A directory

Bekal Menikah : Enam Poin Persiapan Menuju Pernikahan

11 komentar

 

Bekal menikah enam persiapan

Hai Readers, Bulan Syawal musim nikahan nih! Sudah pengen menikah atau menikahkan anak? Ada baiknya sebelum berlanjut ke proses selanjutnya kita siapin dulu bekal menikah karena menikah adalah suatu lompatan besar dalam kehidupan seorang manusia dewasa. Setelah menikah kehidupan yang akan dijalani jauh berbeda dari sebelumnya. Tidak hanya status, adanya peran baru dan tanggung jawab dalam sebuah pernikahan yang harus diemban.

Enam Poin Bekal Menikah Yang Harus Disiapkan


Pernikahan adalah sebuah pekerjaan seumur hidup dengan banyak kisah, tidak hanya sisi keromantisan tapi juga fakta bahwa tidak semua selalu berjalan baik-baik saja.Ibarat bermain di pinggir pantai, kala memulai pernikahan kita baru menyusuri tepi pantai sambil menikmati sapuan ombak yang lembut. Kemudian mencoba mengukur seberapa jauh kedalam laut yang terhampar dihadapan kita, seberapa luas samudra yang akan kita arungi? 

Lalu kita mulai mengayuh sampan kecil kita dari titik nol ini, karena seberapa lama kita mengenal calon pasangan kita sebelum memutuskan menikah, di awal pernikahan sebuah menjadi serba baru. Dari titik nol ini sampan kita kayuh perlahan untuk melakukan pelayaran menuju samudra luas. Tidak ada pelayaran tanpa ombak, maka kita harus siap menghadapi deru ombak yang menghadang. Tinggal seberapa banyak persiapan pernikahan kita. 

Semakin matang persiapan kita, maka sampan kecil kita akan menjadi bahtera yang siap menghadapi deburan ombak di laut luas. Apa saja yang harus kita persiapan di titik nol menuju gerbang pernikahan?
Persiapan spiritual mental dan emosi


1. Persiapan Spiritual


Sebuah pernikahan tidak akan selamanya berjalan mulus tanpa batu sandungan atau masalah. Pun pada pasangan yang tampak bahagia, maka sebenarnya karunia bahagia itu adalah kemampuan mereka mengelola masalah. Aspek spiritual sangat berperan dalam mengelola masalah dalam pernikahan.

Perasaan dekat dengan Tuhan, dapat membantu menyelesaikan konflik dengan lebih tenang, dapat meningkatkan kemampuan bersabar dalam menghadapi ujian serta keteguhan dalam pasang surutnya pernikahan.

Niat Menikah

Perjalanan panjang yang harus berlandaskan niat yang benar dan kuat. Niat tertinggi dalam sebuah pernikahan adalah untuk beribadah kepada Tuhan, sehingga sangat tepat jika dikatakan bahwa menikah adalah menyempurnakan setengah agama.

Segala perbuatan berawal dari niat ini, sebelum memutuskan menikah sebaiknya kita sudah mengenal dengan baik siapa diri kita, tujuan hidup, visi dan misi hidup kita dan mampu merefleksikan diri dengan baik sehingga tergambar citra diri dengan jelas agar kelak ketika menikah menjadi lebih mudah memetakan visi dan misi keluarga.

Meningkatkan ibadah

Menikah adalah perbuatan baik yang tidak disukai oleh syaitan yang tugas utama memisahkan hubungan suami istri. Maka ketika memutuskan untuk menikah hingga saat menjelang pernikahan itu biasanya akan semakin banyak ujian dan godaan. Perbanyak beribadah dan mendekatkan diri pada Tuhan agar dijauhkan dari ujian-ujian yang dapat menggoyahkan niat dan tujuan menikah.

Keyakinan akan Takdir Allah

Sebuah pernikahan tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Bahkan menikah adalah mengikat janji atas nama Tuhan bahwa kita akan hidup bersama sesuai dengan ketetapan-Nya. Maka perihal jodoh ini kita harus yakin dengan ketentuan Allah. Bisa saja seseorang yang kita harapkan menjadi jodoh kita ternyata tidak sampai pada gerbang pernikahan, semetara ada orang lain yang justru tanpa kita duga dipersiapkan Allah menjadi jodoh kita.

Sabar dan syukur,

Salah satu aspek spiritual yang tak boleh kita abaikan adalah sikap sabar terhadap ketentuan yang telah ditetapkan Tuhan pada kita, bahwa semua itu adalah yang terbaik dari sisi-Nya. Boleh jadi apa yang sudah ditetapkan untuk kita adalah sesuatu yang diharapkan oleh orang lain. Maka bersyukurlah atas semuanya.


2. Persiapan Mental dan Emosi


Pernikahan merupakan langkah penting, sehingga persiapannya bukan sekedar menyiapkan acara di hari H nya agar tampak meriah dan sempurna, tapi juga pentingnya membawa bekal menikah yang cukup salah satunya kesiapan mental dan emosi sejak jauh hari.

Kematangan Kepribadian.

Kesiapan mental bukan sekedar bilangan usia seseorang tapi terkait dengan kematangan kepribadian atau proses pendewasaan. Karenanya kematangan pribadi merupakan kunci penting terkait kesiapan menikah.

dr. Dini Mirsanti, SpKJ menjelaskan bahwa kematangan kepribadian adalah sikap, cara dan prilaku seseorang dalam merespon kejadian dalam kehidupan sehari-hari. Sementara WHO mengidentifikasikan bahwa kematangan kepribadian seseorang terlihat jika yang bersangkutan telah mampu menyesuaikan diri secara konstruktif pada setiap kejadian meskipun berat, merasa puas dengan usaha dan perjuangan hidupnya. Hal ini akan menyebabkan seseorang :
  • Lebih puas memberi dibanding menerima
  • Bebas (relatif) dari ketegangan dan kecemasan
  • Suka tolong menolong
  • Mampu menerima kekecewaan dan tidak larut terlalu lama dengan rasa itu
  • Mampu mengalihkan rasa permusuhan pada penyelesaian masalah dengan kreatif dan  konstruktif
  • Mempunyai daya kasih sayang yang besar
Kematangan kepribadian ini erat kaitannya dengan proses pembentukan kepribadian pada usia 0 - 18 tahun. Dimana dua faktor saling terkait yaitu faktor internal dan eksternal. Faktor internal dalam hal ini genetik sedangkan faktor eksternal yaitu pola asuh, pendidikan, nilai, budaya, trauma kehidupan dan kehidupan beragama saling terkait.

Regulasi Emosi

Marah, sedih, gembira adalah hal yang wajar dalam kehidupan manusia, menjadi masalah ketika terlalu berlebihan. Kemarahan yang meledak-ledak, tak jelas bahkan menjurus pada tindakan fisik atau larut dalam kesedihan yang terlalu lama sehingga tidak mau berinteraksi dengan orang lain, tidak bisa diajak ngobrol, tidak tahu harus berbuat apa, selalu murung dan mengurung diri jelas menunjukan kurangnya kematangan emosi.

Regulasi emosi adalah cara kita untuk mengontrol emosi agar respon emosi kita tidak salah sehingga berakhir dengan penyesalan. Bisa dengan cara mengenali emosi kita dan bertanya pada diri sendiri

Sulit mengontrol emosi baik itu marah, sedih, cemas dan takut serta respon emosi dengan tindakan yang merugikan orang lain harus segera dikenali agar kelak tidak menjadi masalah berkepanjangan dalam kehidupan rumah tangga.

Kemampuan Mengatasi Konflik

Kelak dalam pernikahan, segalanya tak selalu berjalan mulus bak jalan tol. Bisa saja masalah datang silih berganti. Ketahanan keluarga terkait erat dengan kemampuan mengatasi masalah. Kenalilah diri, apakah kita termasuk yang suka lari menghindari masalah atau menghadapinya? Kalau para orang tua dulu bilang "Jangan terbiasa purik (ngambek dan pulang ke rumah orang tua) "

Bagaimana jika masalah itu datang?

Pertama, menerima. Iya sikap menerima bahwa kita punya masalah adalah pintu masuk dalam menyelesaikan masalah. Sedangkan sikap menghindar atau merasa tidak ada masalah justru suatu saat akan menjadi boom waktu yang ketika meledak, tahu-tahu sudah besar dan sulit diselesaikan.

Kedua, menghadapi. Jangan biarkan masalah-masalah menumpuk sehingga menjadi bola salju yang semakin lama semakin membesar. Hadapi dan selesaikanlah. Caranya :
Bangun dialog, beri tahu dengan jelas apa yang kita rasakan, saling mendengarkan, hindari debat dan saling menyalahkan.
Mencari penengah, saat masalah kita tidak dapat diselesaikan berdua, segera cari penengah yang netral.

Mampu Membangun Komunikasi

Bekal Menikah yang tak kalah penting adalah mental dan emosi yang baik tampak dalam kemampuan membangun komunikasi. Bisa diajak berbicara dan diskusi dengan baik. Bisa berbicara sekaligus menjadi pendengar yang baik. Tidak merasa superior dan selalu mendominasi.

Mengenal Bahasa Kasih

Jika kita ingin mendapat perlakuan yang baik dari orang lain maka berlakulah sebagaimana kita ingin diperlakukan. Bahasa kasih adalah bagaimana seseorang ingin diperlakukan dan memperlakukan orang lain. Maka kita perlu mengenalnya setidaknya bahasa kasih kita sendiri. Ada lima tipe orang dalam mendapatkan perhatian, berupa perkataan, waktu yang berkualitas, sentuhan fisik, hadiah atau cendera mata dan pelayanan. 

Minimal setiap calon pengantin mempunyai pemahaman yang baik tentang hak dan kewajiban, peran suami dan istri, etika pergaulan juga komunikasi produktif.
Persiapan intelektual fisik dan kesehatan


3. Persiapan Intelektual


Persiapan menikah yang ketiga adalah kemampuan intelektual atau bekal ilmu. Sebelum menikah, setidaknya sudah punya bekal ilmu seputar pernikahan dan kerumahtanggaan. Meski tidak ada sekolahnya namun saat ini sudah banyak komunitas atau lembaga yang mengadakan kursus atau pelatihan pra nikah. Bahkan dalam UU RI no 16 tahun 2019 sebagai perubahan atas UU no 1 tahun 1974 tentang perkawinan memuat pasal bahwa setiap calon pengantin wajib ikut bimbingan pra nikah yang diselenggarakan oleh lembaga terkait dalam hal ini Kantor Urusan Agama.

4. Persiapan Fisik dan Kesehatan


Seperti yang dirilis dari laman Indonesia go.id. Membangun keluarga memiliki tiga tujuan:
  1. Membangun ketahanan dan kualitas balita dan anak dalam memenuhi tumbuh kembangnya.
  2. Terbangunnya ketahanan keluarga remaja dan kualitas remaja dalam menyiapkan kehidupan berkeluarga.
  3. Meningkatnya kualitas lansia dan pemberdayaan keluarga rentan sehingga mampu berperan dalam kehidupan keluarga. Serta, terwujudnya pemberdayaan ekonomi keluarga untuk meningkatkan kesejahteraan keluarga.
Seseorang yang akan menikah sebaiknya sudah siap secara fisik  dengan kata lain, ia sudah meraih akil baligh serta sudah siap memenuhi tugasnya sebagai seorang istri ataupun sebagai seorang suami. Selain menjaga asupan makanan dengan mulai membiasakan makan makanan yang bergizi, melakukan olahraga juga medical check up jika diperlukan dan disepakati kedua belah pihak.

Sebelum menyelenggarakan pernikahan sebaiknya periksa kesehatan tubuh terlebih dulu terlebih yang menyangkut permasalahan reproduksi lantaran satu diantara maksud pernikahan yaitu nanti pasangan bakal mempunyai keturunan. Oleh karenanya, bila ada permasalahan pada fisik serta organ tubuh yang terkait dengan hal itu sebaiknya diatasi terlebih dulu.

Setidaknya ada beberapa item tes kesehatan yang bisa menjadi pertimbangan untuk dilakukan sebelum menikah, seperti tes golongan darah terutama rhesus, torch, ginekologi, dan penyakit menular seksual. Minimalnya calon pengantin melakukan vaksin Tetanus Toxoid (TT) bagi calon pengantin perempuan.
Persiapan finansial dan sosial


5. . Persiapan Finansial


Finansial bukan yang utama dalam persiapan menikah, namun bukan berarti tak penting. Menikah dengan biaya minimalis pun bisa dilakukan. Tapi masalah finansial ini bukan sekedar biaya pernikahan tapi bagaimana kehidupan rumah tangga ke depan.

Menikah tak harus dalam kondisi mapan secara finansial, tapi bagaimana mempersiapkan finansial keluarga kedepannya. Maka hendaknya calon pengantin punya kemandirian finansial terutama bagi calon suami. Meski belum punya penghasilan tetap tapi setidaknya tetap bekerja dan berpenghasilan.

Masalah finansial ini bisa menjadi topik untuk dibicarakan bersama saat merencanakan pernikahan. Pendapatan, untuk mengetahui berapa nominal yang akan menjadi sumber dana dalam kehidupan pernikahan. Pengeluaran, diskusikan bagaimana gaya hidup, kebutuhan bulanan dan aneka pengeluaran lainnya. Jangan lupa jika ada hutang pun harus didiskusikan. Perjelas apa itu nafkah, kebutuhan rumah tangga dan visi keuangan kedepannya.

6. Persiapan Sosial


Menikah terutama di negeri kita ini, bukan sekedar bersatunya dua insan, namun juga dua keluarga besar. Akan ada mertua, ipar juga keluarga lainnya. Persiapan sosial yaitu segalanya yang menyangkut kedudukan seorang di orang-orang, dalam soal ini seorang yang bakal menikah baiknya memiliki hubungan yang baik dengan orang-orang terlebih ditempat nanti pasangan yang bakal menikah itu tinggal. Pernikahan nanti tidak hanya menyangkut mempelai saja tetapi juga melibatkan keluarga besar dan orang-orang di sekelilingnya.

Penutup


Pejalanan panjang sebuah pernikahan akan segera dimulai, maka sebelum layar terkembang dan biduk dikayuh menuju samudera rumah tangga, bekal menikah jangan sampai ketinggalan. Meski dalam perjalanan nanti ombak dan gelombang silih berganti menghadang, setidaknya kita sudah siap dengan perbekalan.


Referensi :

Buku Kado Pernikahan
Buku Menikah Untuk Bahagia
Buku Pernikahan Generasi Milenial
Buku Wedding Journal
Indonesia.go.id
Materi Kelas Bunda Sayang



Tami Asyifa
Seorang ibu dengan 7 anak, saat ini sedang menikmati menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya tapi tetap produktif. Pendidikan dan literasi adalah bidang yang menarik bagiku.

Related Posts

11 komentar

  1. Lengkap bangreett, cucok nih buat dibaca calon manten, atau manten yang pengen nambah perbekalan. Semoga lancar ya mbak acara mantunya

    BalasHapus
  2. MasyaAllah.. untuk menikah itu banyak yang perlu dipersiapkan ya, Bu. Bahkan sampai tes-tes kesehatan juga.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, tergantung kesepakatan juga sih. Untuk orang yang aware terhadap masalah kesehatan biasanya akan melakukannya.

      Hapus
  3. Kalau semua pasangan ngejalanin persiapan sebelum nikah kayak gini. Bisa menimimalisir kasus perceraian ya, Bu. Menikah kan, seni mengalah bukan mengedepankan egois dan idealisme diri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ibarat akan melakukan perjalanan panjang, yang membawa bekal cukup dengan yang tidak tentu beda ya mbak meski ujian, cobaan dan gangguannya sama.

      Hapus
  4. Iih setuju banget sih sama tips2 yang dishare di sini. Mau nikah muda atau nikah tua, kalau calon pasutri sudah punya bekal yang ditulis di artikel ini, ada badai segala macam yang menerjang, insya Allah tetap kuat ya bu.

    Aku termasuk orang yang dulu nikahnya kurang persiapan, cuma modal cinta, eaaa... akhirnya 6 tahun pertama pernikahan rasanya sungguh seperti neraka. Alhamdulillah masa2 itu telah terlewati. Bersyukur dapat pasangan yang sabar banget dan mau sama2 belajar, jadi masih bisa bareng sampai sekarang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulillah, dengan terus belajar, menerima dan memperbaiki diri sekarang sudah menjadi surga. Semoga selalu sakinah mawadah wa rohmah meski harus melewati ujian demi ujian.

      Hapus
  5. Masya Allah persiapannya kudu lengkap 6 poin ini ya bu. Semoga bekal ini bisa membuat aku lebih siap ketika menikah kelak :)

    BalasHapus
  6. Relate banget. Pernikahan tanpa persiapan laksana perang tanpa senjata. Tidak hanya finansial, mental dan lainnya harus matang sekali untuk menghadapi momen sekali dalam seumur hidup itu

    BalasHapus
  7. Buat ⅔ hidup kita, emang gak bisa main2 ya.

    Sayangnya saya orang jadul, dulu sepertinya jalan aja... Gak mikir persiapan 😅

    BalasHapus

Posting Komentar