A directory

Menaklukan Bukit Bendera, Menikmati Indahnya Panorama

2 komentar


Bukit Bendera dari kejauhan


Assalamu’alaikum Readers 

Tetap semangat kan menjalani hari-hari di masa pandemi, meski hampir setahun ini kita harus di rumah saja serta akhir tahun tanpa liburan? Mengenang penjelajahan ke Bukit Bendera beberapa bulan lalu sebelum pindah ke Samarinda, masih membuatku tetap semangat dan bahagia di masa liburan akhir tahun meski hanya di kamar dan di depan laptop. Blogspedia bisa aja ngepasin tugas akhirnya dengan masa liburan yang tak bisa kemana-mana euy. 

Bukit Bendera adalah salah satu tempat yang ditemukan karena bakat penasaran jika berada di suatu daerah, bakat sejak kanak-kanak yang selalu pengen tahu ujung suatu jalan. Bakat penasaran dan selalu ingin tahu ini rupanya menurun juga pada bungsuku, jadilah dia teman menjelajah yang asyik. Penjelajahan kali ini berawal ketika kami keliling - keliling kota Nunukan beberapa hari setelah kasus covid19 tuntas di kota kami. Yah, kota kecil Nunukan beberapa saat pernah mengalami zona hijau setelah sebelumnya zona merah, meski kini khabarnya sudah kembali merah lagi. 

Hingga sampailah di suatu jalan yang menanjak di sekitar kantor kecamatan Nunukan. Ketika sampai atas, kami sangat takjub dengan pemandangan di depan sana. Birunya laut dan hamparan pulau - pulau begitu memikat mata. Pulau Sebatik terlihat begitu dekat. Dan yah disebelahnya itu, pasti Negeri Sabah Malaysia Timur. Dengan binar mata bahagia, kami menceritakan pemandangan yang kami temui pada anggota keluarga yang lain. Tapi Sulung kami sambil tersenyum menanggapi: 

"Bunda belum tahu sih, ada tempat tertinggi di Nunukan ini yang pemandangannya ke segala penjuru." 
"O ya, dimana itu? " 
"Namanya Bukit Kapur, aku pernah diajak ke sana sama teman-teman kantor Abi waktu Bunda ngantar adik ke Jawa kemarin. " 

Rasa penasaran itu membuat hari-hari libur digunakan berkeliling kota Nunukan mencari Bukit Kapur. Google maps diulak- alik, tak ada petunjuk. Hingga pada suatu hari, saat aku diundang untuk mengisi pengajian di suatu daerah, Bukit Cinta namanya. Dari sinilah, kuperoleh petunjuk keberadaan Bukit Kapur itu. 

Jalan menuju puncak

Saatnya Berpetualang ke Bukit Bendera 


Apa sih menariknya tempat ini? Bagi kami yang suka menjelajah alam, setiap tempat baru pasti punya sesuatu yang menarik dan unik yang tak bisa dijumpai di tempat lain. Meski tak terlalu tinggi dan medannya juga lumayan mudah didaki, namun sensasi menuju puncak tertinggi di pulau kecil ini luar biasa. Pemandangannya juga cukup menyegarkan mata, hijaunya hutan sekunder berpadu dengan hamparan birunya laut serta jajaran pulau-pulau nan elok. 

Dari atas bukit kita bisa melihat kota kecil Nunukan, jalan yang berkelok, perumahan yang nampak kecil-kecil dan menara-menara masjid yang menjulang. Bagi kami yang tinggal di pulau kecil ini dengan akses keluar yang terbatas karena pandemi, semua ini hiburan banget. Apalagi tempat wisata di Pulau Nunukan ini terbatas sekali. 

Lokasi dan arah menuju tempat ini 


Bukit yang terletak di kelurahan Selisun Kecamatan Nunukan Selatan ini biasa disebut bukit kapur karena tanahnya yang berwarna putih seperti kapur meski nama resminya bukit Bendera. Jalur resmi dari alun-alun kota Nunukan, menuju jalan ke arah pasar pagi lalu belok ke Jalan Rimba, lurus hingga masuk Jalan Fatahillah melewati SMA Negeri 1 Nunukan. Sampai di ujung jalan Fatahillah, jalurnya masih cukup mulus karena jalur utama dan beraspal, setelahnya akan masuk jalan tanah dan berbatu melewati kawasan pertanian. Semakin lama jalurnya semakin menyempit tapi masih cukup nyaman jika dilewati motor. Setelah menemukan tanjakan yang cukup tinggi, sampailah kita di kaki bukit 

Waktu yang dibutuhkan untuk sampai ke bukit kapur ini tak terlalu lama, sekitar 30 menitan dari alun-alun kota. Cukup terjangkau dan cocok dijadikan tempat wisata sekaligus olah raga. Biasanya pesepeda yang akhir-akhir ini sedang ngetrend menjadikan tempat ini salah satu tujuan atau tempat persingahan. 

Jalur yang lain pun ada, jalur Bukit Cinta. Dari Alun-alun kota masuk ke Jalan Pangeran Antasari lalu naik ke Bukit Cinta, di ujung jalan Bukit Cinta sensasi petualangan akan lebih terasa karena melewati hutan kecil bersemak-semak dengan jalan tanah berkerikil sepanjang hampir dua kilometer. Lalu berlanjut melalui jalan tanah setapak hingga sampai di persimpangan dekan gereja di kampung Tanah Toraja (Tator) , setelah itu masuk menuju jalan ke arah bukit kapur. 

Kapan bisa datang ke tempat ini? 


Sebagai tempat wisata yang masih perawan, masih belum ada jam buka atau tutup secara terjadwal. Setiap saat kita bisa datang ke bukit ini sekedar jalan-jalan melihat pemandangan atau olah raga. Di pintu masuk sebenarnya ada pos penjagaan, yang memungut kontribusi sebesar Rp. 2000 rupiah per orang, namun jarang ada yang menjaganya. Jadi kita bisa keluar masuk begitu saja. 

Jika kita ingin menikmati sunrise maka datanglah di waktu pagi sekitar pukul 06.00 Wita, maka kita bisa melihat matahari mulai terbit dari arah timur, menyembul dari balik Pulau Sebatik. Sedangkan jika kita ingin menikmati sunset, maka datanglah di waktu sore saat matahari menuju peraduan di balik pulau Kalimantan. 

Fasilitas yang tersedia 


Belum banyak fasilitas yang tersedia jika kita ingin berwisata ke tempat ini terutama fasilitas toilet. Tapi untuk sekedar duduk menikmati pemandangan ada beberapa tempat duduk dari papan kayu, juga tempat berfoto ria yang instagramable. Beberapa gazebo belum selesai dibangun, sepertinya terhambat karena pandemi ini. Bagi yang ingin camping, tersedia juga camping ground yang cukup luas, berupa tanah lapang berumput dikelilingi pepohonan. Tarif bagi yang berkemah di tempat ini sebesar Rp.30.000,- semalam. 

Panorama dari atas bukit

Keseruan Munuju Bukit Kapur lewat jalur bukit cinta 


Sore itu selepas ashar, dengan mengendarai motor berdua si bungsu yang antusias ingin jalan-jalan, aku berangkat menuju Bukit Kapur. Saat itu masih belum tahu ada jalur resmi yang jalannya mulus hingga kampung Tator, jadi lewat jalur Bukit Cinta saja. Setelah jalan tanah berbatu dengan hutan kecil bersemak, sampailah kami disebuah perkampungan kecil dengan jalan tanah setapak. Sampailah kami ditengah jalan sempit, ada lima ekor anjing yang menghadang dan menyalak di depan kami. Kelima ekor anjing itu menyalak bersaut-sautan. Sementara dari arah lain dua anjing lagi datang mendekat. Keder gaes! Mau putar balik, jalanan sempit, lanjut tapi nggak berani. 

Detak jantung berpacu kencang, doa-doa dirapalkan. Sejenak menyesali kenekatan, tapi sudah kepalang tanggung. "Ayo Bun, terjang aja," kata si bungsu menyemangati. Takut, nanti kalau jatuh bakalan dikeroyok sama anjing-anjing itu. Hingga beberapa saat setelahnya, dari arah depan kami seorang pemotor yang membawa air galon melaju dan mengusir anjing-anjing itu. "Lewat aja Bu, " serunya. 

Setelah mengucap terima kasih kami melaju. Syukurnya setelah jalan sempit itu, kami menemukan jalan yang lumayan lebar. Beruntung juga ada petunjuk jalan yang terpasang di persimpangan jalan sehingga arah ke Bukit Kapur lebih jelas dan mudah diikuti. 

Setelah jalan lebar melewati ladang penduduk, kembali kami menemui jalan sempit dan menanjak. Lagi-lagi beberapa anjing nampak berseliweran di sepanjang jalan, namun tak segalak tadi. Akhirnya sampailah di kaki Bukit. Tinggal sedikit lagi. Namun kami harus jalan kaki dulu. Jalanan yang sempit dan menanjak itu terlalu ngeri jika dilalui dengan motor. Dan horeeee… . Sampailah di Bukit Kapur atau Bukit Bendera. 

Naik Bukit, jalanan yang menantang dan pengalaman seru serta mendebarkan terobati dengan pemandangan sore di puncak bukit yang sungguh luar biasa. Disambut angin semilir menyejukkan, mata kami tak lepas menikmati pemandangan yang terhampar di depan. Nun di timur sana ada Negeri Sabah dengan perbukitannya yang menjulang. Lalu pulau Sebatik yang nampak jelas membentang di depan mata. 

Di sebelah barat, pulau besar Kalimantan yang menghijau dan di selatan nampak laut Kalimantan dengan latar pulau - pulau kecil terhampar. Sedangkan sebelah utara, terlihat laut yang mengecil masuk ke daratan dan berkelok-kelok bak ular yang membatasi Pulau Kalimantan menjadi dua sebelah, di timur Sabah, sedangkan di barat kecamatan Sei Menggaris kabupaten Nunukan Indonesia. 

Dua orang petualang melonjak kegirangan, rasa penasaran itu terpuaskan sudah. Sesaat sebelum matahari hendak masuk peraduan, kami turun untuk pulang dengan janji akan kembali lagi bersama Abi dan yang lainnya nanti. Sambil berdendang kami menuju tempat parkir motor. Kami sepakat petualangan ini tak terlupakan. 

Insight perjalanan kami 


Selalu ada yang bisa dinikmati dimanapun kita berada, tak perlu berkecil hati tak bisa berlibur atau berwisata keluar kota dan tempat-tempat terkenal di luar san karena pandemi ini. Banyak tempat-tempat indah di sekitar kita, hanya cara kita menikmatinya saja yang harus diubah. Bagi kami, pertualangan ke Bukit Bendera ini tetap menjadi perjalanan yang penuh makna. Sudah seharusnya kita bersyukur apapun keadaan kita, dengan begitu kita akan tetap merasa bahagia. 

Jika readers mendapat kesempatan jalan-jalan ke pulau terluar Indonesia ini, jangan lupa mampirlah ke bukit ini, dari sini kita bisa menikmati indahnya pulau Nunukan dan pulau-pulau lain di sekelilingnya. Tetap semangat! 

Tami Asyifa
Seorang ibu dengan 7 anak, saat ini sedang menikmati menjadi ibu rumah tangga sepenuhnya tapi tetap produktif. Pendidikan dan literasi adalah bidang yang menarik bagiku.

Related Posts

2 komentar

  1. Betul ya, Indonesia tuh ndak ada habisnya untuk diexplore. Sekedar ke perbukitan di daerah terpencil saja bisa membuat berdecak kagum. Baca ulasan Bunda jadi makin cinta sama Indonesia yang indah banget 😍😍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya dong... Pengennya sih jauh-jauh tapi jika belum bisa yang terdekat pun tak jadi masalah tinggal gimana kita menikmatinya. Semangat menjelajah negeri.

      Hapus

Posting Komentar