A directory

Pendidikan Berbasis Fitrah, Legacy dari Sang Guru

25 komentar


Pendidikan berbasis fitrah sebuah legacy


Hari ini dua buah buku “24 Kisah Pendidik Rumahan Selaras Fitrah” sampai di tanganku. Baru beberapa bagian yang sempat kubaca, lalu ingatanku tak bisa lepas ketika mengikuti seminar pendidikan berbasis fitrah bersama sang guru, Bapak Harry Santosa beberapa tahun lalu. Segera kubuka-buka lagi catatanku waktu itu, masih ada dan tersimpan rapi beserta buku yang terdapat tanda tangan beliau. Tiba-tiba aku ingin menuliskannya kembali agar ilmu yang beliau bagikan bisa bermanfaat lebih luas lagi.

Pendidikan Berbasis Fitrah dan Bapak Harry Santosa


Fitrah Based Education atau disingkat FBE mulai kudengar ketika bergabung dalam sebuah milis pendidikan pada tahun 2011, yang di dalamnya aktif berdiskusi tentang pendidikan di tanah air termasuk Pak. Harry Santosa dengan Millenial Learning Centernya. Aku pun merasa tertarik dengan konsep ini dan semakin menikmati diskusi. Sampai akhirnya memberanikan diri bertanya bagaimana cara bergabung dengan komunitas ini? Beliau bertanya tempat tinggalku saat itu dan akan memberi referensi komunitas regional sesuai domisili. Sayangnya hingga milis itu vakum karena yahoo sudah tak aktif lagi aku belum terhubung dengan komunitas itu.

Akhirnya, komunitas homeschooling Balikpapan dan ibu profesional regional Kaltimtara mengundang beliau ke Balikpapan dalam seminar pendidikan berbasis fitrah di tahun 2016. Syukur banget bisa ketemu langsung dan mendapat buku FBE.

Mengenal sang guru  Bapak Harry Santosa


Harry Santosa, semoga Allah merahmati beliau dan melapangkan kubur beliau, adalah seorang yang mendedikasikan hidupnya untuk pendidikan. Seorang Ayah dari lima orang anak dari satu orang istri ini lahir di Jakarta pada Januari 1969 dan meninggal pada Juni 2021 lalu. Misi hidupnya ingin mengembalikan kesejatian pendidikan yaitu pendidikan berbasis fitrah yang dijadikannya sebuah program sekaligus buku dengan judul, Fitrah Based Education.

Pengalaman sebagai konsultan selama 15 tahun pada perusahaan pemerintah maupun swasta menjadikan beliau kaya pengalaman termasuk berbagai pelatihan di dalam maupun luar negeri. Alumni Universitas Indonesia (UI) ini merupakan intregator dan inovator yang banyak mengkaji pemikiran terkait pendidikan. Tokoh klasik yang menjadi inspirator pemikiran beliau, dicantumkan pada buku FBE, diantaranya Imam al Ghazali, Charlotte Mason, Ki Hajar Dewantoro, Hasan Al Banna, dan banyak lagi.

Garis Besar Fitrah Based Education


"Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama(Islam) ;(sesuai) fitrah Allah disebabkan Dia telah menciptakan manusia menurut (fitrah) itu. Tidak ada perubahan pada ciptaan Allah. (Itulah) agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." ( Qs Ar Ruum : 30)

Pendidikan sejatinya menyelaras kan kehidupan anak-anak dengan peran (mission of life) untuk mencapai tujuan penciptaan ( purpose of life). Allah memaparkan tujuan diciptakannya manusia dalam Qur'an surah Adz Dzariyat 56 dan juga surah Hud : 61. Untuk menjalankan tujuan itu Allah menjabarkan misi hidup kita dalam QS Al Mulk: 2

Tujuan diciptakannya manusia adalah
  1. Ibadah,
  2. Imaroh,
  3. Khalifah dan Imamah
Sedangkan Misi personal manusia adalah
  1. Menebar rahmat bagi semesta alam
  2. Membawa kabar gembira dan peringatan
Sementara misi komunal (jama'ah) adalah menjadi umat terbaik (khairu ummah) dan umat pertengahan (ummatan wasathan)


Renungan untuk apa sekolah

Sebuah Renungan: Apa yg didapat dari sekolah?

Sarana akademik

Apa yang didapat dari sisi akademik? Penguasaan segala ilmu yang dijejalkan pada anak-anak kita dan semua harus dikuasai dengan standar evaluasi nilai yang berupa angka? Lalu label pintar-bodoh dengan urutan ranking di setiap akhir semester? Kemudian kompetisi untuk menjadi yang terbaik yang membandingkan satu anak dengan yang lainnya? Sebagian besar jawaban pertanyaan di atas adalah iya. Sampai saat ini grand design persekolahan tidak banyak berubah. Betapa tidak, siklus belajar berupa: baca-praktek-tulis-bicara, masih saja gagal dibangun. Sekolah tempat guru mengajar bukan tempat siswa belajar.

Sebuah ajang sosialisasi?

Bertemu dan berkawan dengan teman sebaya. Mempunyai kelompok pertemanan yang kelak pada masa tertentu bisa melakukan reuni? Meski sejatinya sosialisasi adalah bergaul dengan segala umur, sementara sekolah membatasi pergaulan dengan teman sebaya saja.

Menggali dan menemukan bakat anak?

Bakat apa yang dihantarkan oleh sekolah sementara ruang dan waktu mengembangkan bakat sangat terbatas dengan banyak mata pelajaran yang harus dipelajari dan aneka tugas atau pekerjaan rumah (PR).

Sarana menemukan akil baligh anak?

Banyak sekolah justru menafikan masa ini sehingga anak sekolah banyak yg sudah baligh tapi belum aqil. Yang terjadi dewasa ini adalah melambatkan kedewasaan generasi dengan adanya masa remaja. Remaja diyakini sebagai masa transisi, dan sejatinya masa transisi itu tak perlu lama. Dalam ilmu fiqih, ketika anak baligh maka kewajiban nafkah sudah hilang yang ada adalah sodaqoh. Jadi ketika dia masih dinafkahi maka statusnya adalah miskin.

Saat akil baligh seorang anak berpredikat sebagai mukallaf yang sudah mempunyai kewajiban personal.Bukan hanya ibadah saja bahkan termasuk kewajiban mencari nafkah sendiri juga berjihad. Lihatlah siroh, betapa banyak contoh pemuda yg menjadi garda terdepan dalam Jihad. Sebagai contoh Imam Syafi'i pada usia 14 tahun sudah menjadi dosen dan pada usia 17 tahun sudah menjadi mufti. Contoh lain Muhammad Al Fatih sang penakluk Konstantinopel pada usia 19 tahun. Sementara dewasa ini, kita kehilangan generasi muda. Tak jarang adanya pemuda alay bin lebay, serta melambai.

Masalahnya dimana?

Terjadi missing pada tradisi luhur bahwa keluarga lah yang menjadi garda terdepan pendidikan putra dan putrinya. Sebagaimana contoh pada keluarga Nabi Ibrahim, keluarga Lukman, juga keluarga Imran. Hilangnya pendidikan dalam keluarga ini terjadi ketika pendidikan di outsourcingkan pada pihak lain yaitu sekolah karena ayah kerja di kantor, ibu sibuk tak tentu, sementara urusan rumah di tangan khadimat. Rumah-rumah kita kosong dan hanya berpenghuni pada malam hari ketika tubuh sudah lelah menuntut istirahat. Ayah ibu menghilang entah kemana.


Fitrah inti anak

Maka bagaimanakah pendidikan yang sesuai dengan fitrah manusia itu?

Setiap anak terlahir dengan fitrahnya, yaitu suci orang tuanyalah yg menjadikannya nasrani atau majusi pun dengan anak-anak kita, mereka terlahir dengan fitrah kebaikan, maka kita sebagai orang tua yang harus menjaga jangan sampai fitrah itu hilang pada diri anak-anak kita. Mendidik anak menjadi sholeh -solihah sejatinya lebih mudah dibanding mendidik mereka menjadi jahat, mengapa? Ya karena fitrah setiap anak adalah baik.

Inti fitrah manusia

Fitrah keimanan

Pada diri anak telah terinstal potensi fitrah ini, setiap kita pernah bersaksi bahwa tiada Allah sebagai Robb(kloliqon, roziqon,malikan). Pelihara fitrah ini dengan imaji positif yang bisa dipelajari di alam. Lalu biasakan dengan keteladanan. Makanya jangan mimpi punya anak sholeh ketika kita sendiri tidak sholeh.

Fitrah belajar

Setiap anak adalah pembelajar tangguh dan hebat yang sejati. Perhatikanlah anak balita kita yang selalu ingin tahu. Mengapa? Karena tiap anak punya potensi untuk belajar, tidak ada anak yang tidak suka belajar kecuali fitrahnya terkubur. Belajar sesuai dengan yang dibutuhkan bukan yang harus atau dipaksakan untuk dipelajari.

Perhatikan, ketika anak belajar hanya untuk menghadapi ujian maka sejatinya fitrah belajarnya telah hilang. Maka biarlah mereka belajar sesuai keunikan mereka. Ada yang suka matematik namun tak jarang yang tak suka matematik. Ada yang suka menggambar namun ada juga yang tak suka. Jika gairah dan minat belajar anak menyala, maka itulah sejatinya pendidikan

Fitrah bakat

Setiap anak itu unik, mereka masing-masing memiliki sifat produktif atau potensi produktif yang merupakan panggilan hidupnya yang nantinya akan membawa kepada peran spesifik peradapannya. Bakat adalah anugerah untuk setiap manusia yang tak selalu harus seragam. Kenali bakat anak dengan pengamatan sejak usia 0- 10 tahun. Apa yang membuatnya melakukan sesuatu dengan easy, enjoy dan excellent.

Fitrah perkembangan

Adalah tahapan mengikuti kronologi usia sebagaimana yang disebutkan dalam Al Qur’an yaitu masa dalam kandungan, masa menyusui (0-2 tahun), masa paska menyusui sampai kepada perintah sholat ( 2-7 tahun) , masa perintah sholat (7-10 tahun), masa pra aqilbaliq ( 10-14 tahun) dan masa aqilbaliq ( 14 tahun ke atas).

Orangtua yang bijak adalah orangtua yang menempatkan anaknya pada tempatnya, tidak membebani anak sebelum waktunya, tidak ada kaidah lebih cepat lebih baik. Kenyangkan anak pada waktunya, maka ia akan melaksanakan kewajiban pada waktunya.

Fitrah Gender

Setiap anak perempuan mempunyai fitrah keperempuanan dan kebundaan beserta peran fungsi dan karakteristiknya. Demikian juga dengan anak laki-laki, memiliki fitrah kelelakian dan keayahan beserta fungsi dan karakteristiknya. Kebutuhan akan kasih sayang harus cukup dan pemenuhan kantung-kantung kasih sayang sejak dini sesuai dengan gender.

Fitrah estetika dan fitrah sosial

Setiap anak memiliki selera keindahan dan menyukai keindahan termasuk kebersihan, kerapian dan lainnya. Demikian juga dengan fitrah sosial, karena setiap manusia membutuhkan interaksi sosial dengan kehidupan sekitarnya.
"Mulailah selalu dari sisi cahaya anak-anak kita, bukan dari sisi gelapnya. Karena, jika cahaya telah melebar menerangi semua sisi, maka kegelapan menjadi tidak relevan. Bukankah kegelapan hanya ada ketika cahaya tiada? ~ Harry Santosa Insight."

Penutup


Apa yang telah diajarkan dan ditinggalkan oleh Bapak Harry Santosa ini sungguh membuka mata hati kita sebagai orangtua bahwa sejatinya anak-anak kita terlahir dengan membawa bekal yang luar biasa. Kita sebagai orangtua hendaknya merawat bekal atau potensi ini agar anak tumbuh sesuai fitrahnya. Sangat layak jika model pendidikan berbasis fitrah ini menjadi legacy dari sang guru.

Kini meski beliau telah tiada, komunitas FBE terus bergerak menyebarkan semangat pendidikan yang memuliakan fitrah anak sehingga bermunculan pendidik-pendidik selaras fitrah di seluruh wilayah negeri ini. Karena mendidik seorang anak, perlu mendidik orang sekampung.




 
Catatan Seminar Pendidikan Berbasis Fitrah
* Balikpapan, 21 Februari 2016
In memoriam Bapak Harry Santosa Guru dan Founder Komunitas FBE

Tami Asyifa
Seorang ibu dengan 7 anak, saat ini sedang menikmati menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya tapi tetap produktif. Pendidikan dan literasi adalah bidang yang menarik bagiku.

Related Posts

25 komentar

  1. Masya Allah. Berasa disentil. Jadi bagaimana menerapkan FBE ditengah sistem pendidikan yang udah ad sekarang kak, baik disekolah ataupun dirumah. Mohon pencerahannya kak.

    BalasHapus
  2. Ulasannya kereen bangeett

    Runut dan rinci membuat pembaca langsung faham isi dari buku tersebut

    Terima kasih share nya kak

    BalasHapus
  3. Buku ini penulisnya siapa aja mbak?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ustad Harry Santosa Mbak Putri. Pas ketemu seminar dapat bukunya waktu itu.

      Hapus
  4. Kayaknya aku sering dengar namanya Ustadz Harry Santosa, tapi dimana ya..

    BalasHapus
    Balasan
    1. kadang lupa emang bahwa sejatinya mendidik anak adalah tanggung jawab orangtua terhadap anak. Sekarang karena sibuknya orangtua sehingga lupa fitrah ini, fitrah kewajiban orangtua dalam mendidik anak.

      Hapus
  5. Semoga pendidikan yang diterima setiap anak, baik dari orang tua maupun dari lembaga pendidikan, dapat menjadi pendukung dalam menemukan fitrah atau nalurinya dalam kehidupan

    BalasHapus
  6. Masha Allah, paling salut ketika melihat seorang bapak-bapak yang begitu concern terhadap pendidikan anak. Termasuk cara pandang mereka, melihat segala fitrah manusia

    BalasHapus
  7. Ah sedih baca ini karena belum semept ikut workshop beliau secara langsung. Baik FBE atau FBL ya kalau ga salah bun :'( semoga alm. Ust Harry amal jariyahnya banyaj. Karena FBE ini membuka mata bgt dan buka mindset ortu bgt ttg fitrahnya anak2 dan berusaha mendampingi mereka bertumbuh dg baik.

    BalasHapus
  8. Keren bgt ya mbak beliau, meski udah mggak ada tp komunitasnya terus maju n berkembang.

    BalasHapus
  9. Semoga mengalir pahala jariah kepada Ustad Harry. Fitrah Bsed Education semakin berkembang sekarang, saya baru mengikuti tele nya FBE. Terima kasih jadi tahu ulmu yang sangat bermanfaat ini mb.

    BalasHapus
  10. mbak aku. jadii semakin mupeng dengan buku FBE nih, semoga almarhum mendapatkan aliran amal yang luarbiasa dg hadirnya buku ini di rumah2 ya

    aku nabung dulu nih b uat beli buku ini

    bwt, aku sepkat bahwa sekrg anak2 secara biologis cepat tumbuhny namun kematangan akalnya belum sedih dan sekolah kadang belum bsia menangkap ini

    BalasHapus
  11. Sangat membuka mata sekali ya Mom. Saya sangat terkesan dengan sedikit cuplikan kelasnya. Semoga suatu saat bisa kecipratan untuk mengenyam ilmu dari FBE ini, terima kasih sharingnya Mom Tami :)

    BalasHapus
  12. Bu Tami... Kereeen banget ulasannya buu... Masya Allaah... Jadi banyak ilmu banget baca ulasan Bu Tami ini...

    BalasHapus
  13. Bu Tami... Kereeen banget ulasannya buu... Masya Allaah... Jadi banyak ilmu banget baca ulasan Bu Tami ini... Jadi pingin baca langsung bukunya

    BalasHapus
  14. Sekian lama mencari rumusan dan menjalaninya dengan uji coba sendiri, tersaji dalam pemaparan di atas. Sangat menolong, bagus banget

    BalasHapus
  15. Semoga Allah merahmati almarhum,,
    Bener bun,,aku ikut workshop beliau tahun 2016 di Kendal,,
    komunitas HEbAT dan Fitrah World Movement masih aktif, masya Allah,,
    Semoga menjadi ladang amal jariyah beliau,,

    BalasHapus
  16. Keren banget mba ulasannya :D
    Fitrah anak memang harus dijaga, harus di didik agar menjadi generasi unggul untuk masa depan kelak..

    BalasHapus
  17. "Fitrah Based Education". Saya baru mendengar istilah ini. Dan MasyaAllah maknanya dalam banget ya... Makasih mbak Tami, ulasannya keren banget

    BalasHapus
  18. Bun, tulisannya bikin saya jadi merenung. Apakah saya sudah menjadi guru yg baik bagi siswa saya??
    Jadi pengen ngulik-ngulik lagi tentang FBE ini

    BalasHapus
  19. Masha Alloh ulasannya bagus sekali bun. Semoga saya bsa terus mendampingi anak² menjadi madrasah mereka dan tetap manjaga fitrahnya

    BalasHapus
  20. Bu tAmi, tulisannya cantik banget. Selalu suka kalo bahas soal pendidikan gini, yuk semangat menjaga fitrah anak2 ya bu

    BalasHapus
  21. Baru punya kesempatan sekali belajar langsung dari ustaz Harry Santosa rahimahullah, sangat berkesan sekali. Masih berharap bisa belajar lagi, namun Allah lebih sayang beliau. Semoga ilmu2 yang beliau tebarkan membawa pahal bagi beliau.

    BalasHapus
  22. Aku baru mau ikutan belajar langsung sama ustadz Harry Santosa, qadarallah malah dapat kabar beliau meninggal. Tapi ilmu yang ditinggalkan masya Allah, bermanfaat bagi banyak orang dan semoga dapat terus dilanjutkan

    BalasHapus

Posting Komentar