A directory

Mengenal Potensi Diri Agar Hidup Menjadi Bermakna

15 komentar


Assalamu’alaikum Readers

Mengenal potensi diri itu harus karena Allah, sang pencipta memberi misi dan membekali kita dengan senjata agar mampu menjalani misi tersebut dengan baik. Layaknya prajurit dengan senjata, dokter dengan stetoskopnya, maka manusia diberi potensi berupa bakat yang sudah terinstal dalam dirinya, melekat sejak dia diciptakan.

Sebagai orang yang merasa pernah bekerja pada bidang yang tidak relate antara pendidikan dengan dunia kerja, meski keduanya membahagiakan. Sewaktu kuliah berbinar dengan apa yang dipelajari dan waktu bekerja yang didapat karena kepepet nggak ada kerjaan lagi meski mampu bertahan hingga 17 tahun dan tak membuahkan prestasi yang gemilang. Tak apalah, kita ada hari ini adalah hadiah dari masa lalu.

Kepingan jejak masa lalu hingga kini, membuat kita sadar bahwa ada misi yang mengiringi penciptaan kita. Ada peran yang harus kita pertangungjawabkan kelak ketika kita menghadap-Nya sebagai hamba Allah (Abdullah) atau sebagai khalifatullah. Sudahkah kita sadar bakat?

Antara Bakat/Talent, Skill Dan Knowledge


Pernah kita jumpai anak-anak kita sedang pada masanya suka banget menggambar. Dinding rumah, di buku catatan pengajian kita bahkan di kasur. Wow, anak kita hobby menggambar. Jangan-jangan punya bakat menggambar ini. Benarkah? Tunggu dulu! Tahan…! Tak sedikit anak balita bahkan hingga kelas 1-2 SD senang mencoret-coret, menggambar ini itu sambil bercerita. Tapi kita tak boleh langsung menyimpulkan bakatnya. Karena bisa jadi itu adalah sarana komunikasi anak kita, sarana menuangkan imaji di usia yang imaji nya luar biasa. Menggambar sendiri apakah itu bakat atau skill? Hayo apa… . ?

Kisah yang lain. Misal Bunga, di rapor nilai Matematika, Fisika dan Kimianya tinggi. Taruhlah 9 semua. Bunga berbakat ini masuk teknik. Benarkah? Jangan tergesa-gesa menyimpulkan. Mengamati bakat anak tidak instan. Bakat perlu aktivitas yang berulang-ulang. Maka telaah assementnya. Lihat lagi PSP dan PSS nya, lalu urutan bakat, tipologi lalu konfirmasi lagi. Apakah nilai - nilai itu diperoleh dengan kerja keras? Apakah kemampuan anak tersebut berlaku sama ketika dihadapkan pada situasi spontan atau menyelesaikan masalah dibidang yang terkait dengan topik tanpa belajar terlebih dahulu? Apakah dia antusias diskusi dengan topik tersebut? Apakah dia berhasrat menekuni topik tersebut secara mandiri? Perhatikan polanya. Menarik bukan?

Difinisi Bakat.

Ada ribuan definisi bakat, perbedaan definisi ini akan membuat banyak perdebatan. Terlebih jika kita berhadapan dengan management pengembangan diri. Banyak yang skeptic terhadap bakat dan menganggap kerja keraslah yang menentukan sukses seseorang.

Maka ada kelompok Nature (Bakat) dan Nurture ( Usaha/latihan) Oke, biarlah itu jadi perdebatan. Kita fokus saja ya. Jadi bakat itu adalah blueprint. Contoh nih : Ada sebutir biji kacang ditangan saya. Para Bunda tahu biji ini akan tumbuh menjadi apa? Kacang. Iya kacang. Kacang apa, kacang panjang, kacang hijau atau lainnya? Bagaimana daunnya? Bunganya? Apalagi buahnya. Bentuk pohonnya saja kita tak tahu. Nah, seperti itulah bakat. Seperti biji kacang. Jangan rancu, bakat seperti biji Bakat bukan seperti buah.

Agar biji berbuah, maka perlu lahan yang cocok, nutrisi yang baik, cahaya, perawatan dan banyak lagi.Kadang orang mengatakan bakat kala melihat yang sudah jadi buah. Misal : Susi Susanti jago main bulu tangkis. Iya sih dia berbakat. Disini sudah jago, sudah jadi buah (hasil) yang disebut bakat. Saat Susi Susanti belum apa-apa, adakah yang menyebutnya berbakat?

Talent itu ada dua unsur:
1. Subyeknya (orang)
2. Obyeknya ( sifat/karakteristik)

Talent/bakat inheren dalam diri kita. Terinstal bersamaan dengan penciptaan kita. Seperti prajurit yang diturunkan ke medan perang, tentu dengan perlengkapan berupa senjataSeperti dokter yang bekerja, tentu dengan stetoskopnya. Bakat itu tak terpisahkan dengan diri kita. Makanya tak ada istilah tak punya bakat. Semua orang berbakat.

Bagaimana ciri bakat?

Menurut Clifton ada beberapa ciri:
Spontanitas: reaksi alami karena adanya hubungan mental yang kuat.
Nagih : rasa suka yang amat kuat.
Mudah dipelajari : sesuatu yang sesuai bakat mudah dipelajari
Merasakan kepuasan : ada bahagia kalau melakukannya.

Bakat adalah pola pikir, perasaan dan perilaku alamiah yang muncul berulang-ulang dan bisa dimanfaatkan secara produktif. Kuncinya : Produktif.

Mengenal Potensi Diri Dengan Talent Mapping

Talent Mapping diadaptasi dari penelitian Gallup. Ada 1,7 juta karyawan serta 10.000 manajer dari berbagai industri selama 30 tahun yang akhirnya teridentifikasi sifat produktifnya. Talents sebagai sifat produktif ini dikembangkan oleh Abah Rama Royani sejak 2002 sehingga talent mapping ini menjadi asesmen yang menghasilkan output berupa 34 urutan tema bakat 114 potensi kekuatan, 30 strength typologi dan 5 personal branding.

Talent mapping merupakan self discovery assessment, pertanyaan atau pernyataan dalam talent mapping mencakup :
Apakah saya mengenal diri saya
Apakah saya sudah memahami diri saya dengan baik
Apakah saya sudah menjadi diri saya sendiri

Jadi sasaran talent mapping adalah seseorang yang sudah mengenal dirinya. Kurang akurat bagi yang minim aktivitas atau yang monoton kegiatannya. Disarankan bagi anak usia 14 tahun, atau yang sudah mampu melakukan penilaian dan evaluasi diri sendiri.

Bagaimana untuk anak dibawah usia 14 tahun, bisa tapi dengan dipandu oleh orang tuanya. Tapi lebih baik untuk anak dibawah usia 14 tahun dengan Pandu 45 yang dikembangkan oleh Bu. Septi dan Pak. Dodik. Kuncinya untuk anak-anak adalah aktivitas yang beragam dan pengamatan orang tua.

Apakah Talent mapping bisa diaplikasikan untuk orang yang sudah tua. Bisa banget. Hanya memang standar minimal usia 14 tahun. Maksimalnya tak terhingga. Talent Mapping tidak mengubah orang tetapi mengembalikan fitrahnya.

Mengenal 34 Tema Bakat

Tema bakat adalah kata yang mewakili semua sifat produktif manusia. Ada yang berupa kata benda , ada yang berupa kata sifat. Sekedar contoh : Command /Pengendali, senang menjadi penanggung jawab dan kadang terlihat suka mendesak /memaksa untuk mengikuti caranya dalam melakukan sesuatu dan tidak akan berhenti sampai dia puas dengan hasil kerjanya.

Kumpulan bakat yang dominan, ada dalam peta bakat yang sebarannya di kelompokkan menjadi 4:

1. Striving
2. Thinking
3. Influencing
4. Relating

Aktivitas, Potensi Kekuatan dan Kekuatan

Sifat yang merupakan bakat jika disalurkan lewat aktivitas yang relevan akan menjadi potensi kekuatan.
Contoh :Sifat : Senang mengkomunikasikan pikirannya.
Aktivitas (potensi kekuatan) Mengajar,memotivasi, melayani,memandu
Peran : Guru, Konsultan, Penasehat

Agar bisa mengenal bakatnya, perlu melakukan berbagai aktivitas. Potensi kekuatan yang diasah dengan melakukan aktivitas, belajar, ilmu dan skill yang relevan akan menjadi Kekuatan

Strength Typologi dan Personal Branding

Dalam talent mapping ada 30 tipe. Tipologi ini menggunakan kata benda yang sebenarnya merupakan kumpulan peran. Biasa kita kenal ST30, yang bisa kita akses di www.temubakat.com. Kumpulan peran ini disimpulkan menjadi personal branding yang merupakan saran atas keunikan diri seseorang dan bisa dikembangkan secara produktif. Personal branding adalah kumpulan aktivitas yang selaras dengan bakat. Misal nih educator, aktifitasnya sebagai pendidik tentunya akan lebih baik dan membahagaikan jika sang educator ini mempuayai bakat yang terkait, misal comunication, empathy, developer, input dan learning.

Penutup

Bekerja dengan bakat tentu lebih enjoy, easy, earn dan excellent daripada tanpa bakat. Senyum saja, bisa membedakan seseorang berbakat atau tidak. Seseorang yang punya bakat positivity ketika dilatih untuk excellent service tentu akan mudah tersenyum dan ramah dengan ajeg dibanding yang tidak berbakat. Sama- sama dilatih senyum, yang bertahan lama dan enak dilihat akan berbeda.

Jadi yuk mari mengenal potensi diri dengan talent mapping agar hidup bahagia dan lebih berarti.





Referensi:

Catatan Basic Training Talent mapping 101 Oase batch 2

Buku Talent Mapping, Inspirasi untuk Hidup Lebih Asyik dan Bermakna : Abah Rama Royani

Tami Asyifa
Seorang ibu dengan 7 anak, saat ini sedang menikmati menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya tapi tetap produktif. Pendidikan dan literasi adalah bidang yang menarik baginya.

Related Posts

15 komentar

  1. Serasa ada di kelas Bunda Produktif dan kelas Bunda Sayang. Bener gak ya? Soalnya waktu itu diminta isi tes Minat dan Bakat ST30 ini. Tapi yang ini penjesannya lebih kena. Enak bacanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Yes Mbak. Lebih lengkap kalau ikutan assement TM, ada 34 bahasa bakat yang akan tergali. Kalau ST30 aktifitas yang terkait bakat.

      Hapus
  2. Menarik bahasannya mba 😍
    Aku baru tau kalau dr senyum ternyata bisa melihat bakat nggak nya seseorang..

    Hmm apakah senyumanku termasuk ke dlm golongan org² berbakat mba?? 🤭

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau bakat, bawaannya gampang tersenyum dan tulus.

      Hapus
  3. Masih penasaran dimana bisa tes talent mapping bu Tami? Akhir-akhir ini aku lumayan makin mengenali diri, tapi belum pernah tes potensi diri dengan talent mapping. Kepo juga ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ada banyak mbak. Bisa goggling praktisi talent mapping. Ntar dibisikin di belakang.

      Hapus
  4. Flashback jadi siswa bun profesional, ngisi-ngisi 34 tema bakat diri yang seru untuk digali. Bunda tami assesornya TM kah?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum mbak. Baru ikutan basic training saja. Kalau baca hasil ST30 dan tema bakat sih bisa aja. Tapi blm berhak jadi assesor.

      Hapus
  5. My career my passion, jadi ingat ini, hihihi. Oke bun, mulai sekarang akan melatih banyak senyum yang enak dipandang. Mentang-mentang pakai masker terus senyumnya dikulum. hehe.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baiklah, lanjutkan. Senyum adalah sedekah paling mudah.

      Hapus
  6. Kalau ada kelas asah talent, aku mau ikutan beneran deh, lingkunganku skrg rasanya kurang mndkung hihi
    Di usian 20an sekarang ini aku masih labil banget dan tidak punya tujuan istilahnya 😅
    Aku belum kenal dengan diri sendiri.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama kek aku dulu kak yulia, meski sampai sekarang pun aku mencoba untuk menggali potensiku. Tetap saja ada hal-hal yang tidak sesuai dengan prediksi.
      Tapi aku berkomit untuk terus melakukannya secara pelan-pelan dan konsisten.
      Butuh banget mentor yng bisa mengarahkan.

      Hapus
    2. Cara sederhananya, tulis semua kegiatan yg sudah pernah kita lakukan. Semakin banyak ragam kegiatan dan berulang semakin baik. Lalu pilah mana yang bisa dan suka, tidak bisa tapi suka tidak suka tapi bisa dan tidak bisa dan tidak suka. Setelah mengerucut mana yang paling kita suka, gampang dilakukan ,hasilnya bagus dan membuat kita bahagia.

      Hapus
  7. Ketika pertama ikut nyemplung ke dunia tulis menulis, sempat bertanya-tanya pada diri sendiri, apakah ini bakat dan potensiku. ternyata memang butuh waktu ya untuk menyadari apa bakat dan potensi kita

    BalasHapus
  8. Relate banget dengan kondisi saya sekarang mbak, saya mulai meraba kembali mana yang membuat saya easy & enjoy dan semoga bisa excellent lalu earn, produktif.

    BalasHapus

Posting Komentar