A directory

Berpetualang Dan Belajar Ke Pulau Sebatik Ala Homeschooler

26 komentar
Berpetualang dan belajar ke Pulau Sebatik

Hai Readers.

Sebagai keluarga yang memilih homeschooling, jalan-jalan, berpetualang dan belajar langsung di alam atau pada kehidupan yang sebenarnya merupakan agenda wajib dalam kurikulum keluarga kami. Bahasa kerennya travelschool gitu deh. Tapi karena durasi waktunya tak mesti berhari-hari bahkan berbulan seperti pelaku travelschool lainnya, kami tak cukup pede menggunakan judul travelschool. Cukup jalan-jalan dan mengambil waktu di hari sabtu-ahad kala Abi libur kerja. Jika tabungan cukup , sesekali agak jauhan dan paling lama sekitar dua pekan. 

Travelling sendiri juga tak harus ke tempat yang menyajikan wisata edukasi seperti museum, taman belajar atau situs bersejarah. Juga tak melulu ke tempat wisata dengan keindahan alam yang memesona. Asal jalan keluar rumah, melihat tempat-tempat baru yang belum pernah dikunjungi, mengenal budaya setempat, sejarahnya, kearifan lokalnya, potensi wilayah juga letak geografis dan bentang alamnya.

Terkadang ke pasar tradisional bareng-bareng, jalan kaki secara spontan tanpa keluhan, atau jalan-jalan pagi seputaran perkampungan nelayan dan petani rumput laut yang membentang di sepanjang garis pantai sekitar rumah tinggal kami sambil menikmati matahari pagi dan kesibukan ‘mabetang’ : bekerja mengikat rumput laut, sudah masuk agenda travelschool, edukasi seru ala homeshcooling keluarga Insan Mulia.

Manfaat Berpetualang Dan Belajar Di Alam

Sebagai orang yang lahir dan besar di desa, alam sudah menjadi bagian hidupku. Rasanya bahagia banget bermain lumpur di sawah, mandi di sungai dan main pasar-pasaran dari meramban tumbuhan di sekitar rumah. Maka ketika punya anak, aku ingin membagi kebahagian yang kudapat pada masa kecil dulu. Membawa anak-anak berpetualang di alam adalah bagian dari tumbuh kembang dan sarana belajar yang baik menurutku. Mengenalkan banyak hal pada masa kanak-kanak itu ada pengaruhnya kelak ketika dewasa. Nah apa saja manfaatnya?

Belajar Memahami Benda Dan peristiwa Secara Kongkrit

Sebuah pelajaran akan mudah dipahami dan diingat jika kita mengenalkannya mengunakan segenap panca indera kita, pengalaman belajarnya akan lebih bermakna daripada sekedar membaca atau mendengarkan. Mempelajari perairan tentu lebih asyik jika langsung menemukan sungai atau laut, menyetuhnya, mencium aromanya, merasakan butiran pasirnya, berenang di dalamnya dan menemukan aneka mahluk hidup yang ada di sekitarnya.

Lalu dari apa yang dilihat, didengar, dirasa itu menumbuhkan pertanyaan-pertanyan kritis, mengapa begini, mengapa begitu yang berasal dari anak itu sendiri. Wow keren kan, kita hanya sebagai fasilitaor saja. Kemudian anak-anak dilatih menemukan solusi dari masalah yang dihadapi, ini keren lagi.

Tidak Membosankan

Sesuatu yang berulang seperti rutinitas tanpa variasi tentu akan membosankan, begitu pula belajar. Sepekan menghadapi buku dan papan tulis, nggak sanggup deh bayanginnya. Maka begitu hari sabtu- ahad bahagianya luar biasa, karena mau libur. Betul tidak? Agar belajar tak membosankan kudu ada suasana baru. Salah satunya jalan-jalan.

Membuka Wawasan Dan Pola Pikir

“Ih mainnya kurang jauh nih” suka dengar ya kata-kata seperti itu disematkan pada seseorang yang gampang baper, berpikir sempit atau apalah. Bener deh, saat kita keluar dari rumah, melakukan perjalanan, bertemu banyak orang yang berbeda, sedikit banyak akan merubah pola pikir kita. Sudut pandang kita menjadi lebih luas, ibarat kata nih, melihat dari ketinggian 100 meter tentu berbeda dengan yang melihat dari ketinggian 1000 meter.

Membentuk Ketangguhan

Di rumah dengan ruangan yang bersih, makanan yang tersedia, tempat duduk yang nyaman kadang sambil rebahan tentu berbeda dengan di luar rumah dengan aneka rupa kejadian yang kadang tak terduga, unxepeted. Cuaca yang tiba-tiba berubah dan tak bersahabat, harus menunggu lama, atau tempat menginap yang seadanyaa, makanan yang tak cocok di lidah dan banyak lagi semua bisa dijadikan pelajaran untuk menumbuhkan penerimaan dan ketanguhan pada diri anak-anak kita.
Bagaimana kita bersikap, menata hati dan emosi , bertoleransi dan banyak lagi pelajaran yang tak dijumpai di rumah atau di bangku sekolah.

Membangun Keeratan Keluarga

Pergi ke luar rumah membuat kita merasa santai karena terbebas dari rutinitas yang membosankan sehingga anak-anak pun merasa lebih rileks. Terlebih jika Ayah Bunda hadir bersama-sama, anak-anak akan bahagia sekali. Moment ini bisa kita gunakan untuk meningkatkan bonding, ngobrol santai, diskusi ringgan, nasehat yang tak mengurui, juga belajar dengan nyaman.

Petualangan Bermakna Ke Pulau Sebatik

Pulau Sebatik terlihat dari arah Pulau Nunukan

Di negeri ini, mungkin ada beberapa daerah kabupaten yang mempunyai wilayah terpisah-pisah. Biasanya daerah kepulauan, seperti Kepulauan Riau, Kepulauan Bangka Belitung, Kabupaten Jepara dengan Pulau Karimun Jawanya, Kabupaten Gresik dengan Pulau Baweannya dan banyak lagi. Juga sebuah pulau yang dimiliki oleh dua negara seperti Pulau Papua dan Timor misalnya. 

Dan salah satu dari beberapa itu, kabupaten Nunukan punya keunikan tersendiri. Merupakan wilayah perbatasan negeri paling utara dengan tanda Wallace Bay yang membentang dari timur ke barat, juga sebuah kabupaten yang memiliki tiga wilayah yang berbeda pulau. Wilayah satu ada di Pulau Nunukan, wilayah dua di Pulau Sebatik dan wilayah tiga di Pulau Kalimantan. Bahkan sebuah pulau di wilayah dua dimiliki oleh dua negara, Indonesia dan Malaysia.

Sebagai pendatang baru di kabupaten ini, tentu terbit rasa penasaran ingin menjelajah, apalagi saat jiwa petualang bergejolak. Setelah wilayah satu, Pulau Nunukan tempat kami tinggal tuntas dijelajahi pada tiga bulan pertama kami tiba, maka pulau seberang itu akan menjadi destinasi selanjutnya. Pulau seberang itu bernama Sebatik. Sebuah pulau yang bahkan dari halaman rumah pun nampak jelas bentangnya, layaknya perbukitan yang melingkupi suatu daerah, padahal terpisah selat. Sampai saat ini aku belum tahu pasti apa nama selat itu, tapi masih satu jalur dengan Selat Makasar.

Setelah tiga bulan memendam keinginan itu, terlebih saat ada teman-teman kantor atau pengajian mengajak jalan kesana sementara izin dari Abi belum turun juga akhirnya berita baik itu tiba. Jum’at malam, Abi mendapat undangan untuk mengisi acara parenting di sebuah sekolah islam terpadu dan mabit teman-teman pengajian di Sebatik. Dengan sedikit rayuan pulau kelapa dan alasan saatnya anak-anak belajar di luar rumah maka kami boleh ikut berangkat bareng. Anak-anak langsung berbinar bahagia. Sabtu pagi itu, dalam waktu sesingkat-singkatnya, karena tidak direncanakan sama sekali, kami bersiap. Tiga ransel berisi perbekalan untuk menginap sehari semalam pun telah bertengger di punggung dan kami melaju menuju pelabuhan speed.

Ada banyak pelabuhan speed menuju Pulau Sebatik yang terdekat dari rumah pelabuhan speed Sungai Bolong dan pasar ikan, tapi kami malah ke pelabuhan speed dekat pelabuhan kapal Tunon Taka. Mungkin lebih dekat, karena jika ditarik garis lurus searah dengan pelabuhan di Bambangan tempat tujuan kami. Tak begitu lama sebuah motor speed menghampiri kami, tarif yang ditawarkan Rp. 60.000,- sekali jalan dengan maksimal penumpang enam orang. Jadi Rp.10.000,- per orang.

Diiringi gerimis kecil, speed kami melaju dari pelabuhan Lingkar menuju Bambangan di Sebatik Barat. Dulu sekali sudah beberapa Abi atau Bundanya kali naik speed kecil seperti ini dari Balikpapan ke Penajam atau sebaliknya, namun buat anak-anak ini yang pertama kali. Mereka berseru kegirangan, meski air hujan dan percikan air laut membasahi tubuh. Tak sampai 15 menit, speed pun sampai ke seberang.

Dari Bambangan kami masih harus naik mobil selama satu jam untuk sampai ke tempat acara di Sebatik Timur. Namun perjalanan satu jam itu tak terasa membosankan, terlebih jalan yang dilalui sudah lumayan mulus serta pemandangan perbukitan dengan pepohanan yang hijau menyejukan mata, lalu berganti perkebunan sawit yang luas,dan pemukiman penduduk yang jarang-jarang. Hampir lima kali mobil yang kami tumpangi harus berhenti di setiap pos penjagaan yang dijaga oleh para tentara yang selalu siap siaga. Mobil berhenti dan kaca mobil harus dibuka sementara sopir akan melapor di pos tersebut apa dan berapa penumpang yang dibawa serta tujuan kemana? Begitulah meski memasuki negeri sendiri, kami harus melalui pemeriksaan yang lumayan ketat.

Awalnya kami bertanya-tanya, seketat itu prosedur disini? Menurut keterangan pak sopir yang membawanya kami, beginilah SOP daerah perbatasan, salah satunya untuk menghindari tenaga kerja ilegal ke seberang, human trafficking, juga penyelundupan barang terlebih narkoba. Padahal, jalan tikus mah tetep banyak. Terbukti, Nunukan menjadi salah satu jalur perdagangan Narkoba di negeri ini.

Setelah memalui pos pemeriksaan ke lima, akhirnya kita bisa melenggang bebas menyusuri jalanan yang berkelok menuju arah utara dan timur Pulau Sebatik. Apa saja yang akan menjadi keseruan kita disini, yuk simak!

Satu Pulau, Dua Negara

Pulau Sebatik merupakan salah satu dari 31 satu pulau kecil terluar yang berpenduduk di negeri ini. Wilayah ini dimiliki oleh dua negara yang tentunya ada sejarah panjang sehingga pulau ini terbagi seperti ini. Menurut Dr. Y. Paonganan, M.Si, direktur Eksekutif Indonesia Maritime Institute, pada artikelnya di batasnegeri.com, awal mulanya Pulau Sebatik di kurun waktu tahun 1911-1942 merupakan daerah eksploitasi kayu bagi penjajah Belanda. Sementara sebagian wilayah , tepatnya di bagian utara dimiliki oleh Ambo Mang bin Haji Midok, pria berkebangsaan Malaysia yang pertama kali membawa keluarganya menetap di Sebatik tepatnya di daerah Liang Bunyu. Kemudian ada kesepakatan khusus antara kerajaan Belanda dan Britania terkait daerah koloninya, termasuk di Pulau Sebatik ini.

Dalam perjanjian yang disepakati penjajah Belanda dan kolonial Inggris, Pulau Sebatik menjadi dua bagian, 246,61 km sebelah selatan masuk wilayah penjajah Belanda dan 187,23 km wilayah utara masuk daerah kekuasaan kolonial Inggris yang ditandai dengan pemasangan patok perbatasan. Jauh sebelum kedatangan penjajah Belanda maupun Inggris, pulau ini terdiri dari kerajaan-kerajaan yang berbeda-beda.

Hingga akhirnya Indonesia merdeka dari penjajah Belanda dan Inggris melepaskan Malaysia, pulau ini tetap menjadi dua wilayah yang berbeda. Masalah patok perbatasan seringkali mengalami pasang surut penyebab ketegangan hubungan kedua negara ini, terlebih banyak patok-patok wilayah negera tetangga yang bergeser jauh ke arah wilayah Indonesia. Makanya di pulau ini akan banyak ditemukan pos-pos penjagaan perbatasan baik di darat maupun di laut.

Secara administatif, di Pulau Sebatik terdapat lima kecamatan. Kecamatan Sebatik Barat terdapat empat desa yaitu, Bambangan, Sungai Limau, Setabu dan Binalawan. Kecamatan Sebatik Tengah terdapat empat desa juga yaitu, Aji Kuning, Sungai Limau, Maspul dan Bukit Harapan. Kecamatan Sebatik Timur ada desa Bukit Ayu Indah, Sei Nyamuk, Tanjung Aru dan Tanjung Harapan. Sedangkan Kecamatan Sebatik Utara ada desa Sei Pancang, Lapri dan Seberang.

Penghasil Cacao Terbaik

Di tengah-tengah perjalanan, sampailah kami disebuah desa dengan tanaman coklat di sepanjang jalan. Serempak kami berteriak “Coklat” ! Tak lama Pak Sopir pun menghentikan mobilnya. Ternyata ada kebun coklat diantara hutan dan kebun sawit disini. Setelah menemui salah satu pemilik kebun coklat, di Desa Sungai Limau Kecamatan Sebatik Tengah terkuaklah cerita bahwa dulu tanaman coklat merupakan primadona perkebunana disini. Coklat Sebatik meupakan coklat terbaik yang biji-bijinya banyak dicari oleh para pedangan Malaysia. Yes, tepatnya di Tawau Malaysia Timur ada pabrik coklat besar dan Malasyia merupakan produsen makanan berbahan coklat, contohnya saja milo. Pernah dengar kan, milo Malaysia lebih enak daripada milo produksi Indonesia.

Dulu di kurun waktu 1990-2002, kawasan perkebunan coklat di Sebatik seluas 8000 hektar. Lalu di tahun 2018 tinggal 2000 hektar karena berganti dengan kelapa sawit. Harga kelapa sawit yang lebih menjanjikan serta insetif dari pemerintah daerah membuat pekebun banyak yang beralih ke komoditas sawit ini. Padahal, sawit lebih banyak menyerap air dan menyebabkan kekeringan suatu daerah, ujar Bapak Sopir saat kami sudah melanjutkan perjalanan.

Rumah Unik Di Dua Negara

Gimana rasanya punya rumah yang berada di dua negara? Tentu unik kan ya. Dalam perjalanan menuju Sebatik Timur tempat acara, sejenak kami mampir ke rumah ini setelah sholat dhuhur di masjid depan jalan masuk menuju rumah ini. Dimilik oleh warga negara Indonesia di Desa Aji Kuning Sebatik Tengah. Awalnya mereka akan membangun dapur, tapi ternyata tanah tempat bangunan tersebut berada wilayah Malaysia yang ada di atas sungai kecil. Jadi sejak tahun 1997 rumah unik ini mempunyai ruang tamu dan kamar di Indonesia, sementara dapurnya di Malaysia. Kabar terbaru, rumah itu kini sudah seluruhnya berada di Indonesia setelah terjadi kesepakatan 13 pilar baru Outstanding Boundary Problem (OBP) menurut rilis pada situs Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) tahun 2019 lalu.

Patok 3, Sebuah Pos Perbatasan

Patok tiga sebuah pos perbatasan

Tepat di depan rumah dua negara, terdapat pos penjagaan dan perbatasan yang disebut patok 3. Uniknya, biasanya patok perbatasan berada jauh dari pemukiman atau di hutan, tapi patok perbatasan ini justru terletak di kawasan pemukiman yang juga pintu gerbang perniagaan juga pintu masuk menuju Tawau Malaysia. Di belakang rumah dua negara terdapat sungai nah dari sungai itu tinggal naik perahu kayu sampai ke muara, lalu menuju laut bebas dan menyebrang ke Tawau Malaysia yang hanya membutuhkan waktu 20 menit saja.

Setelah puas melihat-lihat bahkan sempat menginjakkan kaki ke tanah Malaysia kami melanjutkan perjalanan. 

Sore Di Pantai Marina

Pantai Marina Tanjung Aru

Sampailah kami di kota kecamatan Sebatik Utara, tepatnya di desa Sei Pancang, teman-teman Abi sudah menunggu dan kami makan siang bersama. Usai makan siang, Abi melanjutkan acara bareng temannya dan kami istirahat di hotel. Salah satu teman Abi menyarankan menginap di City Hotel Sebatik di Jalan H.Beddurahim Sei Pancang Sebatik Utara. Kami mengambil kamar VIP, kamarnya lumayan luas ada dua buah bed besar yang satu bednya bisa muat dua orang, sebuah meja dan tivi diatasnya serta Ac yang lumayan dingin. Sayangnya kamar mandinya agak kurang representatif, kecil dan maaf ‘agak jorok’ menurut standar kami. Saluran air kurang lancar dan ada kran air yang tak berfungsi dengan baik. Tapi harganya sesuailah, untuk kelas VIP disini hanya mengeluarkan uang Rp. 230.000,- saja. Disini kami berempat akan menginap sementara Abi mabit bareng temannya di masjid.

Usai sholat Ashar, acara Abi selesai. Kami berencana akan ke pantai, anak-anak sudah merindukan pantai dan ingin bermain pasir. Konon pantai – pantai di Sebatik lebih aman daripada di Nunukan. Aman dari ancaman buaya. Setelah menimbang waktu yang sudah sore, akhirnya diputuskan ke Pantai Marina yang terletak di desa Tanjung Aru Sebatik Timur. Pantai yang lebih dikenal dengan nama Bukit Aru Marina ini sebenarnya milik pribadi. Hery sang pemilik lahan mengembangkannya menjadi tempat wisata. Selain pantai, disini juga disajikan sarana flying fox, banana boat dan ATV motor. 

Tiket masuk hanya Rp. 5000,- per orang. Murah banget. Bahkan pas kami datang, tidak ditarik biaya sepeser pun. Kami menikmati pantai dengan bebas, tak lama anak-anak berebut mandi di pantai. Sayangnya bayangan kami tentang sebuah pantai yang membiru tak sesuai kenyataan. Air pantai yang coklat dan serakan sampah sungguh tak sedap dipandang.
Ketika Maghrib menjelang, kami pun meninggalkan pantai Marina.

Wisata Kuliner Di Malam hari

Menginap di pusat kota kecamatan Sebatik Utara yang ramai, membuat malam kami lebih semarak. Sengaja kami menyusuri Jalan Ahmad Yani sebelum memutuskan untuk makan di salah satu kedai makanan. Rumah makan, warung tenda, kedai-kedai menawarkan menu yang mengoda. Ada aneka seafood segar, ikan baulu (ikan bandeng) tanpa duri bakar yang tak beraroma tanah dengan sambal gurih diatasnya, roti canai dan roti tissu khas Malaysia, mi goreng spesial ala Malaysia yang bercita rasa tajam, minuman kelapa muda utuh serta tek tarik yang harum.

Ramai juga orang berwisata kuliner disini. Wajar juga sih, Sebatik merupakan daerah transit menuju Tawau Malaysia Timur. Akhirnya kami memilih salah satu kedai makanan dan memilih mi seafood untuk makan malam kami. Sebelum balik ke hotel, kami mencari minimarket untuk membeli cemilan dan bahan sarapan besok, karena di hotel tidak ada fasilitas sarapan.

Pelabuhan Sei Pancang

Aktifitas bongkar muat barang di pelabuhan Sei Pancang

Pagi sekali kami bangun, setelah sarapan kami ingin jalan-jalan ke pelabuhan Sei Pancang yang katanya dari pelabuhan ini, Bandar Tawau terlihat jelas. Bolehlah, sambil nunggu acara Abi selesai sekitar pukul 10 nanti. Pelabuhan ini merupakan pelabuhan terpanjang di Sebatik. Tepat berada di Sebatik Utara sehingga dari sini akan nampak jelas kota Tawau Malaysia. Dari pelabuhan ini, ke Tawau hanya butuh waktu sebentar saja. "Tidak sampai habis satu rokok," demikian tukang speed menggambarkan. Sekitar 15 menit saja. "Ibu mau coba? "tawarnya. Aku hanya menggeleng, ke Tawau hanya 15 menit, entah seperti apa laju speednya. Jangan-jangan terbang.

Dari pelabuhan Sei Pancang ini, arus keluar masuk barang dari Indonesia ke Malaysia juga sebaliknya cukup ramai. Anak-anak mengamati bongkar muat barang perniagaan, dari perahu-perahu kayu yang sandar di pelabuhan ini. setelah puas menikamti bongkar muat barang, mereka berinteraksi dengan anak-anak penduduk lokal yang asyik memancing atau mandi di air laut. Terjun ke air sambil berenang dengan riang menerbitkan rasa iri yang baik.

Kita akan mudah beradaptasi dengan lingkungan sekitar, anak-anak sini dari kecil hidup di laut, makanya jago-jago berenang”

Kata penduduk setempat, jika malam hari gemerlap lampu-lampu dari Bandar Tawau bak kunang-kunang di bertebaran di kejauhan. Kontras sekali dengan pulau Sebatik.

Di dekat pelabuhan Sei Pancang juga terdapat pelabuhan Angkatan Laut yang cukup megah. Harus dong, kan daerah ini border terluar wilayah negara Kesatuan Republik Indonesia. Pertahanan kemananannya harus kuat. Jadi ingat konflik Indonesia - Malaysia atas kepulauan Sipadan-Ligitan. Pasti rame dan penuh ketegangan ya di sini.

Tugu perbatasan Garuda Perkasa

Tugu Garuda Perkasa di perbatasan

Sebagaimana daerah perbatasan, di Sebatik juga terdapat tugu perbatasan sebagai tonggak yang menandakan wilayah masing-masing negara. Saat akan kembali ke Nunukan, dalam perjalanan pulang kami mampir ke tugu perbatasan ini. Tugu yang menggambarkan burung Garuda sebagai lambang negara Indonesia dengan bendera Merah Putih ini terletak di desa Aji Kuning Sebatik Tengah, tepat berada di sebelah kiri tepi jalan arah ke Bambangan. Jadi kita tak perlu muter jauh, tinggal belok dan sampailah di tugu yang terletak pada tanah yang agak tinggi.

Tugu garuda perkasa yang diresmikan oleh bupati Hj Asmah Gani pada Agustus 2012 ini mengambarkan burung garuda yang sedang mengigit bendera Merah Putih sementara sayapnya mengepak di atas bola dunia dengan peta Indonesia serta tulisan “NKRI Harga Mati”. Setidaknya rasa ini benar adanya, saat tinggal diperbatasan, rasa cinta Indonesia lah yang membuatmu bertahan karena jika bukan karena cinta, kemakmuran negeri tetangga sungguh memikat hati.

Keunikan dan Sosial Kemasyarakatan

  1. Suku asli penduduk Sebatik adalah suku Tidung, namun perlahan suku-suku lain pun banyak yang tinggal di Sebatik seperti suku Bugis dan Jawa. Suku Bugis mayoritas berada di daerah-daerah pinggir pantai sementara suku Tidung lebih banyak di pedalaman.
  2. Dua harga di warung makanan, sebagai daerah perbatasan, terlebih satu pulau dengan dua negara, maka disini ada dua mata uang yang beredar. Hingga di warung makanan pun ada dua daftar harga. Rupiah dan Ringgit. Jika di Nunukan banyak barang Malaysia, di Sebatik apa lagi.
  3. Tempat cuci tangan yang serupa tempat minum, di kebanyakan daerah Kaltara sebenarnya sama ada semacam tempat cuci tangan mengunakan teko yang dialasi dengan wadah bolong-bolong. Tapi pas tahu pertamanya di Sebatik ini. Karena bentuknya sama dengan teko minuman, awalnya kami kira tempat minum. Hati-hati lho ntar minum air kobokan lagi.
  4. Meski hidup berbeda kewarganegaraan, namun mereka rukun dan damai. Hidup berdampingan dengan harmonis, saling bertoleransi dan berbagi.

Tips Perjalanan Ke Sebatik

  1. Jika kita dari luar Kaltara, bisa naik kapal atau pesawat ke Tarakan lalu di sambung speed dari pelabuhan Tengkayu Tarakan ke Sebatik langsung (tapi jarang ada) atau ke Nunukan. Dari Tarakan ke Nunukan ada juga sih pesawat kecil, Wing air yang terbang tiap hari pukul 11.00 Wita. Tapi saat pandemi gini nggak ada lagi.
  2. Nunukan ke Sebatik bisa mengunakan speed kecil , melalui pelabuhan speed Sungai Bolong atau Lingkar. Bisa juga naik kapal ferry dari Sei Jepun yang beroperasi tiap hari pagi dari Nunukan, sore dari Sebatik
  3. Estimasi biaya untuk transportasi sekitar Rp. 500 ribu untuk dan mobil carteran, Rp. 60 ribu untuk speed sekali jalan berombongan 5-6 orang.
  4. Sebagian besar destinasi wisata yang kami kunjungi gratis jadi tak perlu biaya lagi
  5. Saat sedang di perjalanan sebaiknya tidak menelpon atau menerima telpon, karena ketika melintasi wilayah perbatasan kita akan kena roaming.

Pelajaran Yang Dari Perjalanan ini 

Dari petualangan ini anak-anak belajar tentang transportasi, merasakan naik speed, melihat arus keluar masuk wilayah melalui jalur perairan, merasakan langsung kesibukan di pelabuhan penyebrangan. Tentang geografi, dengan mengetahui batas wilayah negeri serta bentang alam. Belajar pendidikan kewarganegaraan, kedaulatan, pertahanan dan keamanan negara. Kegiatan perdagangan dan geliat ekonomi, mata uang dan pertukaran barang. Mengenal potensi wilayah, dan hasil bumi juga sosial kemasyarakatan. Komplit banget kan.

Belajar bisa dimana, saja kapan saja, dan dengan siapa saja, gitu sih anak-anak homeschooling. Berpetualang dan belajar, edukasi seru dan menyenangkan. Yuk kapan lagi kita jalan-jalan dan jangan lupa refleksi hasil belajar ya. Semangat!
Tami Asyifa
Seorang ibu dengan 7 anak, saat ini sedang menikmati menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya tapi tetap produktif. Pendidikan dan literasi adalah bidang yang menarik baginya.

Related Posts

26 komentar

  1. Srru ya mbak jalan bareng anak2, keren banget bisa homeschooling

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jalan bareng anak-anak dengan segala kerempongannya selalu seru

      Hapus
  2. Masya Allah jalan-jalannya seru banget tahu banyak hal.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, Jalan-jalan itu menemukan banyak ide.

      Hapus
  3. Aku sampe ngehalu. Ini petualangan banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama, travel writing bikin ngehalu pengen jalan-jalan lagi. Duh coroncess segera pergi dong.

      Hapus
  4. Asyiik banget mba jalan-jalan ke sana, aku pernah bantuin ngerjain proyek perbatasan indonesia jadi tau sebatik nunukan gitu tapi belum pernah ke sana

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah keren, aslinya lebih menantang. Ayo lah berpetualang

      Hapus
  5. masya allah seru bangeeet bacanya mbak. kaya dibawa berpetualangan ke sisi dunia yang lain 😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dunia lain ujung Indonesia ya. Artikel di Blog Puput juga lho, seru.

      Hapus
  6. Wow unik banget ya pulaunya diantara dua negara

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Kayak di pulau Timor juga siih sebenarnya.

      Hapus
  7. Semoga diberi kesempatan untuk bisa berkunjung ke tempat yang indah ini 😊

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin.. Semoga ada banyak waktu menjejal bumi Allah yang lain.

      Hapus
  8. Dari kecil punya impian buat bisa ke Sebatik, sewaktu kuliah bela-belain ikut beragam kegiatan volunteer ke Sebatik tapi nggak pernah lolos, hehe. Semoga suatu saat nanti bisa ke Sebatik dan Nagari Tapal Batas lainnya. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Semangat! Masih muda dan InsyaAllah kesempatan itu masih terbuka.

      Hapus
  9. Masyaallah senang sekali bisa mengunjungi pulau terluar Indonesia, bisa merasakan langsung kehidupan dua negara. Pasti banyak banget yang bisa dipelajari anak-anak juga umminya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget Bu. Lillah, membaca artikel teman-teman pun membuka wawasan semakin luas dan banyak tempat yang layak dikunjungi

      Hapus
  10. Seru banget bu jalan-jalannya. Dari tulisan ini jadi mengenal lebih mengenai pulau sebatik, terimakasih sharingnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama mbak. Yanti, semoga bisa saling mengunjungi suatu saat nanti

      Hapus
  11. masya Allah, petualangannya bener-bener nyata dan sarat makna. Ini sih masih jadi pulau antah berantah untukku. Mudah-mudahan ada taqdir bisa berkunjung kesana ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak. Antah berantah banget juga dulu. Kalau nggak mutasi ke sana nggak akan sampai tempat ini juga.

      Hapus
  12. Wahh seru nihh, dalam waktu berdekatan bisa langsung bepergian ke luar negeri klau deketan gini yaa..
    Pernah juga dgr juga (ntah bener, ntah hoax), diperbatasan kalimantan bahkan ada yg perbatasannya itu dipisahkan hanya dgn pembatas pagar ya mba ?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau di Sebatik bisa sih mbak langsung lintas negara. Tapi kalau ke seberang (Tawau) tetep pakai paspor.
      Aku tulis juga sih buat buku travel writing lg on proses.

      Hapus
  13. MasyaAllah senangnya bisa sampai ke titik batas dua negara, pelajaran berharga untuk anak-anak

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya mbak begitulah. Mumpung Bapaknya bertugas disini.

      Hapus

Posting Komentar