A directory

Olahraga Pilihanku, Investasi Sehat di Masa Tua

14 komentar


Mendapat tantangan menulis olahraga pilihanku, dalam rangka memperingati Hari Olahraga Nasional siapa takut? Meski sebenarnya sulit bagiku, karena hal-hal yang terkait dengan gerak tubuh itu sesuatu yang sangat luar biasa bagiku. Setelah hampir setahun hanya memberi tema tantangan menulis tapi tidak pernah menuliskannya tak patut juga rasanya. Setidaknya memberi contoh dan ikut berpartisipasi meramaikan program Tema Tantangan Menulis (TTM) KLIP.

Olahraga dalam Hidupku


Mungkin karena kecerdasan kinestetikku kurang bagus, sehingga olahraga merupakan momok bagiku. Sejak sekolah dasar, tak pernah ada satu pun olah raga yang menarik bagiku, kalau terpaksa harus memilih hanya lari yang bisa kulakukan. Iya lari (dari kenyataan), maksudnya ya lari tanpa ada aturan, bukan sprint bukan pula maraton.

Begitu jam pelajaran olahraga aku begitu tersiksa, atletik lumayan terwakili dengan lari, lempar-lemparan paling mentok hanya beberapa meter ke depan. Tenis meja? Bet atau raket tenis meja menurutku kurang lebar karena aku tak pernah bisa menangkap bola. Volly? Servis waktu main volly selalu kelewat dan begitu kena tangan rasanya sakit, dan saat bola kembali aku takut banget kalau mengenai kepala, itu membuatku lari dari lapangan.

Nggak heran kalau ada nilai 6 di rapot dari SD sampai SMA  pasti itu nilai olahraga karena tidak ada investasi satu jenis olahraga pun yang bisa membuat nilaiku lebih dari itu. Aku merasa merdeka dari pelajaran olahraga saat kuliah, benar-benar merdeka. Dan praktis sejak kuliah tidak ada satu pun jenis olahraga yang kulakukan kecuali jalan kaki ke kampus.

Manfaat Olahraga


Seseorang akan mau atau tergugah melalukan sesuatu ketika tahu manfaat baginya. Ambak istilahnya, singkatan dari apa manfaat bagiku. Demikian juga dengan olahraga. Jika saja kita paham manfaat mengerakkan badan ini, banyak banget tidak saja saat ini tapi juga sampai nanti di masa tua, maka tak ada istilah mager untuk berolahraga.

Melakukan aktivitas fisik secara teratur memberi manfaat yang banyak bagi pelakunya, makanya sayang banget kalau sampai aktivitas fisik ini dilewatkan. Nah apa saja manfaat bergerak secara rutin dan teratur bagi tubuh kita, nggak banyak-banyak sih, 3 saja cukup untuk membangkitkan kesadaran kita agar tidak malas bergerak. Chek it ya!

Membakar kalori


Bergerak berkaitan erat dengan proses pembakaran kalori dalam metabolisme tubuh. Semakin cepat laju metabolisme tubuh semakin banyak kalori yang terbakar. Saat bergerak terjadi proses pembongkaran zat makanan yang menghasilkan oksigen dan energi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar seperti memompa darah, menjaga fungsi organ, membantu sistem pernapasan dan aktivitas sehari-hari. Energi yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup dasar disebut dengan metabolisme basal (MBR)

Jika kita tidak banyak bergerak, maka proses pembakaran kalori juga berlangsung santai. Sedangkan jika kita banyak bergerak maka proses pembakaran kalori juga maksimal. Jika kita jarang bergerak tapi asupan makanan terus-menerus tanpa diet, bisa-bisa kalori itu terus menumpuk dalam tubuh kita. Tahu kan efeknya ? Obesitas , yap benar sekali. Dan akan seiring dengan berbagai ancaman penyakit seperti diabetes, hipertensi, bahkan jantung koroner.

Memperkuat otot


Suatu hari, ketika pulang kampung aku banyak melihat nenek-nenek yang sudah sepuh tapi masih kuat bekerja. Lalu aku bertanya pada ibuku, dan beliau menjawab bahwa orang jaman dahulu itu banyak bergerak selagi muda, kerja di sawah, kemana-mana jalan kaki jadi ototnya kuat dan nggak gampang sakit.

Mekanisme kerja otot adalah kontraksi dan relaksasi. Kontraksi ketika otot menengang dan memendek sedangkan relaksasi ketika otot memanjang. Mekanisme ini akan berulang ketika kita bergerak sehingga semakin lama massa otot semakin besar dan kuat.

Mengeluarkan hormon kebahagiaan


Olahraga membuat tubuh kita segar, aliran darah menjadi lancar, sekresi hormon seretonin dan endorfin akan lancar sehingga memberikan efek kebahagiaan. Mood kita juga menjadi lebih baik, bisa tidur nyenyak dan nggak gampang stress karena kortisol dan adrenalin bisa ditekan.

Olahraga Pilihanku


Aku tahu olahraga itu penting bahkan sebuah investasi yang berharga di masa tua nanti. Mencegah osteoroposis dan artritis, menekan terbentuknya kolesterol jahat, pokoknya penyakit-penyakit yang mulai menghinggapi usia 30 tahun keatas.

Berhubung tak ada satu pun jenis olahraga yang aku kuasai, bergerak adalah cara terbaikku untuk tetap sehat. Meski seorang teman yang praktisi kesahatan menyarankan bahwa gerak yang dianggap olahraga dan memberi manfaat itu ada kriterianya.
  1. Durasi atau lamanya , WHO merekomendasikan 300 menit per minggu atau 45-60 menit per hari.
  2. Frekuensinya, seberapa sering kita bergerak. Disarankan setiap hari dalam waktu 30-45 menit atau lima kali dalam seminggu 30-60 menit.
  3. Intensitas , disesuaikan dengan kemampuan. Disarankan olahraga yang memacu kerja jantung.
  4. Jenis olahraga yang memacu kerja jantung seperti aerobik, berlari, berjalan, bersepeda dan berenang.
  5. Konsistensi, olahraga yang konsisten dilakukan lebih baik daripada yang sekali-sekali

Jadi olahraga pilihanku satu-satunya adalah berjalan, diusahakan setiap hari selama 30 menit, sementara tempatnya tergantung kondisi. Jika memungkinkan keluar rumah, GOR Sempaja menjadi tempat favoritku karena luas dan ada ukuran jarak tempuh sehingga bisa menghitung seberapa jauh dan waktu yang diperlukan.

Saat kasus Covid naik tinggi sekali dan tidak memungkinkan keluar rumah ya jalan di rumah saja asal durasi waktunya terpenuhi. Lebih sering jalan seputar komplek atau jalan bolak-balik di blok rumahku saja. Yang penting niat olahraga, dimanapun jadi

Kesimpulan

Tak ada jarak yang lebih jauh untuk ditempuh ketika kita menghendaki. Demikian juga dengan berolahraga, tak ada yang tak mungkin ketika kita niat banget. Sejatinya jiwa manusia itu malas, sehingga penting untuk membiasakan diri melawan dengan berjuang melakukan hal-hal yang bermanfaat.

“Jiwa manusia itu jika dimotivasi untuk berbuat lebih niscaya ia mampu, namun jika terbiasa dengan hal remeh maka ia akan merasa cukup. “ Faidah kajian kitab Nashihatiy Linnisaa Ustad. Aris Munandar hafidzhahullah.

Inilah olahraga pilihaku, kalau pembaca apa dong? Apapun itu, dimasa pandemi ini imunitas kita kita harus kuat. Selamat Hari Olahraga Nasional.

 

Tami Asyifa
Seorang ibu dengan 7 anak, saat ini sedang menikmati menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya tapi tetap produktif. Pendidikan dan literasi adalah bidang yang menarik baginya.

Related Posts

14 komentar

  1. Entah kenaap olahraga itu males banget ya kak, bener2 harus komitmen banget buat ngelakuinnya padahal besar banget manfaat buat tubuh

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju. Padahal tau manfaatnya. Tapi ya ampun, magernya..huhu
      Olahraganya beberes rmh doank jadinya 😂

      Hapus
  2. Utnungnya jalan masih bisa menjadi aolusi ya,Kka. Kalau ga, bisa terhitung tidak pernah olah raga kita.

    BalasHapus
  3. Jadi inget sewaktu SMK dulu. Selesai pratik olahraga (push up, lari, voli, dll), badan jadi njarem semua (bhs indonesianya apa ya haha), karena nggak terbiasa olahraga.

    BalasHapus
  4. Aku suka renang dan lari, Kak..

    BalasHapus
  5. Aku olahraganya didalam rumah aja kak wkwkwk... Bolak balik ngejar anak-anak ini kayaknya kaloriku terbakar extra nih.

    BalasHapus
  6. Aku yang sefang obesitas dan gak karuan rasanya, olahraga sangat membantu melemaskan otot dan mrmbakar kalori.. masyaAllah..

    BalasHapus
  7. Aku pilih berenang sama naik sepeda si bu, kalau lari atau jalan gitu biasanya bareng teman biar nggak berasa capenya

    BalasHapus
  8. Waktu awal pandemi, kerasa banget urusan tidur dan tidak beraturan pola hidupnya
    Jadi sekarang lagi lumayan konsisten untuk jalan kaki, mudah-mudahan rajinnya terus bertahan dan melebar ke cabang olahraga lainnya

    BalasHapus
  9. Terimakasih tulisannya Bu, jadi inget belum olahraga :(

    BalasHapus
  10. Aku juga lagi niat pengen olahraga ini. Setelah melahirkan, ukuran tak bisa kembali ke ukuran L,,, dobel XL Mulu huju

    BalasHapus
  11. Sama kita mbak Tami... bisanya cuma jalan kekekkeke

    BalasHapus
  12. Terima kasih sharingnya untuk olah raga sebagai investasi. Seperti diingatkan karena saya sudah obesitas dan kadang olah raga tidak konsisten, ternyata olah raga tidak perlu lama cukup 45 -60 menit sehari, frekuensi bagusnya setiap hari, intensitas disesuaikan jenis olah raganya, jenis olah raga dan yang penting konsisten, ini yang kadang sulit, Terima kasih dan salam sehat Bu.

    BalasHapus
  13. Aku, habis jjs, saking bahagianya malah beli jajan pasar.

    BalasHapus

Posting Komentar