A directory

3 Tips Sederhana Saat Anak Demam

Posting Komentar

Menjaga kesehatan diri dan keluarga di masa-masa seperti ini adalah suatu keharusan. Terlebih kesehatan anak, karena selain Coronavirus yang belum benar-benar hilang, angka kematian anak akibat gagal ginjal akut atau acute kidney injury (AKI) yang terus meningkat, juga kasus demam deque di musim penghujan ini. Tapi bagaimana saat anak mengalami demam yang tidak bisa kita hindari?

Pengennya sih sebisa mungkin tidak berurusan dengan tenaga medis dan sarana medis karena pandemi virus berwajah 1000 ini, resiko itu tidak bisa kita prediksi dari mana asalnya. Terlebih varian baru sudah datang dengan selamat di negeri ini. Bahkan baru saja, teman kami, sepasang dokter mengabarkan bahwa orang tua mereka yang sudah berusia lanjut positif covid19 varian baru ini.

Belum lagi indikasi penggunaan obat penurun panas yang oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai penyebab gagal ginjal akut pada anak-anak. Meski belum bisa memastikan seratus persen sirup penurun panas inilah satu-satunya penyebab.

Namun, harus kita sadari juga keterbatasan sebagai manusia. Sekuat apapun usaha kita menjaga kesehatan ada titik dimana kita lemah juga. Dan itu baru saja kami alami beberapa hari ini. Protokol kesehatan masih dijalankan dengan baik, lebih banyak di rumah kala cuaca sedang tak menentu ini, ditambah asupan makanan yang lebih bergizi dengan sayur dan buah. Juga sediaan vitamin dan suplemen lainnya masih mencukupi. Namun tetap saja, gangguan kesehatan menghampiri.

Menjaga diri dari virus corona, waspada pada virus Dengue


Begitulah takdir sakit sebagai ujian bagi kami. Sekuat tenaga menjaga diri dari virus corona yang menjadi wabah berbulan-bulan lamanya di negeri ini dan negeri-negeri lainnya namun jangan lupa, ada virus lain yang juga berbahaya sedang mengintai kita. Terlebih negeri tropis seperti Indonesia ini, tempat yang sangat potensial bagi tumbuh kembang agen pembawa virus DBD.

Hujan beriringan dengan panas, atau sebaliknya panas berganti dengan hujan. Terlebih saat ini kami tinggal di kota yang jika hujan deras sedikit saja, genangan ada dimana-mana. Menjelang musim hujan seperti ini atau sebaliknya, yang biasa disebut pancaroba, masa dimana ancaman penyakit meningkat.

DBD adalah virus yang berinang pada nyamuk, sementara genangan - genangan air sisa hujan menjadi tempat tumbuh kembangnya nyamuk. Harus bertahan diri dirumah saja, hingga aktivitas bergerak berkurang menyebabkan rasa kantuk sering menyerang, hingga tidur siang di waktu nyamuk Aedes aegypti aktif tak bisa dihindarkan. Dan, bersembunyi di rumah pun tetap dihampiri virus.

Di daerah kami, bahkan coronavirus hampir tuntas yang artinya tidak ada penambahan pasien baru, sementara pasien lama seratus persen sembuh sehingga nol korban jiwa. Sementara kasus varian baru belum ditemukan. Sedangkan virus DBD sudah mulai mewabah lagi juga demam karena flu yang kini jadi lebih bandel.

Tips agar tetap tenang dan waspada saat anak demam


Bagaimana jika sakit dan mengalami demam di saat ini?Sungguh, mendapat ujian sakit di masa pandemi belum berakhir dan langkanya obat penurun panas pada anak membuat rasa campur aduk, dua kali lipat deg-degan serta galaunya.

Sedih dan tak tahan melihat anak yang kesakitan, tapi takut juga membawanya ke dokter. Berjuta pertanyaan, bagaimana seharusnya memberi pertolongan pertama? Bagaimana jika ternyata sakitnya A, B, C ? Apa prosedur yang harus dilakukan?

Disisi pasien, kita tidak ingin merugikan tenaga medis dengan penularan penyakit kita. Juga kita sendiri tidak ingin tertular penyakit dari orang lain. Bertahan dirumah dengan hanya bertanya - tanya juga bukan pilihan yang mudah.

Segalau apapun saat anak demam, tetaplah tenang berusahalah untuk tidak panik. Karena dengan ketenangan kita bisa berpikir jernih. Waspada juga tetap diperlukan, agar kita tidak lengah. Langkah-langkah yang kami tempuh antara lain.

Mengamati pola demam


Demam atau panas itu merupakan tanda bahwa dalam tubuh sedang ada infeksi penyakit. Reaksi tubuh melawan penyakit bermanifestasi menjadi demam. Terus amati pola demamnya dan mencari informasi tentang alternatif penyakit yang terkait. Misal Typus, DBD, Measles (campak) , Rubella (kerumut) atau influenza bahkan Corona.

Untuk menurunkan demam, jangan terburu-buru menggunakan obat penurun panas. Jika panasnya tinggi, anak minta dikompres dengan air hangat. Membalur tubuhnya dengan campuran minyak but-but dan bawang merah. Kalau sudah mentok, saya berikan sari kurma atau madu syamil tiap empat jam sekali. Biasanya dengan madu syamil cukup menurunkan panasnya.

Menjaga asupan makanan dan vitamin


Tentunya saat sakit, nafsu makan juga turun namun usahakan untuk tetap memberi asupan makanan yang bergizi. Terutama vitamin agar daya tahan anak tidak drop. Saya berusaha menyajikan, makanan bergizi meski hanya sedikit yang dimakan, buah dan juz buah, madu serta vitamin C.

Tentukan batas waktu


Tak selamanya dugaan kita benar, namanya juga dugaan tanpa alat penunjang yang berarti dan hanya berdasar informasi. Maka tentukan batas waktu saat anak demam. Sampai kapan bertahan dirawat di rumah atau mencari bantuan tenaga medis.

Kami menentukan batas waktu dengan melihat perkembangan fisik anak, juga toleransi masa demam. Jika lebih dari tiga hari dan anak sudah mulai kepayahan, maka saat itulah kami harus ke dokter setelah mencari informasi sebanyak mungkin sebelum ke dokter bagaimana standar keamanannya.

Penutup


Penting banget tetap tenang saat anak demam, karena anak juga akan merasakan aman dan nyaman. Upaya menurunkan panasnya juga tetap ada, meski sementara tidak menggunakan sirup penurun panas. Gunakan cara alami dan obat alami sebagai upaya pertama sebelum memutuskan mengunjungi dokter atau upaya medis lainnya. Tenang tapi bukan membiarkan. Waspada dan tahu saat yang tepat untuk bertindak.
Tami Asyifa
Seorang ibu dengan 7 anak, saat ini sedang menikmati menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya tapi tetap produktif. Pendidikan dan literasi adalah bidang yang menarik baginya.

Related Posts

Posting Komentar