A directory

Selembar Catatan untuk Masa Tua Nanti

1 komentar

 

Orang yang cerdas adalah orang yang selalu mempersiapkan segala sesuatunya. Mempersiapkan masa depan, masa tua bahkan saat kematian. Karenanya selembar catatan ini akan jadi pengingat ketika nanti aku lupa apa saja yang harus ku lakukan dan kupersiapkan, aku bisa membukanya kembali.

Beberapa hari sebelum tema tantangan menulis ini tayang di Facebook grup, dan anak bungsu latihan masuk pesantren tahfidz di dekat rumah, tiba-tiba terasa hampa dan sepi. Lalu ngobrolin tentang ini dengan suami, betapa sepinya kita nanti saat anak-anak sudah meninggalkan rumah semua, kemudian obrolan pun berlanjut bagaimana setelah pensiun nanti, dimana kita akan menetap, apa yang akan kita lakukan, dan darimana sumber dana kita.

Pentingnya Mempersiapkan Masa Tua


Masa tua adalah perubahan dimensi kehidupan, banyak yang berubah ketika seseorang sampai pada masa itu. Baik fisik maupun psikis tentu tidak sama lagi dengan masa sebelumnya.

Apa dan bagaimana masa tua dalam pandangan agama?


Usia seorang manusia bukan sekedar perhitungan angka tapi ada banyak makna yang terkait dengan peran manusia di muka bumi ini. Sementara tahapan perkembangan dikategorikan dalam empat tahap :
  1. Anak-anak ( Aulad) : saat dia baru dilahirkan hingga menjelang baligh
  2. Pemuda (Syahab) : usia akil baligh hingga 40 tahun
  3. Dewasa ( Kuhul) : usia 40-60 tahun
  4. Tua (Syuyukh) : usia di atas 60 tahun.
Ternyata yang masih berusia 40 - 60 tahun belum termasuk tua lho. Ini usia dewasa atau matang dan produktif. Jadi nggak usah merasa tua hahaha.

Namun, Allah juga memberi peringatan ketika seseorang memasuki usia 40 tahun, karena titik ini krusial. Setidaknya pada usia 40 tahun seorang manusia harus mencapai titik maksimal dalam amal kebaikannya sebagaimana dalam Qur'an surah Al Ahqaf ayat 15, yang sebagiannya ayatnya mempunyai arti:
Apabila ia telah dewasa dan umurnya sampai 40 tahun, ia berdoa, " Ya Tuhanku tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau beri kepada Bapak Ibuku dan supaya aku dapat beramal sholeh yang Engkau ridhoi. 
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Utsman bin Affan ra, kebaikan yang diberikan kepada manusia saat usia 40 tahun keatas dalam ketaatannya beribadah kepada Allah sebagai berikut :
  1. Usia 40 tahun, Allah akan meringankan hisabnya
  2. Usia 60 tahun, Allah akan memberi rizki kembali ke jalan-Nya
  3. Usia 70 tahun, penduduk langit menyukainya
  4. Usia 80 tahun, Allah menetapkan kebaikan-kebaikan dan menghapus keburukan-keburukannya
  5. Usia, 90 tahun, Allah mengampuni semua dosa-dosa yang dahulu dan yang akan datang dan mengizinkan untuk memberi syafaat pada Ahlul baitnya.
(Sumber : musnad Imam Ahmad)

Kehidupan para lanjut usia di lingkaranku


Pernah merasakan hidup bersama tiga generasi: simbah, ibuk dan aku dalam satu rumah. Kala itu simbah sudah lanjut usia. Meski lansia, simbah tetap gesit dan tak mau diam. Prinsipnya selagi mulut masih doyan makan, ya harus tetap kerja sampai suatu saat ajal menjemputnya. Kini ibuk tinggal sendiri di rumah, anak-anaknya tidak ada satupun yang membersamai, tapi tidak pernah mengeluh. Semua pekerjaan rumah dikerjakan sendiri. Secara finansial juga masih cukup kuat karena masih memiliki uang pensiun, bahkan double, pensiunnya sendiri dan alm bapak. Semoga Ibukku panjang umur dan sehat, aamiin.

Dari kedua wanita ini, aku belajar bagaimana hidup di hari tua meski dengan segala keterbatasannya namun tetap tak ingin merepotkan anak-anaknya meski bagi anak-anaknya, merawat orang tua adalah kebaikan dan bukan kerepotan. Kelak aku pun ingin tetap mandiri hingga usia tua seperti simbah dan ibukku.

Persiapan menjelang masa senja


Sebaik-baiknya perjalanan adalah dengan mempersiapkan bekal. Begitu pula dengan menghadapi hari tua. Setidaknya kita akan tua dengan bahagia. 

Persiapan fisik

Tetap fit hingga usia senja? Mau banget ya kan, tapi ya harus menabung dari sekarang. Rajin olahraga dan makan makanan yang sehat. Mulai kurangi gula dan garam. Perbanyak sayur dan buah.

Persiapan finansial

Sekuat apapun fisik, nggak mungkin sama kondisi saat masih muda. Di masa tua ini kita sudah punya pasif income dengan investasi. Terserah bentuknya, yang penting aman.

Persiapan ruhiyah/psikis

Sekuat apapun fisik, sebanyak apapun tabungan, ketika ruhiyah kosong ya nggak ada guna. Justru di masa ini ruhiyah harus sudah kuat, caranya ya dengan selalu mencharge ruhiyah kita. Menjalani hidup dengan bermakna, memperbanyak ibadah dan menjadikan satuan waktu dengan menebar manfaat.

Lembaran rencana saat masa itu tiba

Dari obrolan dengan pak suami, kelak ketika mendekati masa itu ada beberapa poin yang harus kami tuntaskan.

Menentukan homebase

Sebagai keluarga nomaden karena tuntutan pekerjaan saat ini kami belum punya tempat menetap. Rencananya lima tahun sebelum pensiun kami harus sudah menetapkan dimana akan tinggal saat hari tua nanti. Alhamdulillah di setiap tempat yang pernah kami tinggali ada investasi berupa tanah dan rumah. Apakah di salah satu kota yang pernah kami tinggali atau di kota yang baru nanti belum ada keputusan tetap, tapi sudah ada beberapa kota yang jadi incaran kami, Jogja, Ungaran dan kota kelahiranku.

Merencanakan kemandirian pangan

Setelah menentukan homebase, kami akan membangun rumah kecil dengan halaman yang luas. Di sekitar rumah ada kebun buah dan sayur juga memelihara beberapa hewan ternak. Dengan begitu, minimal kami sudah menyiapkan kemandirian pangan.

Oh iya, konsep rumah impianku selain dilengkapi dengan lahan pertanian juga harus ramah lingkungan. Ada tempat pengolahan sampah menjadi kompos juga tabungan air hujan dan resapan air.

Menjadi pekerja sosial 

Meski usia sudah lanjut, kami ingin tetap bermanfaat. Jika rencana memiliki panti asuhan dan rumah tahfidz tak bisa diwujudkan maka kami akan menjadi pekerja sosial dengan menjadi guru pada taman pendidikan Al Qur'an atau relawan pendidikan.

Menjalankan hobi

Agar tetap bahagia hingga usia senja, kami akan tetap menjalankan hobi masing-masing.

Penutup


Perjalanan hidup manusia tidak ditentukan berapa banyak usianya, namun seberapa kemanfaatannya. Usia senja itu keniscayaan ketika Allah memberi anugerah panjang umur. Ingin seperti apa ketika kita sampai pada masa itu nanti, setidaknya dari sekarang kita rencanakan. Dan inilah selembar catatan untuk masa tua nanti, semoga menjadi milestone dalam perjalanan menjelang masa itu tiba. Sebaik-baik usia adalah panjang umur dalam ketaatan kepada-Nya.
Tami Asyifa
Seorang ibu dengan 7 anak, saat ini sedang menikmati menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya tapi tetap produktif. Pendidikan dan literasi adalah bidang yang menarik baginya.

Related Posts

1 komentar

  1. Mbak Tami.. baru tahu aku kalau ada pembagian umur berdasarkan pandangan agama Islam. Aku hampir aja kelewatan baca tulisan mbak Tami. Makasih Mbak udah ikutan TTM :)

    BalasHapus

Posting Komentar