A directory

Konsisten Menulis Bersama Komunitas One Day One Post

Posting Komentar


Komunitas menulis one day one post


Agar ikan bisa terus berenang, maka jangan jauh-jauh dari kolamnya, kata seorang teman ketika memotivasi untuk konsisten menulis. Komunitas one day one post ibarat kolam, dan kita adalah ikannya, tinggal bagaimana memanfaatkan kolam untuk berenang sehingga bisa menjadi perenang yang handal. Jadikan komunitas sebagai tempat untuk terus belajar, meningkatkan kemampuan, dan berlatih, serta menjalin relasi.

Komunitas One Day One Post


ODOP, kumpulan empat huruf ini awalnya kujumpai sebagai tagar di sebuah media sosial sejak lima tahunan yang lalu. Kayaknya seru deh berlatih menulis tiap hari,pikirku saat itu. Tapi kesibukan mengajar dan mengurus anak, membuatku melupakan keinginan itu. Meski suka menulis, tulisanku cukup tersimpan di folder gawai atau beberapa tampil di media sosialku.

Ketika aku bergabung dengan kelas bimbingan untuk blogger pemula, semakin familiar dengan ODOP karena beberapa teman ikut tantangan menulis ini dan ada yang menjadi PJ (penangung jawab). Mau konsentrasi satu – satu dulu, alasan ketika ada teman yang mengajakku bergabung.

Konsisten menulis sih sudah biasa karena sejak tahun lalu sudah bergabung dengan komunitas yang mengajak untuk konsisten menulis, bahkan di tahun 2020 mendapat rapot yang memuaskan karena konsisten menulis selama setahun, bahkan 6 bulan diantaranya mendapat badge kuning atau outstanding setelah berhasil menulis 30 tulisan dalam sebulan dengan jumlah minimal 300 kata.

Tapi konsisten menulis di blog itu tantangan sekali karena selain tema tulisan, juga harus mengatur penempatan kata kunci , heading, diskripsi pencarian, juga gambar dan infografis. Butuh effort lebih dari sekedar menulis. Makanya begitu ada open recruitment ODOP langsung merasa ini tantangan sekali. Ini harus dicoba dan lulus untuk masa depan yang lebih baik... (Halah).

Pencapaian konsisten menulis 2020

Perkenalanku dengan dunia tulis menulis


Berawal dari membaca, lalu menulis begitulah biasanya. Sejak kecil  aku sudah menyukai membaca buku, buku apa saja yang ada di perpustakaan sekolah karena jaman itu buku tak sebanyak sekarang. Singkat kata, nilai pelajaran bahasa Indonesia selalu tinggi terutama ketika ada tugas mengarang. Terus diminta ikutan lomba mewakili sekolah, meski nggak menang. Tapi itu berkesan sekali.

Saat menjadi guru dan bergabung dengan komunitas guru, kami banyak berdiskusi melalui milis saat itu. Salah satu topik diskusi yang tak habis-habisnya adalah literasi di Indonesia yang konon katanya masih jauh tertinggal dibanding negara lain. Terbukti dengan hasil survei Program International Student for Assessment (PISA) yang masih menduduki ranking ke 62 dari 70 negara. Jadi motivasi banget untuk bergerak di bidang literasi , bahkan seorang teman di milis itu sering membagikan buku karyanya.

Dari situlah, aku punya mimpi dan kutuliskan mimpi itu, salah satunya ingin punya buku berisi tulisanku. Beberapa tahun setelahnya buku pertamaku terbit, meski masih berupa buku antologi. Dari sini satu persatu tawaran menulis buku kucoba. Belum cukup dengan itu, akupun mencoba membuat blog sederhana untuk menyimpan tulisanku, juga mengikuti beberapa lomba kepenulisan.

Ada beberapa alasan untuk terus menulis


Saat berada di sebuah kelas dan diminta memetakan apa yang disukai dan bisa, menulis termasuk dalam ranah yang aku suka tapi belum bisa. Suka tapi belum bisa trus gimana nulisnya? Ya belajar dan berlatih. Seekor burung bisa terbang setelah beberapa kali belajar terbang bukan?

Alasan untuk terus menulis

Jejak kenangan dan wasiat buat anak-anak di masa depan

Saat kita meninggal kelak, apa sih yang ingin kita wariskan buat anak-anak? Dulu aku sering mendengar ketika Bapak berkata kelak kami tidak bisa meninggalkan warisan berupa harta, tapi hanya ilmu dengan mendidik kalian sebaik mungkin yang bisa kami tinggalkan buat anak-anak. Harta tak menjamin masa depan, tanpa ilmu. Aku pun sama, tak ada harta yang bisa diwariskan. Apalagi anak banyak, paling ada pun hanya sedikit yang didapat. Maka menulis adalah sarana bagiku meninggalkan jejak kenangan agar jika ada kebaikan yang bisa mereka kenang, aku berharap mereka akan meneruskannya.

Sarana mengikat ilmu

Ikatlah ilmu dengan menuliskannya, sebagimana bunyi hadist yang diriwayatkan oleh Ad-Darimi no 497. Tujuannya adalah untuk menjaga agar ilmu itu tidak hilang disebabkan betapa lemahnya daya ingat manusia. Setelah menuliskannya lalu mempraktekannya dan membagikan. 

Di jaman serba instan ini, gampang sebenarnya, nggak harus capek-capek nulis. Tinggal copy dan paste, tapi makna ilmu tidak tergali. Dengan menulis kita mencoba memahami dan mengolahnya dengan pemikiran kita sehingga bisa menemukan insight baru.  

Sarana berbagi Ilmu

Di kalangan sahabat, ada Usman bin Affan yang berinisiatif mencetak Al Qur’an sehingga dikenal adanya mushaf Ustman. Bahkan ulama-ulama besar dikenang karena karya-karyanya yang selalu digunakan sebagai rujukan. Contoh saja, Iman Syafi’i dengan kitab Al Umm yang terkenal itu. Atau Imam Malik dengan Al Muwathathanya. Apakah ulama hanya mereka? Tentu tidak. Bisa jadi banyak ulama besar lainnya yang lebih hebat dari mereka, tapi mereka menorehkan karya besar yang bermanfaat hingga akhir jaman.

Aku berkeyakinan bahwa, anak Adam meninggal maka terputuslah amal kebaikannya kecuali anak yang sholih yang selalu mendoakan, amal jariyah dan ilmu yang bermanfaat. Harapanku dengan menulis, menjadi sarana untuk berbagi ilmu dengan demikian aku akan berusaha menjaga rambu-rambu menulis dengan menulis yang baik-baik saja sehingga kelak, di masa depan jika ada yang mengambil manfaat maka akan bermanfaat pula bagiku.

Godaan banyak, apalagi saat ini. Menulis diaplikasi yang bisa mendatangkan cuan, namun melihat tulisan yang laku isinya kok agak menyeramkan gitu membuatku berpikir kelak semua akan dipertangungjawabkan di hadapan Allah SWT.

Sarana mengekspresikan diri


Teori kebutuhan Maslow menjelaskan bahwa setelah kebutuhan dasar terpenuhi, maka manusia akan mencari pemenuhan kebutuhan yang lain, sehingga puncaknya adalah pemenuhan kebutuhan penghargaan dan akualisasi diri. Nah setelah resign mengajar setelah 18 tahun dijalani, kebutuhan penghargaan dan aktualisasi beralih pada menulis.

Apakah selalu berharap dihargai? Ya nggak juga. Tapi beberapa kali mendapat apresiasi seneng juga. Apalagi dapat hadiah berupa duit... nggak seberapa tapi bahagia. Eh UUD : ujung-ujungnya duit juga nih.

“Be profesional, rejeki will follow ~ Jadilah profesional maka rejeki akan mengikuti” Septi Peni Wulandani

Sarana menuangkan pikiran dan relase emosi


Sebagai orang yang berbakat thinking dalam assement tallent mapping, bahkan kadang overthingking maka butuh penyaluran agar pikiran-pikiran yang kadang bersliweran itu terarah. Maka menulis menjadi sarana menuangkan lintasan pikiran agar tidak berasa berat lagi di kepala.

Demikian juga ketika sedang emosi, salah satu cara merelese emosi adalah dengan menulis. Curhat lah begitu biasanya. Kan daripada curhat sama orang lain tidak menyelesaikan masalah malah menjadi masalah baru. Karena sejatinya kala perempuan curhat, bukan untuk mencari solusi tapi melepaskan beban dan mencurahkan tabungan kosa kata yang konon katanya 20.000 per hari.

Penutup


Banyak alasan buat menulis, dan apapun alasan itu agar bisa menulis dengan baik butuh belajar dan latihan. Practice makes perfect, latihan akan membuat sempurna. Karenanya butuh wadah buat latihan menulis, carilah wadah itu. Salah satunya komunitas one day one post ini. Yuk semangat menulis bukan sekedar agar lulus tantangan tapi sarana berbagi kebaikan dan masa depan dunia literasi kita.

 

 

 

 

 

 

Tami Asyifa
Seorang ibu dengan 7 anak, saat ini sedang menikmati menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya tapi tetap produktif. Pendidikan dan literasi adalah bidang yang menarik bagiku.

Related Posts

Posting Komentar