi kebiasaan baik dalam keluarga kita.

Menanamkan kebiasaan menghargai makanan sejak dini

Sesuatu kebiasaan yang kontinyu dan konsisten akan menjadi karakter. Demikian juga dengan membentuk adab, perlu adanya pembiasaan yang baik sejak dini sehingga tumbuh kesadaran kemudian anak jadi paham arti pentingnya makanan bagi kehidupan dan tidak menyia-yiakannya. Lalu apa yang perlu ditumbuhkan pada anak-anak agar menjadi anak yang beradab mulia terhadap makanan?

1. Keyakinan pada Allah sebagai pemberi rizki.

Sebelum mengajarkan pada anak, orang tua harus terlebih dahulu memiliki keyakinan yang kuat terhadap hal ini. Salah satunya adalah menerima dengan bahagia kehadiran anak, tanpa rasa khawatir rezeki mereka. Sebagai keluarga dengan anak lumayan jauh dari program pemerintah (KB) tentu keyakinan ini harus kuat. Bahkan tak jarang, kami tak lagi punya stok makanan dirumah. Maka ketika datang makanan, yang pertama kali diingat adalah ini dari Allah.

2. Bersyukur dan merasa cukup

Meminjam kata - kata dari status pak Dodik Maryanto yang sangat berkesan sekali.
“ Kami dulu hidup tak berkecukupan tapi bapak-ibu mendidik kami untuk tidak ngrangsang (rakus terhadap makanan). Disisi lain, kami melihat anak-anak sekarang ngrangsang terhadap makanan meski hidup berkecukupan bahkan boleh dibilang berada. Bukan kondisi kekurangan yang membuat seseorang ngrangsang tapi rasa kekurangan”.

Ada kebiasaan yang membahagiakan pada keluarga kami. Karena anak-anak banyak maka segala sesuatu mesti dibagi. Kami harus menghitung agar makanan yang disajikan cukup. Pertanyaan,” berapa-berapa Bun? yang diajukan anak-anak menjadi lagu indah setiap ada makanan.

3. Mendahulukan orang lain (itsar)

Puncak dari adab yang baik terhadap makanan ketika anak-anak mampu untuk itsar, karena itsar adalah tingkatan ukhuwah yang tertinggi. Tapi jika masih belum mampu , cukup punya rasa empati bahwa masih banyak yang membutuhkan makanan selain kita. Hal ini membuat anak ingat bahwa untuk tidak menghabiskan makanan yang menjadi jatahnya serta meninggalkan yang bukan miliknya karena masih ada saudaranya yang belum makan.

Kebiasaan baiknya, anak-anak akan bertanya atau meminta izin jika akan memakan sesuatu, dengan asumsi siapa tahu ada saudaranya yang belum makan. Di keluarga Pak. Dodik Mariyanto, malah dibiasakan siapa yang mengambil makanan terlebih dahulu bukan untuk dirinya tapi untuk yang lain. Keren ya...sudah sampai pada tingkatan itsar. Alasan beliau, mendidik bahwa tangan di atas itu lebih baik.

4. Mengenalkan tentang kepemilikan sejak dini dan adab meminta izin.

Mengajarkan kepemilikan membuat anak mengetahui batas antara dia dan orang lain meski dalam satu keluarga. Jadi kalaupun ada makanan dirumah, mereka tetap meminta izin sebelum membuka atau memakannya. Saat anak sudah paham hal ini, maka tidak akan ada keributan rebutan makanan atau kalimat “Siapa yang habisin makananku, tadi aku taruh di kulkas.”

Kebiasaan baiknya, ketika anak-anak di luar rumah mereka tahu bahwa ada tuan rumah yang harus dihormati dan hidangan yang disajikan itu milik tuan rumah, kita boleh mengambilnya sebatas apa yang diizinkan.

5. Saling membantu

Saling membantu bukan saja terhadap pekerjaan yang membutuhkan tenaga atau membantu dalam hal keuangan. Ketika makan anak-anak kami ajarkan untu saling membantu. Saat ada saudaranya yang tidak sanggup menghabiskan jatah makanannya, maka yang lain akan berusaha membantu menghabiskannya sehingga tidak ada lagi sisa makanan yang berakhir menjadi sampah. Meski sesuap demi sesuap.

Penutup


Sesungguhnya kebaikan itu tidak ada yang sia-sia. Meski terlihat remeh ketika kita bersungguh-sungguh melakukannya maka akan menjadi sesuatu yang sangat barharga. Saat anak-anak sadar dan menghargai arti makanan, sehingga tumbuh adab terhadap makanan maka meski terlihat remeh, sejatinya banyak masalah besar yang terselesaikan. Mengurangi sampah makanan salah satunya. Turut menjaga kelestarian lingkungan dari sisi yang berbeda. Itulah pentingnya adab, karena ketika hidup dengan adab, maka akan ada kehidupan dalam diri kalian.


Tami Asyifa
Seorang ibu dengan 7 anak, saat ini sedang menikmati menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya tapi tetap produktif. Pendidikan dan literasi adalah bidang yang menarik baginya.

Related Posts

1 komentar

  1. Betul Mbak, salah satunya tidak menyisakan makanan. Biasanya sebelum makan saya tanyain dulu, mau diambilkan atau ambil sendiri? Kalau ambil sendiri ia bisa mengukur mau habis seberapa. diusahakan tidak bersisa

    BalasHapus

Posting Komentar