A directory

Ruang Rindu dan Sebuah Pelajaran Tentangnya

3 komentar

 

Ruang rindu dan sebuah pelajaran


Apa yang kau tahu tentang rindu, kala jarak membentang dan ruang menjadi begitu terbatas? Pandemi sekian ratus hari, membuat ruang rindu penuh terisi, tapi tak ada daya untuk mengurai. Virus corona, seperti tembok pembatas yang menghalangi raga untuk mengurai kata rindu menjadi sebuah perjumpaan. Entah sudah berapa istilah yang mewakili, PSBB, penyekatan wilayah, dan PPKM yang berjilid – jilid.

Jiwa yang tak tahan dengan kerinduan hanya bisa bertemu secara maya. Video call atau zoom bisa jadi sarananya meski tetap tak mampu menuntaskan rasa, sentuhan fisik itu beda. Apalagi untuk keluarga yang terpaksa harus long distance mariage (LDM) karena tuntutan profesi, nggak kebayang gimana rasanya suami atau istri yang merindukan pasangannya dan anak-anak yang rindu pada ayah atau bundanya.

Rindu dan Sebuah Peristiwa yang tak Terlupa

Sebuah peristiwa tak terlupa


Bagiku yang terbiasa hidup sebagai anak kost sejak lulus SMP, artinya aku sudah tidak tinggal di rumah ketika SMA, merindukan orang tua atau keluarga itu hal yang biasa. Karena terbiasa kadang tak lagi merasakan gregetnya sebuah kerinduan. Ketika sedang tak sibuk dengan kegiatan sekolah atau kampus dan ada kesempatan bisa pulang kampung ya pulang begitu seterusnya hingga lulus kuliah dan bekerja sampai akhirnya merantau ke luar pulau Jawa.

Ketika pulang kampung pun, tidak semua waktu kugunakan untuk membersamai orang tua. Hanya setegah dari waktu yang ada, sisanya buat jalan-jalan dan silaturahmi ke tempat keluarga yang lain atau teman-teman akrab.

Suatu masa, ketika akan kembali ke Balikpapan setelah pulang liburan, aku diantar oleh Bapak. Meski urusan antar-mengantar ini aku paling nggak suka, lebih baik jalan sendiri, karena bagiku terasa lebih berat melepas yang mengantar. Aku merasa bapakku sudah lebih tua dari sebelumnya dan tiba-tiba terbersit rasa takut. Namun, ketika sampai Balikpapan dan memulai rutinitas sedia kala, jadi nggak kepikir lagi.

Setiap saat ada keinginan menelpon sekedar bertukar khabar, tapi entah mengapa ada saja sebab dan kesibukan sehingga selalu urung. Sampai berbulan setelahnya baru kusempatkan untuk menelpon dan berbincang dengan bapak yang akhirnya itu adalah suara terakhir yang bisa kudengar. Bapak meninggal dunia beberapa hari setelahnya, tanpa sakit dan sangat cepat sekali. Tiga jam dari aktivitas terakhirnya, bersih-bersih rumah, menyapa tetangga lalu terjatuh dan tekanan darahnya yang terus drop. Meski berusaha sesegera mungkin pulang, namun yang kujumpai hanya gundukan tanah yang membeku.

Isi Ruang Rinduku


Kini, 15 tahun sejak peristiwa itu aku belajar untuk lebih mengasah perasaan dengan membiarkan rasa rindu tetap ada meski tak segera bisa dituntaskan. Kubiarkan ruang rinduku selalu terisi dengan hal-hal yang kurindukan dan aku tak ingin mengalihkannya dengan apapun. Di masa pandemi ini, ruang rinduku mulai penuh isinya tapi ada 4 hal yang mendominasi.


Hal yang kurindukan saat ini

Ibu, pengisi tangki terbesar rinduku


Semenjak bapak meninggal, ibuku tinggal sendiri di rumah dan meneruskan hidupnya dengan hiburan murid-murid sekolah dasarnya yang lucu. Setelah lima tahun berikutnya ibu baru pensiun. Meski pensiun, ibu tetap bertahan sendiri di rumah dan tak pernah kerasan tinggal dengan anak-anaknya. Dan tahun demi tahun dengan usia yang semakin renta, tak membuatnya menyerah hidup sendiri. Tetap dengan keputusannya tak ingin merepotkan anak-anak.

Sudah dua tahun tak lagi bisa kutuntaskan rindu pada ibuku. Sejak terakhir kepulanganku bulan September dua tahun lalu, di awal tahun berikutnya pandemi melanda dan kesempatan untuk pulang kampung semakin sulit. Perjalanan jauh yang beresiko membawa mas covid, membuatku selalu mengurungkan niat untuk pulang menemui ibuku.

Kan bisa telepon atau video call? Ini susahnya, akibat sakit enam tahun lalu membuat daya pendengarannya berkurang drastis. Berbicara melalui telepon hanya seperti desiran angin yang tak jelas maknanya. Video call sesekali hanya sekedar menatap wajah tuanya, dan memeluknya dalam doa. Dan salah satu doa yang kulangitkan adalah, aku ingin bertemu dengannya sebelum apapun yang Allah takdirkan untuk kami.

Anak-anak disisi lain ruang rindu


Terbiasa hidup beramai-ramai dengan banyak anak tentu banyak memori yang terlukis dalam angan. Celoteh-celoteh lucu, makan rame-rame dengan kalimat yang selalu jadi mantra saat makan, “Berapa-berapa Bun?” atau kadang kemarahan tak jelas ala anak-anak. Kemudian waktu membersamai mereka tumbuh menjadi besar lalu satu per satu meninggalkan rumah untuk belajar di luar kota bahkan luar negeri.

Rindu kian tak terperi ketika pandemi melanda, mereka tidak bisa pulang dua tahun lamanya. Bahkan saat lebaran kami semua terpisah kota. Syukur, teknologi sedikit bisa mengurai rasa. Ada kesempatan tiap pekan kami jumpa, meski hanya bertukar kata atau memaksimalkan aplikasi yang ada.

Rindu melingkar dan ta’lim


Mengaji atau mengikuti majelis ta’lim, sekian purnama tanpa bisa bertemu muka untuk melingkar, bersama melafalkan bacaan Qur’an, lalu mendengar kalimat-kalimat penuh hikmah dan melantunkan doa bagai oase kala sepekan hari-hari disibukkan dengan rutinitas. Jiwa yang mulai gersang membutuhkan siraman.

Kajian ilmu-ilmu agama dan hadist di masjid juga begitu kurindukan, meski saat ini masih bisa dilakukan secara virtual namun rasanya menghadari ta’lim bersama sesama pencinta ilmu dan ribuan malaikat disisi-sisi kita itu nikmatnya tak bisa tergantikan.

Jalan-jalan atau travelling


Woa , ini kerinduan yang hakiki... Banyak rencana travelling yang bukan saja tertunda tapi dihapus dari daftar agenda begitu pandemi melanda. Saat masih tinggal di Nunukan sudah merencanakan travelling ke Kinebalu dan sekitarnya juga mantai di Derawan. Tak lama pandemi dan mutasi ke Samarinda, kedua destinasi itu semakin jauh dari jangkauan.

Penutup


Pandemi membuat ruang rindu kita terisi dengan banyak hal yang kita rindukan, namun bisa jadi kelak ketika usai kita akan merindukan banyak hal yang biasa kita kerjakan di masa pandemi. Kerja sambil rebahan misalnya. Maka apapun itu, menerima setiap kejadian dan perisiwa yang disodorkan pada kita dengan lapang dada adalah cara terbaik untuk bahagia.

Tami Asyifa
Seorang ibu dengan 7 anak, saat ini sedang menikmati menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya tapi tetap produktif. Pendidikan dan literasi adalah bidang yang menarik baginya.

Related Posts

3 komentar

  1. Memang begitu mungkin ya, Kak.. Mama ku juga gak mau tinggal sama anak-anaknya.. Beliau lebih memilih tinggal sendiri, kami yang mengunjungi..

    BalasHapus
  2. Syukuri, nikmati, jalani. Mungkin itu yg pas tuk menggambarkan apapun keadaan kita ya kak..

    BalasHapus
  3. Ah Mbak Tami... peluk peluk peluk.. memang kalau kita lama merantau kita jadi cenderung mematikan ruang rindu ya.. Mbak Tami hebat banget sudah mandiri sejak usia masih sangat muda..

    BalasHapus

Posting Komentar