A directory

Konsep Libur Telah Tiba Anak Homeschoolingku

Posting Komentar

 


"Libur telah tiba, libur telah tiba horeee horee". Eits jangan baca dengan nada ya, meski kalimat di atas petikan syair sebuah lagu. Dari lirik lagu tersebut saja sudah menggambarkan libur itu sesuatu yang menyenangkan, apalagi mendengar melodi riang ketika lagu itu dinyanyikan. Ya libur apapun itu menyenangkan kok. Bunda libur masak saja rasanya happy banget, apalagi anak-anak libur sekolah setelah sekian hari berkutat dengan berbagai pelajaran dan kegiatan. Terus gimana dong dengan anak homeschooling yang tidak harus sekolah setiap hari?

Libur telah tiba ala anak homeschooling


Menjalankan homeschooling itu, yang paling menyenangkan adalah fleksibilitasnya. Bisa belajar kapan saja, dimana saja dan dengan siapa saja. Mau libur kapan saja juga bisa diatur-atur. Dulu saat bundanya masih punya jadwal mengajar di sekolah formal, konsep liburan anak-anak yang homeschooling mengikuti agenda liburan bunda. Sekarang setelah hampir lima tahun tidak mengambil job mengajar, libur homeschoolingnya dijadwal ulang.

Se-fleksibel apapun kegiatan homeschooling (HS) tetap ada jadwal yang ajeg dan agenda yang jelas, termasuk liburan. Sebelum memulai HS, kami sudah merumuskan apa saja yang akan dikerjakan dalam satu tahun pelajaran dan kapan saat liburan, baik libur pekanan maupun libur besar.

Secara garis besar, ada tiga agenda anak-anak dalam menjalankan homeschoolingnya :

Belajar formal atau akademik

Kami memilih homeschooling jalur akademis, karena memang berharap anak-anak melanjutkan pendidikan ke jalur formal sekolah formal atau kuliah nantinya serta menghendaki adanya ijazah, jadi sejak awal sudah menjalin kemitraan dengan PKBM untuk nantinya mendapatkan ijazah kesetaraan.

Di poin study atau belajar formal, meski terdaftar di PKBM, kami sebagai orangtua HSers punya keleluasaan menyusun kurikulum, target materi, dan target kemampuan anak. Sesekali waktu anak-anak ikut ujian di PKBM, untuk penilaian raport, biasanya mulai intens ketika setara dengan kelas 4,5, dan 6 sekolah dasar.

Selain pendidikan akademis, anak-anak juga bisa mengeksplorasi diri di bidang yang diminati dengan les,kursus, atau mengikuti lembaga keahlian tertentu. Anak-anak lebih memilih program tahfidz Qur'an pada sebuah lembaga, itu pun saat sudah siap dan kami juga butuh patner menjaga kedisiplinan anak.

Bekerja untuk melatih skill


Bekerja bagi anak HS kami, sebagai sarana memanfaatkan waktu luang dengan bekerja part time, magang, internship, dan entrepreneur. Tentunya saat mereka masih usia sekolah dasar, tempat magang pertama adalah orangtua.

Jadi selain ada jadwal belajar akademis rutin, ada jadwal tahfidz juga ada jadwal kerja di rumah. Anak-anak dikenalkan dan dilibatkan dengan berbagai pekerjaan rumah, mulai dari mencuci piring hingga masak. Pertukangan dan bengkel juga dikenalkan pada anak laki-laki.

Saat usia 10 tahun, anak-anak sudah berani magang di luar rumah. Ikut tetangga jualan bubur setiap akhir pekan, atau yang terbaru kemarin membantu warung nenek sebelah asrama tahfidznya menyediakan minum untuk pelanggan yang sedang makan. Membuat teh, es teh, dan es jeruk lalu menghidangkan kepada para customer warung.

Pernah nih, saat usia 8 tahun pengen banget menukang. Akhirnya kesempatan itu datang di usia 12 tahun ini. Ada renovasi sekolah di kompleks perumahan, dan gimana awalnya, siHSers saya ini diajak bekerja para tukang. Pulang dari kerja dengan badan penuh peluh tapi mata berbinar ia bilang dapat gaji… seneng banget. Akhirnya tahu rasanya jadi tukang. Capek.

Service atau Pelayanan untuk membangun empati


Untuk membangun empati dan skil sosial, bungsu satu-satunya HSers yang tersisa di rumah juga dilibatkan dalam kegiatan sosial seperti kerja bakti di sekitar komplek, kerja bakti di masjid membantu marbot menyiapkan shalat Jum'at atau shalat hari raya. Saat ramadhan, kegiatan menyimpan takjil juga bisa jadi sarana belajat service bagi anak homeschooling.

Eh dari tadi ngomongin kegiatan anak homeschooling mulu, terus kapan liburannya? Bukannya liburan sudah berlalu ya, kok baru bahas libur telah tiba.

Seperti yang sudah ada diatas tadi, konsep liburan anak homeschooling kami mulai berubah. Kami baru akan memulai liburan saat anak-anak sudah masuk sekolah. Mengapa?

Menyesuaikan dengan kakak-kakaknya yang saat ini belajar di luar rumah.


Sejak si nomor 5,6, dan 7 homeschooling, para kakak belajar di luar rumah dan luar pulau, sebuah lembaga sekolah non formal yang konsep liburannya juga beda dengan sekolah formal. Jadi biar bisa liburan bareng, para HRers ini juga merubah pola liburan.

Relatif lebih nyaman saat harus ke luar kota dan tempat wisata.


Musim liburan, identik dengan jalan-jalan ke luar kota atau tempat wisata. Perjalanan jauh, capek ditambah macet tentu tidak nyaman kan. Apalagi ke tempat wisata yang harus berjubel mengantri, tidak cocok buat kami para introvert ini. Gimana bisa menikmati tempat wisata kalau setiap jengkal tanah penuh dengan manusia. Oh no!

Urusan kantong juga jadi pertimbangan, apalagi anak-anak yang lain berada di tempat yang saling berjauhan. Tiket pesawat di masa liburan sudah pasti melambung tinggi. Membawa tiga anak dari Samarinda ke Surabaya, Jakarta atau Jogja sebagai titik kumpul keluarga, pasti membutuhkan berderet nominal. Pun sebaliknya, membawa anak-anak pulang dari berbagai tempat di musim liburan juga butuh berlembar-lembar cuan.

Ujian komitmen anak homeschooling


Menjalani apa yang sudah ditetapkan tidak mudah pastinya. Apalagi godaan di luar sungguh berat. Lagi belajar, Teman-teman nyaman sudah pada nongol di depan pagar, " F main yuk… ! "

Atau sore hari saat masih mengerjakan pekerjaan rumah, segerombolan bocah berteriak, " F, main bola yuk! " Dan itu permainan yang disuka. Maka, tantangan ini harus ditaklukkan oleh HSers saya. Gimana caranya tetap menjalani jadwal yang sudah ada dan nggak ketinggalan bermain bareng teman.

Biar beda aja


Suka aja beda dari lainnya. Yang jelas, permintaan cuti abinya ke kantor lebih mudah dilakukan saat musim liburan usai daripada harus antri mengajukan cuti di musim liburan pada umumnya. Apalagi pas bareng dapat nota dinas ke luar kota, sekali jalan dua pulau terlampaui dan beberapa kota dapat disinggahi.
Asyik kan.

Kalau musim liburan gini, ngapain aja?


Tetap menjalankan agenda yang sudah disepakati. Subuh di setiap harinya, berangkat ke masjid langsung program tahfidz sampai waktu dhuha. Pulang ke rumah, ngerjain pekerjaan rumah dan belajar akademis sesuai jadwal harian. Istirahat sehabis dzuhur dan sore hari baru boleh main bareng geng komplek.

Menikmati serunya cerita liburan dari teman-teman yang sedang liburan. Meski nggak liburan ke luar kota, kami tetap bisa bersenang-senang. Agenda akhir pekan, jalan-jalan di dalam kota aja. Mengekspor tempat wisata atau tempat makan yang belum kami kunjungi. Tetap asyik kan.

Penutup


"Bunda liburannya kapan? " tanya anak-anak ketika kami menyusun jadwal homeschooling.

"Emang ada liburan, bukannya kalian nggak sekolah, tiap hari juga libur. "

"Iya tapi kita kan juga belajar, masak sepanjang tahun tanpa liburan. "

"Kan Sabtu Minggu sudah liburan, masih kurang? "

"Anak sekolah aja ada libur tiap semester, ada libur panjang akhir tahun ajaran. " Protes anak-anak.

"Iya ya, tenang. Ada kok liburan. Mari kita susun dulu jadwal tahunan. "


Dialog diatas, terjadi saat diskusi menyusun jadwal ketika anak-anak memulai homeschooling beberapa tahun yang lalu. Liburan menjadi bagian yang tidak boleh di skip dari agenda kami karena apapun bentuknya, kemanapun tujuannya, liburan itu menyenangkan. Konsep libur telah tiba bagi anak homeschooling, bisa fleksibel banget, diatur sendiri yang pasti tetap menyenangkan. Selamat mengakhiri liburan bagi yang sudah harus masuk sekolah!
Tami Asyifa
Seorang ibu dengan 7 anak, saat ini sedang menikmati menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya tapi tetap produktif. Pendidikan dan literasi adalah bidang yang menarik baginya.

Related Posts

Posting Komentar