A directory

Menjaga Potensi Ketangguhan Anak

3 komentar


Menghadapi tantangan zaman, seharusnya anak-anak kita semakin tangguh karena sejatinya setiap anak potensi ketangguhan. Coba amati bagaimana bayi belajar mulai dari tengkurap, merangkak hingga berjalan, mereka akan mencoba dan terus mencoba meski berulang kali gagal. Coba ingat bagaimana anak-anak kita sudah sangat ingin makan sendiri, memegang gelas sendiri saat mau minum.

Masih teringat jelas ketika anak -anak kita mulai memilih baju sendiri meski harus mengacak-acak isi lemari. Berusaha mandi sendiri sampai berjam-jam di kamar mandi, atau terlihat seperti merecoki sang bunda ketika sedang memasak atau mencuci baju dengan dalih ingin membantu. Dan banyak lagi keinginan mereka melakukan sesuatu sebagaimana yang dilakukan para dewasa di sekitarnya. 

Menjaga potensi ketangguhan anak


Dari gambaran di atas, kita sepakat ya bahwa anak mempunyai potensi ketangguhan. Masalahnya justru pada diri orangtua yang sering kali memadamkan potensi itu. Ya nggak, auto intropeksi diri. Apa saja yang ternyata malah memadamkan potensi ketangguhan anak?

Tidak memberi kesempatan


Kita sering tidak memberikan kesempatan pada anak untuk melakukan sesuatu sendiri dengan banyak dalih, nggak tega, nanti berantakan atau hasilnya nggak sempurna. Benar nggak? Duh pernah banget di posisi ini, untung segera sadar.

Mengabaikan inisiatif anak


Seringkali anak kita ingin melakukan segala sesuatunya sendiri. Aku bisa, atau aku saja begitu ucapnya. Lalu apa jawaban kita, nggak nanti rusaklah, nanti tidak baguslah, nanti berantakan dan banyak lagi alasan kita sehingga anak tidak lagi punya keinginan untuk berinisiatif.

Memupus rasa percaya diri anak


Ketika anak melakukan sesuatu dan hasilnya jauh dari ekspektasi kita, apa yang biasa kita lakukan. Mencemooh, menyalahkan atau menghargai usahanya? Tak jarang terucap, tuh kan beneran tumpah, nah kan beneran berantakan, nggak hati-hati sih. Bunda, tahu gimana perasaan anak, langsung patah tuh hatinya, jatuh rasa percaya dirinya.

Kita sering melihat hasilnya bukan prosesnya. Adalah wajar jika apa yang dilakukan anak belum sempurna. Bukankah seseorang bisa melakukan semua dengan baik setelah melakukan sekian proses. Jika sekali dua kali anak-anak mencoba sesuatu dan belum selayaknya harapan kita, ya wajar.

Di lain waktu betapa kita sering mendikte anak, mengarahkan seperti maunya kita, harus seperti ini caranya. Atau nggak kayak gitu, nanti begini begitu. Padahal apa yang menurut kita baik belum tentu menurut anak kita. Jadi berilah ruang untuk tumbuh dan berproses mencapai kemandirian hingga akhirnya menjadi anak yang tangguh.

Anak yang lemah atau orangtua yang tak tegaan?


Sepertinya ada benang merah ketika mengikuti diskusi di komunitas Charlotte Mason dan membaca buku Menjadi Lelaki Lukmanul Hakim dalam mendidik anak. Pada diskusi di Facebook grup Charlotte Mason Indonesia itu akhirnya lebih menyoroti hubungan antara ketangguhan anak dan berkegiatan di alam. Seketika peserta diskusi di kolom komentar langsung membandingkan kehidupan zaman kita masih anak-anak dulu dimana orangtua kita memberi ruang yang luas pada kita untuk bebas bermain di alam. Mengeksplorasi alam, mengakrabi alam. Main berbahan alam, bergelut dengan lumpur sawah, bermain air di sungai bahkan bersepeda sampai jauh.

Tak terbesit ketakutan di hati kita. Meski mungkin saja ada, tapi tidak terlalu nampak. Orangtua kita juga tak terlalu menekan untuk bisa ini itu, les sana sini, dan agenda yang menyita waktu bermain kita di masa kecil. Masih ingat saat itu, asal ketika sore hari sudah siap di rumah, malam belajar, dan tetap punya disiplin waktu, ya sudah. Tidak ada tuntutan untuk selalu berprestasi, kita bebas dari kegiatan yang diatur-atur orang tua.

Yang jadi pertanyaan, mengapa orang tua jaman dulu tega membiarkan kita main bebas begitu sementara kini ketika kita menjadi orang tua, dikit-dikit diliputi kekhawatiran ketika anak keluar rumah?

Jawaban kebanyakan dari kita sebagai orangtua zaman kini adalah, ketika kita kecil dahulu kondisi masyarakat masih aman dan saling peduli, saling menjaga dan tidak seramai sekarang. Ruang bermain pun terbatas dan ancaman kejahatan dimana-mana. Dulu tidak sebahaya sekarang.

What? Begitu tanggapan Mbak Ellen selaku moderator. Mengapa kita tidak bisa menciptakan lingkungan seaman dan senyaman dulu. Bagaimana menyiasati kondisi ini dan membuat anak-anak tetap nyaman bermain bebas di alam?

Jawaban tepatnya, kita sudah berubah menjadi orang tua Helicopters yang memantau setiap gerak anak dengan kekhawatiran berlebihan. Benarkan lingkungan sekitar sekejam itu?

Pada buku Menjadi Lelaki Lukmanul Hakim sering satu, di bagian ayah menjadi raja tega pada anak, pak Aad juga mengulas tentang hal ini. Mengapa orang tua saat ini cenderung menjadi penjaga anak. Serba ketakutan pada dunia luar? Apakah dunia luar seseram itu.

Ternyata tidak. Berbagai bukti diungkapkan bahwa berapa prosen sih kejadian kejahatan pada anak-anak di luar rumah. Berapa banyak kasus kecelakaan di luar rumah. Bukankah persentase terbesar kematian justru di atas kasur di dalam ruangan. Bukankah perilaku kekerasan pada anak malah terjadi di dalam rumah sendiri?

Dunia luar tak seburuk dan sekelam yang kita bayangkan. Masih banyak orang baik diantara yang tidak baik. Pikiran kita sudah kemakan berita-berita yang berseliweran di media massa dan media sosial. Kasus kejahatan tak sebanyak yang terlihat di mata kita, hanya ekspos yang besar-besaran membuat image di otak kita bahwa betapa bahayanya hidup di luar rumah.

Saatnya kita ubah paradigma kita. Jika mengharapkan anak-anak yang tangguh, jadilah orang tua yang tangguh dan tega. Ubahlah rasa ketakutan dan kekhawatiran berlebihan. Tak usah ikut membesar-besaran kejadian tak baik sehingga membuat dunia ini seolah tak baik.

Siapkan anak sebaik mungkin di dalam rumah agar saatnya keluar rumah ia siap menerima segala resiko dan punya pertahanan diri yang baik. Biarlah mereka belajar hidup di yang sesungguhnya di luar rumah. Tak mungkin selamanya kita bisa terus berada di sisi anak-anak sementara mereka akan terus tumbuh menjadi dewasa dan siap keluar rumah.

Penutup


Ketangguhan dan kemandirian sangat dibutuhkan oleh anak di masa kini. Orangtua harus menjaga potensi ketangguhan anak, karena sejatinya setiap anak punya potensi itu. Jangan pernah padamkan hanya karena kekhawatiran kita. Bersiap dan berlapang dada lah atas pilihan anak-anak. Karena mereka selayaknya mandiri dan merdeka hingga jadi anak-anak yang tangguh menapaki zamannya.
Tami Asyifa
Seorang ibu dengan 7 anak, saat ini sedang menikmati menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya tapi tetap produktif. Pendidikan dan literasi adalah bidang yang menarik baginya.

Related Posts

3 komentar

  1. Setuju nih mbak, saat ini banayk sekali orang tua yang over orotektif, tidka membiarkan anak mengeksplorasi diri

    BalasHapus
  2. Ah sekarang udah dewasa harus agile dari banyak sisi, kerasa banget saat kecil banyak hal yg belum tuntas

    BalasHapus
  3. Setuju nih Kak. PR sebagai orang tua

    BalasHapus

Posting Komentar