A directory

Tema Kultural Dalam Karya Sastra: Mengikat Makna Lokalitas

21 komentar

 

Gelar wicara tema kultural dalam karya sastra

Assalamu’ alaikum Readers 
Berawal dari sebuah lomba, berujung pada acara gelar wicara tema kultural dalam karya sastra, seperti itulah awal perjalanan hingga aku bisa hadir di acara ini. Bermula dari ajakan seorang teman untuk ikut lomba resensi karya sastra sastrawan Kalimantan Timur – Kalimantan Utara yang diadakan Kantor Bahasa Kalimantan Timur dalam rangka bulan bahasa, membuatku jatuh cinta pada budaya lokal pulau Kalimantan. Saat itu aku langsung memburu karya sastrawan Kalimantan Timur-Utara (Kaltimtara) dan membuatku terpukau. Daya tariknya luar biasa untuk menyelam lebih dalam lagi. Terlebih kehadiran suku-suku asli kalimantan yang tak begitu saja bisa dijumpai di kota-kota besar tempat dimana aku pernah tinggal selama perantauanku.

Ada rasa sesal, sekian tahun berada di Pulau Kalimantan, tak juga membuatku mengenal budaya setempat dengan baik. Ada rasa bersalah, puluhan tahun menjadi pendatang membawa warna lain di wilayah ini sehingga tak mampu melihat warna lokal nan eksotis. Maka hadir di acara ini adalah muara dari pencarian.

Rundown Acara

Acara gelar wicara : Sastrawan Daerah dan Penjelajahan Tema Kultural yang diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Kalimantan Timur dengan tagline “ Menjalin Indonesia dari Kalimantan Timur” ini berlangsung tepat dua belas hari sejak aku kembali menjadi warga Kalimantan Timur lagi setelah menjelajah Kalimantan Utara. Tak ada perbedaan signifikan sih, secara Provinsi Kalimantan Utara adalah adik dari Provinsi Kalimantan Timur, beberapa lembaga pemerintahan pun masih bergabung, termasuk wilayah kerja kantor bahasa.

Berdurasi hampir empat jam, rentang waktu yang panjang untuk sebuah acara online. Sungguh tak membosankan menyimak event ini, karena acara demi acara disajikan secara apik. Diawali dengan memperkenalkan sejarah dan kiprah Kantor Bahasa Kalimantan Timur oleh para duta literasi, anak-anak muda yang keren banget, lalu pengumuman lomba dalam rangka bulan bahasa dan sambutan kepala kantor bahasa, selanjutnya acara inti gelar wicara yang menghadirkan tiga sastrawan Indonesia yaitu :
  1. Ibrahim Gibra, penulis antologi sajak “Karang Menghimpun Bayi Kerapu” , pemenang anugerah hari puisi Indonesia 2016 dan Anugerah karya sastra 2018 yang juga seorang Guru Besar Antopolinguistik Fakultas Ilmu Budaya Universitas Khairun Maluku Utara
  2. Hasan Asphani, penulis , penyair dan jurnalis Indonesia yang berasal dari Handil Kutai Kartanegara dengan bukunya “ Pena Sudah Diangkat , Kertas Sudah Mengering” ini mendapat penghargaan sebagai buku puisi terbaik anugrah hari puisi 2016. Saat ini masih menjabat Wakil Pemimpin Redaksi Surat Kabar Harian Batam Pos juga mengelola majalah online “Mata Puisi”
  3. Raudal Tanjung Banua, alumni Jurusan Teater ISI Yogjakarta ini adalah sastrawan puisi dan cerpen juga penulis essai. Kini ia mengelola Komunitas Rumah Lebah Yogjakarta, Penerbit Akar Indonesia dan Jurnal Cerpen Indonesia
Dimoderatori dengan sangat baik oleh Aminudin Rifai dari Kantor Bahasa Kalimantan Timur, sungguh event ini sangat sayang untuk dilewatkan. Meski tak terdokumentasikan dari awal acara, namun acara inti gelar wicara ini masih bisa diakses pada disini. 

Sekilas Tentang Kantor Bahasa kalimantan Timur

Kantor Bahasa Kalimantan Timur berkedudukan sebagai pelaksana tugas tertentu dalam Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, berada di bawah pembinaan dan tangung jawab Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Berdiri sejak tahun 2008, saat ini Kantor Bahasa Kalimantan Timur dipimpin oleh Bapak Drs. Anang Santosa, M.Hum.

Sejarah Pendirian Kantor Bahasa Kalimantan Timur

Pada tahun 1999, Himpunan Pembina Bahasa Indonesia mengadakan seminar kebahasaan di Samarinda. Dalam kegiatan ini Dr. Dendy Sugiono dari Pusat Bahasa mengusulkan dibentuknya Kantor Bahasa Kalimantan Timur. Gayung bersambut, usulan itu segera ditindaklanjuti oleh koordinator pemasyarakatan bahasa di Kalimantan Timur yang diketuai oleh Drs. Syafuddin Pernyata, M.Hum yang kala itu menjabat sebagai Kepala Biro Humas Sekretariat Daerah Provinsi Kalimantan Timur.

Bersama dengan Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) Kalimantan Timur dengan ketuanya Drs. Mursalim, M.Hum rintisan Kantor Bahasa diajukan kepada Pusat Bahasa Badan Pengembangan Bahasa Kemendiknas. Keluarlah surat keputusan pendirian empat kantor bahasa , satu diantaranya Kantor Bahasa Kalimantan Timur yang beralamat di Jl. Batu Cermin nomor 25 Sempaja Utara Samarinda – 75119
Telp. 0541. 250256
Email: kantorbahasakaltim@kemendikbud.go.ig

Visi dan Misi

Sebagai daerah dengan beragam suku yang mendiaminya, selain suku asli seperti Lundaye, Tidung, Tenggalan, Banua, Pasir dan Kutai juga suku pendatang seperti Banjar, Jawa, Bugis dan lainnya membuat ragam bahasa di Kalimantan Timur sangat tinggi. Selain konsen pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia, lembaga ini juga aktif membina sastra daerah Kalimantan Timur.

Visi dan misi yang diemban antara lain, meningkatkan mutu kebahasaan dan pemakaiannya, meningkatkan keterlibatan peran bahasa dan sastra dalam membangun ekosistem pendidikan dan kebudayaan, meningkatkan keterlibatan para pemangku kepentingan dalam mengembangkan, pembinaan, dan perlindungan bahasa dan sastra, meningkatkan peran aktif diplomasi dalam internasionalisasi kebahasaan.

Tugas pokok

Melakukan kajian bahasa dan sastra, pemetaan bahasa dan sastra, pemasyarakatan bahasa dan sastra, memfasilitasi pelaksanaan kajian bahasa dan sastra, juga penelitian dan pengembangan bahasa dan sastra baik Indonesia maupun sastra daerah. 

Tema Kultural dalam Karya Sastra

Peserta zoominari gelar wicara
Sebanyak 200 peserta yang tertera sebagai partisipan pada aplikasi zoom, acara ini dibagi menjadi tiga sesi. Setelah rangkaian pengenalan kantor bahasa dan perannya dalam kebahasaan di Kalimantan Timur serta aneka hiburan dan pengumuman pemenang, dua jam berikutnya adalah sesi gelar wicara. Dibuka oleh moderator Bapak Aminudin Rifai dengan mengenalkan para pembicara yang akan mengisi acara gelar wicara. Langsung kita simak ya ...!

Sesi 1. Eksplorasi Kultural oleh Ibrahim Gibra

Ibrahim Gibra merupakan nama pena dari Prof. Gufran A. Ibrahim seorang guru besar pada Universitas Khairun Ternate yang juga sastrawan. Dalam paparan singkatnya, beliau menjelaskan bahwa ekplorasi kultural merupakan penjelajahan untuk menemukan kosa kata daerah yang khas dan membuatnya menyublim dalam karya sastra. Lebih lanjut digambarkan dengan sebuah bagan yang berjudul “Kontinum Penjelajahan Kultural". Ketika peristiwa alam dan peristiwa kultural berpadu akan terbaca sebuah teks budaya. Setelah mengalami kontemplasi mendalam ditemukanlah kosa kata budaya yang dapat diolah dan diletakkan dalam kerangka puitika, selanjutnya tinggal meranumkan daya puitika sehingga menjadi sajak atau puisi berlatar lokal.
Skema penyubliman kosa kata lokal

Dicontohkan dengan sebuah puisi karya Ibrahim Gibra yang berjudul “ Di Lautmu Bersulam Tali Lelaki dan Tali Perempuan” sajak untuk Halida dan Betly. Sedikit cuplikan dari bait sajak itu, aku tuliskan di sini
Buheka se Nau
Itu tali lelaki tali perempuan
Menulis angan musim pada layar
Yang membawa kisah tentang
Ketegakan dan keseimbangan
Yang tengah adalah laki-laki
Yang seimbang adalah perempuan
Dan layar pun terus menulis angin musim

Buheka kau tali laki - laki
Nau kau tali perempuan
Tali-tali menari mencari tepi
...

Dari contoh puisi di atas, Ibrahim menyematkan kata Buheka dan Nau sebagai kosa kata daerah yang menyublim dalam kerangka puitikanya sehingga lahirlah karya sastra berlatar budaya lokal. 
Contoh karya puisi bertema lokal

Sebagai warga daerah kepulauan Maluku, beliau melihat tradisi berlayar yang sudah mendarah daging. Pergumulan dengan tradisi ini membuatnya mampu membaca peristiwa kultural budaya bahari dan menemukan teks budaya. Kontemplasi yang mendalam digunakan untuk merubah teks budaya itu menjadi kosa kata budaya yang apik. Buheka dan Nau contohnya . Buheka merupakan tali layar pada perahu yang tegak, tugasnya mengembangkan layar sedangkan Nau adalah tali layar yang horisontal yang berfungsi menyeimbangkan. Pada budaya bahari masyarakat Maluku Buheka disebut tali laki-laki dan Nau, tali perempuan.

Kemampuan membaca teks alam dan teks budaya yang kuat, berlanjut pada proses terjadinya sublimasi kosa kata lokal dalam daya puitikal, selanjutnya tinggal mematangkan kosa kata itu dalam bahasa Indonesia lalu menjadi sajak-sajak bertema kultural. Buheka dan Nau , sebuah tali layar perahu yang melahirkan sajak tentang kosmopolitan laki-laki dan perempuan.

Satu lagi sajak karya Ibrahim Gibra yang dipaparkan dalam acara ini : “Dan Camar Pun Cemburu” . Berikut cuplikannya:

Doa-doa saihu, lelaki berkaki laut
Mengantar masanae
Memetik ombak
Boi-boi meredam air
Lalu ikan-ikan seperti serdadu
Kehilangan senjata
Sampai camar pun
Tumpah cemburunya di ujung ombak

...
Saihu adalah pemimpin kultural nelayan Maluku, Masanae adalah perahu komunitas nelayan Maluku Utara, sedangkan boi-boi adalah awak khusus menebar umpan. Keren juga ya tema kultural dalam puisi di atas.

Sesi 2. Hasan Asphani, Tema Lokal Yang Kuat

Alumni SMA Negeri 2 Balikpapan yang sudah menebar karya di berbagai media ini merupakan sastrawan asli Kalimantan Timur yang justru berdomisili di Pulau Batam. Menurut Hasan Asphani ada dua penyair Kaltim yang tercatat konsisten mengangkat tema kultural yaitu Korrie Layun Rampan dan Ani A.S. Nama Ani A.S sendiri merupakan nama pena, kalau tidak salah beliau merupakan pejabat di Samarinda yang bernama Ahmad Rizani Asnawi. Saat sama-sama kuliah di UGM inilah, antara Korrie dan Ani AS terjalin hubungan yang sangat dekat sehingga Ani A.S mulai menulis puisi dan dibukukan oleh Penerbit Puisi Indonesia milik Sapardi Djoko Damono.

Tema lokal yang kuat akan mampu mencapai makna universal jika berbahan lokal yang dihayati. Berbekal dari tema lokal, sebuah karya sastra akan dikenal meski tema dan kosa kata itu tidak ditemukan di tempat lain. Bukan hanya warga lokal yang diharapkan mengenal atau memahaminya, bisa jadi justru orang luar daerah yang berusaha mengenal dan memahaminya. Contoh yang kekinian adalah lagu karya Didi Kempot, meski berbahasa Jawa, banyak orang di luar Jawa yang berusaha memahami dan menyanyikannya. Pun dalam karya sastra lainnya seperti puisi atau cerpen.

Tema lokal tidak bisa dipindah tempatkan dan hanya terjadi pada wilayah itu, jika ditulis dengan setting tempat yang berbeda maka jalan ceritanya pun akan berubah. Seperti novel Api Awan Asap karya Korrie Layun Rampan, jalan cerita serta setting tempatnya khas suku Dayak di Sendawar dan sekitarnya. Setting ini tak sekedar tempelan, tapi setting yang sangat kuat dalam jalinan kisah yang diangkat dan hanya ada di tempat itu. Tidak bisa diubah. Begitu pun beberapa kosa kata di dalam cerita ini, khas kosa kata suku Dayak.

Lebih lanjut Hasan menuturkan , bahwa setiap penulis mempunyai rumah tempat pijakan karya-karyanya. Rumah ini disebut rumah budaya. Rumah budaya itu bisa jadi budaya lokal atau kultur setempat dimana penulis berada. Bisa juga tempat lain yang penulis kenal dan selami dengan baik. Beberapa daerah di Indonesia mempunyai lokalitas yang kuat seperti Sumatera Barat, terlihat dari banyaknya karya sastra bertema kultural masyarakat Sumatera Barat, bakan sejak jaman pujangga terdahulu. Bali, dengan kultur yang luar biasa kuatnya bahkan sampai terkenal di manca negara. Sulawesi Selatan atau Makasar dan Lampung yang sudah mulai menemukan jati diri lokalitas pada karya sastra tentangnya. 

Sesi 3. Raudal Tanjung Banua, Antara Kultural dan Universal

Pemaparan Raudal diawali dengan kasus Novel “Orang Timor” karya Felix yang sempat menjadi kontroversi pada penilaian dewan juri di Dewan Kesenian Jakarta. Pasalnya fiksi etnografis seperti ini justru berada pada lokus keterkungkungan sehingga melawan universalitas sebuah karya.

Bang Raudal dalam tema lokalitas juga mengambil contoh karya sastra Gus tf Sakai yang sarat akan tema lokalitas. Kontroversi lokalitas yang belum berujung pada universalitas sebenarnya tak perlu ada. Gus tf Sakai misalnya, meski sering mengangkat tema lokal, namun tak terbatas pada satu wilayah tertentu. Gus tf  Sakai mampu meloncat ke berbagai wilayah di Indonesia dalam karya-karyanya. Mengunakan nama pena Gus tf Sakai dalam cerpen maupun novel, dan Gus tf  dalam puisi merupakan salah satu strateginya memaknai lokalitas. Sakai yang disematkan pada namanya adalah kosa kata suku pedalaman di Sumatera. 

Dalam 6 karya kumpulan cerpennya Gus tf Sakai mengambil tema lokalitas yang berbeda. Hal ini merupakan upaya menolak lokalitas sempit versi Gus tf Sakai. Dengan sebuah kajian referensial pada sebuah akar lokal yang mendalam terciptalah cerpen-cerpennya menjadi jalinan karya sastra unik dengan tema lokal, apik dalam penyajian dan universal. Inilah ketrampilannya dalam mengolah bahan, padat seperti kemampuannya memampatkan waktu. Gus tf Sakai juga berusaha selalu mengangkat tema lokalitas Minangkabau tepatnya pada sebuah daerah di Payah Kumbuh, tempat ia tinggal dengan sangat apik. Pada cerpen " Laba-laba", misalnya, ia menggambarkan jaring laba – laba dan sebuah unsur lokal kisah masyarakat Minang . Lalu cerpen " Ziarah", bercerita tentang lokalitas spiritual Minang, seperti diketahui Minang merupakan entitas Muhammadiyah terbesar di Indonesia sementara ziarah di sini pastinya akan berbeda dengan tradisi ziarah masyarakat NU di Jawa. Yap, itulah lokalitas Gus tf Sakai. 

Dunia pariwisata di Tanah Toraja digambarkan dengan pada sebuah cerita yang mengisahkan tentang peti mati masyarakat Tanah Toraja yang bernilai tinggi. Karena mahalnya harga peti mati itu sampai ada upaya untuk menjualnya pada wisatawan manca negara. Gus tf Sakai menyematkan kosa kata lokal potnga ngatako, sebagai tema kultural yang muncul dengan sendirinya. Kata Potnga Ngatako sendiri justru kurang familier pada masyarakat Toraja. Itulah keunikan Gus tf Sakai. Begitu pula pada cerpennya yang berjudul Umarah, menceritakan masa transisi peralihan kekuasaan di Timor Timur, dan banyak karya Gus tf Sakai lainnya yang bertema kultural. Ia adalah orang yang bebas berkelana ke wilayah-wilayah etnik lainnya dalam berkarya sehingga makna lokalitas dalam karyanya menjadi universalitas. 

Sayangnya sesi Bang Raudal tidak berlangsung dengan baik karena jaringan yang tidak mendukung sehingga sering putus sambung, bahkan beberapa kali blank sehingga materi tidak dapat dicerna dengan baik.

Penutup

Tema lokal dalam karya sastra harus dikemas dengan baik sehingga lokalitas ini tidak melawan universalitas karya. Mengusung tema kultural bukan berarti hanya bisa dilakukan oleh sastrawan daerah atau orang setempat tapi oleh orang yang mampu mendalami budaya suatu daerah dengan baik meski tidak berasal dari wilayah itu. Gunakan referensial akar budaya lokal yang tajam dan mendalam agar karya bertema kultural tidak sekedar tempelan. Maka tema lokalitas akan hadir dengan sendirinya.

Event ini sangat menarik, membuka wawasan akan budaya daerah yang beragam, unik dan orisinil. Harapannya akan ada acara semacam ini lagi, terutama jika berlanjut dengan workshop penulisan bertema lokalitas suatu wilayah. Seru pastinya. Terima kasih Kantor Bahasa kalimantan Timur, semoga tetap menjadi yang terdepan dalam pengembangan bahasa dan sastra Indonesia. Semangat !



Tami Asyifa
Seorang ibu dengan 7 anak, saat ini sedang menikmati menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya tapi tetap produktif. Pendidikan dan literasi adalah bidang yang menarik baginya.

Related Posts

21 komentar

  1. kental sekali kulturalnya ya mbak, aku pun waktu merantau ke kalimantan barat hanya sedikit mengenal budayanya, lebih sering wisata airnya dan ngeluhnya karena di sana gak ada McD 😅🙈

    BalasHapus
    Balasan
    1. Dua tahun di Nunukan lebih kultural lagi. Nggak ada Mall. Makanya dibela-belain ke Tawau biar ketemu McD sama KFC... 😃😃😃 skrg di Samarinda anak-anak lagi eforia dua tempat makan itu.

      Hapus
  2. Masyallah, aku sampe merinding bacanya. Bukan karena takut, tapi artikel ini berwawasan banget. Bisa mengenal kultur dan bahasa daerah lain. Aku kurang piknik, nih, pahamnya cuma seputar Jawa.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Jawa juga luar biasa kultural nya. Kuat banget, sampai banyak kosa kata yang tak ada padanannya dalam bahasa manapun.

      Hapus
  3. Membaca ulasan ini serasa di sadarkan betapa kayanya Indonesia dengan segala kulturnya, termasuk budaya dan sejarah literasi lokalnya. Keren, jadi ingin berpesiar ke kalimantan sembari belajar tentang kebudayaannya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bener banget, Indonesia kaya ragam budaya. Kekayaan tema kultural yang harus dilestarikan.

      Hapus
  4. sastrasekali ya...keren abis budaya Indonesia...jd lbh mengenal kalimantan.

    BalasHapus
  5. Di Jawa barat ada gak yg kek ginian? Hehe apa aku nya yg kudet.
    Iri banget sama Kalimantan timur yg menjujung tinggi sastra

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mepet ke Kantor Bahasa setempat mbak atau ke pusat budaya. Pasti banyak acara bertema budaya.

      Hapus
  6. Seru banget nih kayaknya, aku jadi tertarik pengen belajar culture daerah lain!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hayuk, Sama-sama belajar. Biar rasa Indonesianya semakin besar.

      Hapus
  7. Memahami budaya lewat sastra itu sungguh menantang dan menyenangkan. Senang sekali ya jika banyak event-event berkualitas seperti ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sekian lama baru merasakan event kayak gini. Aih kemana saya aku tuh.

      Hapus
  8. Puisinya indah banget mba. Memang ada kesan tersendiri jika menyematkan unsur budaya lokal dalam sastra. Keindahannya unik dan magis

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mereka sastrawan nasional mbak, sudah sering dapat penghargaan. Keren ya.

      Hapus
  9. Masya Allah selalu terpukau dengan tulisan mbak tami, detail dan selalu menawarkan warna yang kental. Itu puisinya juga keren parah salut sama pesertanya ..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mbak. Saya juga suka tulisan - tulisan mbak.

      Hapus
  10. Baca artikel ini mendadak jadi teringat kuliah sastra.. kangen kuliah euy..

    BalasHapus

Posting Komentar