A directory

Bingka Kentang Favoritku di Balikpapan

12 komentar

 

Judul artikel bingka

Salah satu nilai tambah merantau dan tinggal di daerah yang multi etnis adalah kita bisa merasakan aneka kuliner dari berbagai suku yang mendiami daerah itu. Bingka kentang salah satu contohnya. Kue legit yang dibawa suku Banjar hingga ke wilayah lain di luar Kalimantan Selatan itu bahkan sangat populer di sebagian besar kota yang ada di Kalimantan Timur.

Maka, ketika aku dan keluarga kembali ke Samarinda setelah merantau ke ujung utara Kalimantan yaitu Pulau Nunukan Kalimantan Utara, bingka kentang menjadi salah satu makanan yang kudu segera dinikmati. Di Nunukan kami belum menemukan bingka yang cocok di lidah sebagaimana saat dulu kami tinggal di Balikpapan.

Saat jalan-jalan keliling kota Samarinda, beberapa lapak wadai (wadai = kudapan = kue-kue) berdasarkan rekomendasi pak suami yang lebih dahulu mengenal kota Samarinda kami jajal. Tapi tetep, lidah yang belasan tahun menikmati makanan ala kota Balikpapan tetep menyimpan memori kelezatan bingka Balikpapan.

Bingka kentang  khas Banjar di Balikpapan


Balikpapan, kota yang terletak di sebuah teluk ini dihuni oleh berbagai suku. Konon karena Balikpapan merupakan ruang tamunya kota-kota di Kalimantan Timur. Meski tak terlihat ada yang lebih menonjol, suku Jawa menduduki presentasi tertinggi disusul rumpun Tionghoa, Bugis dan Banjar. Masih ada suku lainnya seperti Kutai, Paser, Madura, dan banyak lagi.

Sajian kulinernya pun kaya ragam. Lidah jadi termanjakan dengan cita rasa yang beragam sesuai dengan ragamnya suku yang tinggal di Balikpapan. Bahkan perkawinan cita rasa kuliner ini tak terelakkan lagi. Jadi jamak jika suku tertentu jadi penggemar kuliner suku yang lain.

Bingka adalah kue khas Banjarmasin yang banyak dijumpai di Balikpapan, sejenis kue lumpur kalau di Jawa. Kue bingka banyak variannya , tergantung dari bahan yang ditambahkan ada bingka labu kuning, bingka pisang, juga bingka kentang tentu saja. Dan ini yang paling juara menurutku. Karena rasa gurih dari kentang dan santan berpadu dengan manisnya gula begitu pas.

Tempat jualan kue

Kedai bingka di Balikpapan


Cukup mudah mendapatkan bingka di Balikpapan. Banyak kedai wadai yang menjajakannya. Biasanya pagi sekali kedai-kedai ini sudah buka, karena sarapan wadai dengan secangkir kopi atau teh sebelum berangkat kerja menjadi tradisi di sini. Sarapan nasi masih terlalu berat di pagi hari. Setelah beberapa tempat kami coba, aku merasa ada dua tempat yang bingkanya recomended banget.

Kedai bingka Stalkuda


Kedai ini dekat dengan rumah dinas kami waktu tinggal di Balikpapan, jadi tinggal meluncur sedikit saja, bingka hangat dan gurih bisa segera dinikmati. Kalau mendadak ada tamu atau kerabat datang berkunjung sementara di rumah tidak ada kudapan, tempat ini jadi tujuan. Selain bingka kentang ada jajanan lain yang disediakan, tapi bingka tetap yang jadi favorit.

Cukup mudah untuk sampai ke tempat ini, jika dari arah pusat kota Balikpapan kita berjalan menyusuri sepanjang jalan Jenderal Sudirman , setelah melewati pusat perbelanjaan besar Balikpapan Super Blok (BSB) di sebelah kanan jalan ada toko oleh-oleh dengan nama “Bingka Kentang Stalkuda “ . Terletak di pinggir jalan utama menuju Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan Balikpapan, tempat ini sangat mudah dijangkau. Tepat sekali jika kedai ini menjadi tempat untuk membeli oleh-oleh khas Balikpapan, terutama bingka nan legit itu.

Ada beberapa macam, bentuk, dan rasa bingka kentang Stalkuda, mau yang mini, standar, atau yang ukuran besar. Ada rasa yang original, coklat, pandan, serta keju. Tinggal pilih, sesuai selera.

Bingka kentang H. Amin


Kalau bingka yang ini juaranya menurutku, apa karena pertama merasakan karena dikasih tetangga gratis ya...hahaha. Ngga sih, memang enak kok. Adonannya beda dengan bingka sejenisnya di tempat lain. Hampir-hampir tidak merasakan adanya tepung, hanya telur, kentang dan santan. Begitu bingka yang lembut itu masuk mulut, ahaaaa langsung lumeer. Manis dan gurihnya telur berpadu santan kental luar biasa rasanya. Nagih dah.

Karena penasaran dengan kesan pertama menikmati bingka ini, langsung dong nyari tempat jualannya. Berdasarkan informasi tetangga yang mengantar bingka itu, tempat jualan bingka H. Amin di sekitar pelabuhan Semayang. Lalu beliau tak lupa berpesan, antriannya panjang dan cepat habis. Bayangin begitu buka pk. 08.00 Wita, siangan dikit sudah ludes. Sebagian besar kue yang ada sudah dipesan sebelumnya. Jadi kalau pengen banget menikmati bingka kentang H. Amin harus pagi sekali tongkrongin warungnya. Atau pesan terlebih dahulu.

Ngeper mendengarnya, nggak lah justru semakin menantang. Maka meluncurlah dari Stalkuda ke Semayang. Tak asing lagi karena daerah sini tempat main juga, ada saudara yang tinggal pas di samping pangkalan TNI AL Semayang dan di gang ini pula rumah H. Amin berada. Sayangnya beliau hanya jualan ketika bulan Ramadhan saja. Dulu entah sekarang.

salah satu model bingka

Cara membuat bingka


Dulu setelah dua tahun meninggalkan Balikpapan ada rasa kangen makan bingka saat di Nunukan. Jalan satu-satunya ya mencoba membuat sendiri. Caranya, dua butir kentang dikukus dan dihaluskan sampai lembut. Kocok telur dan gula hingga tercampur rata lalu masukkan kentang halus dan tepung, ditambah santan serta sedikit margarin yang sudah dicairkan. Setelah tercampur rata jadi adonan, baru masuk loyang dan di oven. Tak lama aroma sedap menguar.

Meski tak sama persis dengan bingka H. Amin yang super duper gurih itu, atau bingka Stalkuda, cukuplah untuk mengobati rasa kangen. Setidaknya ini bingka kentang pertama buatan tangan sendiri. Not bad. Makanan enak itu tergantung langkah pertama. Setidaknya kalau tidak pernah mencoba, tak akan pernah merasakan bisa membuat sesuatu.

Penutup


Kini nggak lagi merasakan kangen dengan bingka, karena di Samarinda banyak. Dan nggak perlu repot membuat sendiri, tinggal melangkah keluar rumah sedkit saja, dapat deh. Apalagi di daerah kami juga ada yang lumayan enak. Bingka kentang dekat masjid Muhajirin Bengkuring boleh juga kok.



Tami Asyifa
Seorang ibu dengan 7 anak, saat ini sedang menikmati menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya tapi tetap produktif. Pendidikan dan literasi adalah bidang yang menarik bagiku.

Related Posts

12 komentar

  1. Belum pernah lihat dan belum pernah ngrasain kue yang terbuat dari kentang. Pernahnya donat kentang doang.. wkwkw. Kayanya enak ya bu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Enak mbak... Manis, gurih gitu sih. Apalagi komposisinya banyak kentang dan telur. Wih gurih banget.

      Hapus
    2. Enak banget. Yang digambar itu bingka H. Amin.. Nomor 1 bingka kentang di Balikpapan. Tapi nggak tahan lama jadi nggak bisa dikirim ke Semarang. 😃

      Hapus
  2. Iya, namanya kue lumpur. Aku suka ini, lembut, manis, enak. Dulu suka bikin buat anak². Tapi penasaran kepengin coba bingka Banjarmasin. Ngeces liat penampakkannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Eh iya, di Jawa namanya kue lumpur. Aku suka juga yang itu. Ayo mbak Desi buat dong trus tulis di blog seperti biasa. Suka baca tulisan masak-memasaknya mbak. Desi

      Hapus
  3. Tulisannya bikin baper, pengen nyobain tapi di Semarang nggak ada, aku tahunya bingka ambon, eh bika ya? Bukan bingka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Beda di Ng ya pak. Martin. . Mirip sih rasanya.

      Hapus
  4. di Sukabumi ga ada bingka kentang. Tapi ada resepnya nih di tulisan bu Tami, jadi penasaran pingin nyoba buat nih nanti sama istri, kayanya yummy banget, bu

    BalasHapus
  5. Pertama kenal ini tahun 90an waktu kakak tugas ke Pontianak, duh enaaaak banget.
    Rasa itu terus saya simpan karena nggak tahu harus beli di mana.
    Eh...tiba2 2020 nemu dong di IG. Jadi langganan deh nyobain aneka rasa.

    BalasHapus
  6. Aku belum pernah coba makan ini bu :D
    Jadi penasaran dan pengen coba deh, nanti kalau ada waktu bakal intip lagi resepnya bu :)

    BalasHapus
  7. Dari resepnya sih mirip sama resep kue "lumpur kentang" namanya kalau di Aceh. Mungkin emang sama kali yaa, karena kan tiap daerah punya namanya sendiri hehehhe

    BalasHapus
  8. Jadi penasaran p3ngen coba bingka kentang. Kuliner Indonesia memang banyak ragamnya. Ga pernah kehabisan ide mau makan apa saking banyaknya pilihan

    BalasHapus

Posting Komentar